Artikel Belajar dan Bermanfaat

Pengertian Husnuzan, Fungsi, Manfaat Husnuzan & Contohnya Menurut Islam

Advertisements by Google

Advertisements by Google 2

Pengertian Husnuzan, Fungsi, Manfaat Husnuzan & Contohnya Menurut Islam - Secara etimologi, pengertian husnuzzan berasal dari istilah kata yang terdiri dari dua kata yaitu "husnu" dan "zan" yang berarti "berbaik sangka". 

Sedangkan secara terminologi, pengertian husnuzzan adalah berbagaik sangka terhadap segala ketentuan dan ketetapan Allah yang diberikan kepada manusia. 

Sedangkan sederhana, Husnuzzan dapat diartikan sebagai salah satu bagian dari akhlak terpuji. 

Adapun lawan dari ḥusnuẓẓan yaitu disebut dengan "su’uzzan". Arti dari su'uzzan diartikan sebagai "jahat sangka". Hukum dari melakukan sikap Su’uzzan adalah haram hukumnya. 

Secara sederhana, Su’uzzan diartikan juga sebagai berburuk sangka. Secara etimologi, pengertian Su'uzzan adalah perbuatan yang tidak diperbolehkan disebabkan dapat mengakibatkan permusuhan dan retaknya persaudaraan. 

Pengertian Husnuzzan Menurut Para Ahli

Adapun pengertian Husnuzzan menurut para ahli yaitu: 

1. Pengertian Husnuzzan Menurut Pinandito 

Menurut Pinandito yang menjelaskan bahwa pengertian ḥusnuẓẓan adalah sebuah landasan pokok bagi manusia dalam berpikir positif atas segala peristiwa yang dialami. 

2. Pengertian Husnuzzan Menurut Imam Ja'far Shadiq 

Menurut Imam Ja’far Shadiq mengatakan bahwa pengertian Husnuzzan adalah “Berprasangka baik kepada Allah berarti bahwa kamu tidak boleh berharap kecuali kepada-Nya dan kamu tidak boleh takut terhadap apapun kecuali dari dosa-dosa yang kamu lakukan”. 

Sikap ḥusnuẓẓan dapat melahirkan keyakinan bahwa segala kenikmatan dan kebaikan yang diterima manusia berasal dari kehendak utama Allah. 

Sedangkan keburukan merupakan akibat yang dilakukan manusia sehingga menimpa manusia disebabkan dosa dan kemaksiatannya. 

Tidak seorang pun dapat lari dari takdir yang telah ditetapkan Allah. Tidak ada yang terjadi di alam semesta ini, melainkan yang Dia kehendaki dan Allah SWT tidak meridhai kekufuran untuk hambaNya, Allah SWT telah menganugerahkan kepada manusia kemampuan untuk memilih dan berikhtiar. 

Sehingga seluruh perbuatannya terjadi atas pilihan dan kemampuannya yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian ḥusnuẓẓan mempunyai arti baik sangka, khususnya baik sangka terhadap segala ketentuan Allah sehingga manusia dapat berpikir positif apabila ditimpa kenikmatan atau kesusahan di dalam hidup. 

Sagir menegaskan bahwa setiap manusia perlu untuk berḥusnuẓẓan kepada Allah, Rasul, orang-orang saleh dan sekalian orang mukmin. 

Hal itu dilakukan dikarenakan Allah masih menyembunyikan 4 hal dari makhluk hidupnya. Yang dimaksud 4 hal tersebut secara khusus yaitu:
  • Allah menyembunyikan kemurkaan-Nya dalam kemaksiatan yang kecil sekalipun.
  • Allah menyembunyikan keridhaan-Nya dalam ketaatan yang kecil sekalipun.
  • Allah menyembunyikan rahasia-rahasia-Nya pada ciptaan-nya.
  • Allah menyembunyikan terkabulnya suatu doa, agar senantiasa bertaqarrub dan berdoa kepada-Nya.

Cara dan Ciri Husnuzzan 

Menurut penjelasan Ibnu Taimiyah yang menandakan bahwa orang tersebut memiliki ciri atau melakukan sikap husnuzzan adalah taat kepada Allah. 

Sedangkan menurut Hasan al-Bashri yang menambahkan bahwa orang yang ḥusnuẓẓan kepada Tuhannya harus senantiasa memperbaiki amalnya. 

Demikian hal ini dapat ditinjau dari objeknya yang dapat dibagi menjadi 4 yaitu: 

1. Ḥusnuẓẓan Terhadap Allah

Ḥusnuẓẓan kepada Allah memiliki 2 macam pemahaman, antara lain: 
  • Mempercayai Allah, mengadukan segala persoalan kepada-Nya, ridha akan qadha dan qadar-Nya, senantiasa bersikap dingin dalam menghadapi kehendak-Nya.
  • Bersyukur atas segala nikmat dari Allah dan tidak pernah mengeluh ketika menerima cobaan.

2. Ḥusnuẓẓan Terhadap Rasulullah

Ḥusnuẓẓan terhadap Rasulullah mempunyai 2 macam tingkatan, yakni:
  • Melaksanakan segala sesuatu yang dibawa Rasulullah, mengikuti akhlak Rasulullah, meyakini bahwa syariat yang dibawa Rasul bersumber dari hakikat kemanusiaan, kecintaan kepada Rasul melebihi cinta kepada keluarga maupun diri sendiri, bersedia korban jiwa dan harta demi menolong syariat, menghidupkan sunnah dan mengimaninya sebagai petunjuk jalan.
  • Mengimaninya dengan minimal seperti iman orang awam kebanyakan.

3. Ḥusnuẓẓan Terhadap Aulia (Orang-orang shaleh)

Ḥusnuẓẓan terhadap aulia terbagi atas 2 jenis, antara lain:
  • Memelihara tali kasih sayang, memelihara rasa cinta, memuliakan dan senantiasa mengikuti mereka (orang shaleh).
  • Meninggalkan i’tiradh atau menyangkal terhadap mereka dan tidak menisbahkan kejahatan kepada mereka.

4. Ḥusnuẓẓan Terhadap Semua Orang Islam

Ḥusnuẓẓan terhadap orang islam jterbagi atas 2 macam, yakni:
  • Mengembangkan rasa kasih sayang, mencurahkan segenap perhatian, memandang mereka dengan kerelaan, selalu menerima permintaan maaf mereka.
  • Selalu menahan diri untuk menyakiti mereka.

Manfaat Husnuzzan 

Ḥusnuẓẓan yaitu bagian dari mahabbah yang dapat mengantarkan seseorang menuju kebahagiaan dan derajat yang tinggi. Sagir menjelaskan bahwa Allah dapat memuliakan hambanya dengan husnul khatimah,  menetapkan pendirian di dunia dan akhirat ketika menghadapi pertanyaan munkar dan nakir, memasukkan ke dalam surga tanpa hisab, memberi keringanan suatu saat ketika menghadapi sakaratul maut, dan memberi kemudahan saat menghadapi kuburnya. 

Selain itu, Sagir juga menambahkan bahwa orang yang selalu bersikap ḥusnuẓẓan, dalam hidupnya akan membawa manfaat dengan diberikan tenang, tentram, dan disukai banyak orang.

Seorang muslim wajib bersopan santun terhadap saudara, karib-kerabatnya dan kepada orang-orang yang ada hubungan silaturrahmi. 

Contohnya dengan bersopan santun terhadap kedua orang tuanya, anak-anaknya dan saudara-saudaranya, hilangkan perasaan su’uzhan. 

Adapun macam-macam contoh Hikmah Husnuzan secara umum antara lain:
  • Mendorong manusia untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT yang mempunyai kekuasaan dan kehendak yang mutlak dan mempunyai kebijaksanaan, keadilan, dan kasih sayang kepada makhluk-Nya.
  • Melahirkan kesadaran bagi umat manusia, dimana Allah adalah pemilik dan penetap dari segala sesuatu di alam semesta ini dapat berjalan sesuai dengan aturan dan hukum-Nya.
  • Sikap husnuzan mendatangkan ketenangan jiwa dan ketentraman hidup disebabkan meyakini apa pun yang terjadi adalah atas kehendak Allah.
  • Mendorong manusia untuk berusaha dan beramal secara bersungguh-sungguh untuk mencapai kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat dan mengikuti hukum sebab akibat yang berlaku dan ketetapan Allah.
  • Menanamkan sikap tawakal dalam diri manusia karena menyadari bahwa manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah sebagai zat yang menciptakan dan mengatur kehidupan manusia.

Manfaat Husnuzzan Menurut Rohman 


Pengertian Husnuzan, Fungsi, Manfaat Husnuzan & Contohnya Menurut Islam - Secara etimologi, pengertian husnuzzan berasal dari istilah kata yang terdiri dari dua kata yaitu "husnu" dan "zan" yang berarti "berbaik sangka".  Sedangkan secara terminologi, pengertian husnuzzan adalah berbagaik sangka terhadap segala ketentuan dan ketetapan Allah yang diberikan kepada manusia.  Sedangkan sederhana, Husnuzzan dapat diartikan sebagai salah satu bagian dari akhlak terpuji.  Adapun lawan dari ḥusnuẓẓan yaitu disebut dengan "su’uzzan". Arti dari su'uzzan diartikan sebagai "jahat sangka". Hukum dari melakukan sikap Su’uzzan adalah haram hukumnya.  Secara sederhana, Su’uzzan diartikan juga sebagai berburuk sangka. Secara etimologi, pengertian Su'uzzan adalah perbuatan yang tidak diperbolehkan disebabkan dapat mengakibatkan permusuhan dan retaknya persaudaraan.  Pengertian Husnuzzan Menurut Para Ahli Adapun pengertian Husnuzzan menurut para ahli yaitu:  1. Pengertian Husnuzzan Menurut Pinandito  Menurut Pinandito yang menjelaskan bahwa pengertian ḥusnuẓẓan adalah sebuah landasan pokok bagi manusia dalam berpikir positif atas segala peristiwa yang dialami.  2. Pengertian Husnuzzan Menurut Imam Ja'far Shadiq  Menurut Imam Ja’far Shadiq mengatakan bahwa pengertian Husnuzzan adalah “Berprasangka baik kepada Allah berarti bahwa kamu tidak boleh berharap kecuali kepada-Nya dan kamu tidak boleh takut terhadap apapun kecuali dari dosa-dosa yang kamu lakukan”.  Sikap ḥusnuẓẓan dapat melahirkan keyakinan bahwa segala kenikmatan dan kebaikan yang diterima manusia berasal dari kehendak utama Allah.  Sedangkan keburukan merupakan akibat yang dilakukan manusia sehingga menimpa manusia disebabkan dosa dan kemaksiatannya.  Tidak seorang pun dapat lari dari takdir yang telah ditetapkan Allah. Tidak ada yang terjadi di alam semesta ini, melainkan yang Dia kehendaki dan Allah SWT tidak meridhai kekufuran untuk hambaNya, Allah SWT telah menganugerahkan kepada manusia kemampuan untuk memilih dan berikhtiar.  Sehingga seluruh perbuatannya terjadi atas pilihan dan kemampuannya yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian ḥusnuẓẓan mempunyai arti baik sangka, khususnya baik sangka terhadap segala ketentuan Allah sehingga manusia dapat berpikir positif apabila ditimpa kenikmatan atau kesusahan di dalam hidup.  Sagir menegaskan bahwa setiap manusia perlu untuk berḥusnuẓẓan kepada Allah, Rasul, orang-orang saleh dan sekalian orang mukmin.  Hal itu dilakukan dikarenakan Allah masih menyembunyikan 4 hal dari makhluk hidupnya. Yang dimaksud 4 hal tersebut secara khusus yaitu: Allah menyembunyikan kemurkaan-Nya dalam kemaksiatan yang kecil sekalipun. Allah menyembunyikan keridhaan-Nya dalam ketaatan yang kecil sekalipun. Allah menyembunyikan rahasia-rahasia-Nya pada ciptaan-nya. Allah menyembunyikan terkabulnya suatu doa, agar senantiasa bertaqarrub dan berdoa kepada-Nya. Cara dan Ciri Husnuzzan  Menurut penjelasan Ibnu Taimiyah yang menandakan bahwa orang tersebut memiliki ciri atau melakukan sikap husnuzzan adalah taat kepada Allah.  Sedangkan menurut Hasan al-Bashri yang menambahkan bahwa orang yang ḥusnuẓẓan kepada Tuhannya harus senantiasa memperbaiki amalnya.  Demikian hal ini dapat ditinjau dari objeknya yang dapat dibagi menjadi 4 yaitu:  1. Ḥusnuẓẓan Terhadap Allah Ḥusnuẓẓan kepada Allah memiliki 2 macam pemahaman, antara lain:  Mempercayai Allah, mengadukan segala persoalan kepada-Nya, ridha akan qadha dan qadar-Nya, senantiasa bersikap dingin dalam menghadapi kehendak-Nya. Bersyukur atas segala nikmat dari Allah dan tidak pernah mengeluh ketika menerima cobaan. 2. Ḥusnuẓẓan Terhadap Rasulullah Ḥusnuẓẓan terhadap Rasulullah mempunyai 2 macam tingkatan, yakni: Melaksanakan segala sesuatu yang dibawa Rasulullah, mengikuti akhlak Rasulullah, meyakini bahwa syariat yang dibawa Rasul bersumber dari hakikat kemanusiaan, kecintaan kepada Rasul melebihi cinta kepada keluarga maupun diri sendiri, bersedia korban jiwa dan harta demi menolong syariat, menghidupkan sunnah dan mengimaninya sebagai petunjuk jalan. Mengimaninya dengan minimal seperti iman orang awam kebanyakan. 3. Ḥusnuẓẓan Terhadap Aulia (Orang-orang shaleh) Ḥusnuẓẓan terhadap aulia terbagi atas 2 jenis, antara lain: Memelihara tali kasih sayang, memelihara rasa cinta, memuliakan dan senantiasa mengikuti mereka (orang shaleh). Meninggalkan i’tiradh atau menyangkal terhadap mereka dan tidak menisbahkan kejahatan kepada mereka. 4. Ḥusnuẓẓan Terhadap Semua Orang Islam Ḥusnuẓẓan terhadap orang islam jterbagi atas 2 macam, yakni: Mengembangkan rasa kasih sayang, mencurahkan segenap perhatian, memandang mereka dengan kerelaan, selalu menerima permintaan maaf mereka. Selalu menahan diri untuk menyakiti mereka. Manfaat Husnuzzan  Ḥusnuẓẓan yaitu bagian dari mahabbah yang dapat mengantarkan seseorang menuju kebahagiaan dan derajat yang tinggi. Sagir menjelaskan bahwa Allah dapat memuliakan hambanya dengan husnul khatimah,  menetapkan pendirian di dunia dan akhirat ketika menghadapi pertanyaan munkar dan nakir, memasukkan ke dalam surga tanpa hisab, memberi keringanan suatu saat ketika menghadapi sakaratul maut, dan memberi kemudahan saat menghadapi kuburnya.  Selain itu, Sagir juga menambahkan bahwa orang yang selalu bersikap ḥusnuẓẓan, dalam hidupnya akan membawa manfaat dengan diberikan tenang, tentram, dan disukai banyak orang. Seorang muslim wajib bersopan santun terhadap saudara, karib-kerabatnya dan kepada orang-orang yang ada hubungan silaturrahmi.  Contohnya dengan bersopan santun terhadap kedua orang tuanya, anak-anaknya dan saudara-saudaranya, hilangkan perasaan su’uzhan.  Adapun macam-macam contoh Hikmah Husnuzan secara umum antara lain: Mendorong manusia untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT yang mempunyai kekuasaan dan kehendak yang mutlak dan mempunyai kebijaksanaan, keadilan, dan kasih sayang kepada makhluk-Nya. Melahirkan kesadaran bagi umat manusia, dimana Allah adalah pemilik dan penetap dari segala sesuatu di alam semesta ini dapat berjalan sesuai dengan aturan dan hukum-Nya.  Sikap husnuzan mendatangkan ketenangan jiwa dan ketentraman hidup disebabkan meyakini apa pun yang terjadi adalah atas kehendak Allah. Mendorong manusia untuk berusaha dan beramal secara bersungguh-sungguh untuk mencapai kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat dan mengikuti hukum sebab akibat yang berlaku dan ketetapan Allah. Menanamkan sikap tawakal dalam diri manusia karena menyadari bahwa manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah sebagai zat yang menciptakan dan mengatur kehidupan manusia. Manfaat Husnuzzan Menurut Rohman  Ilustrasi Gambar: Pengertian Husnuzan, Fungsi, Manfaat Husnuzan & Contohnya Menurut Islam Menurut Rohman yang menjelaskan bahwa terdapat beberapa hikmah dari perilaku ḥusnuẓẓan antara lain: Menyadarkan manusia bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi berjalan sebagaimana aturan dan ketetapan Allah. Mendorong manusia untuk beramal dengan sungguh-sungguh demi mendapatkan kehidupan yang baik di dunia maupun akhirat. Dan juga mengikuti hukum sebab akibat sebagaimana ketapan Allah.  Mendorong manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah yang mempunyai kekuasaan dan kehendak yang mutlak dan mempunyai kebijaksanaan, keadilan, dan kasih sayang kepada makhluk-Nya. Menanamkan sikap tawakal dalam diri manusia. Hal itu dikarenakan menyadari bahwa manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, sedangkannya hasil berserah atau menyerahkan sepenuh hati kepada Allah sebagai zat yang menciptakan dan mengatur kehidupan manusia. Mendatangkan ketenangan jiwa dan ketentraman hidup karena meyakini apa pun yang terjadi adalah kehendak Allah.  Ayat Al-Qur'an dan Hadist Tentang Husnuzzan  Adapun dalil ayat di Al-Qur'an yang menjelaskan tentang Husnuzzan yaitu:  Dalil ayat Al-Qur'an tentang husnuzzan dalam surat Al-Hujurat (49) ayat 12: Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan berdakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman: “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih).  Dalam hadist yang dijelaskan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang Husnuzzan mengajarkan bahwa seorang muslim harus huznuzhon pada Allah dan mempunyai sikap roja‘ (harap) pada-Nya.  Mengenai makna hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang Husnuzzan di atas, yang disederhanaka oleh Al Qodhi ‘Iyadh yang berkata, “Sebagian ulama mengatakan bahwa maknanya adalah Allah akan memberi ampunan jika hamba meminta ampunan. Allah akan menerima taubat jika hamba bertaubat. Allah akan mengabulkan do’a jika hamba meminta. Allah akan beri kecukupan jika hamba meminta kecukupan. Ulama lainnya berkata maknanya adalah berharap pada Allah (roja’) dan meminta ampunannya” (Syarh Muslim, 17: 2). Selain itu, menurut Ahmad Mustafa al-Maraghi yang mengutip riwayat dari Umar bin Khattab ra. yang berkata: “Janganlah sekali-kali kalian menyangka sesuatu perkataan yang keluar dari mulut saudara kalian yang beriman, kecuali sebagai sesuatu yang baik, karena kalian mendapatkan tempat yang baik untuk kata-kata itu” Dalam uraian di atas menjelaskan bahwa Umar bin Khattab mengatakan bahwa melarang umat muslim untuk berprasangka buruk terhadap ucapan sesama muslim.  Hal itu dikarenakan dengan berprasangka baik maka kita akan mendapatkan tempat yang baik pula. Sedangkan dalam hadits Rasulullah Muhammad SAW yang berkata:  Demi Allah, tidak ada tuhan selain-Nya. Tidak ada orang beriman yang pernah dapat mencapai manfaat-manfaat dunia ini dan dunia yang akan datang kecuali dengan berprasangaka baik terhadap Allah, berhasrat baik, berakhlak mulia dan menjauhkan diri dari menggunjingi orang beriman. Demi Allah dan tiada tuhan selain-Nya, tiada diterima tobat seorang beriman selama masih ada kecurigaan terhadap Allah, berputus asa, berperangai buruk dan menggunjingi orang beriman. Demi Allah dan tiada tuhan selain-Nya, tidak ada seorang hamba beriman yang memiliki pandangan baik tentang Allah kecuali Dia akan memperlakukannya sebagaimana mestinya. Dan Allah Maha Pengasih dan Penayang. Ketika hamba-Nya yang beriman memiliki prasangka baik kepada-Nya, Dia tidak pernah lalai untuk memperlakukannya sesuai dengan prasangkanya. Maka, berprasangka baiklah kepada Allah dan berharaplah kepada-Nya Demikianlah informasi mengenai Pengertian Husnuzan, Fungsi, Manfaat Husnuzan & Contohnya Menurut Islam. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dalam menjalani hidup ini dalam kehidupan sehari-hari kita agar tidak tersesat. Sekian dan terima kasih. Salam Berbagi Teman-Teman.
Ilustrasi Gambar: Pengertian Husnuzan, Fungsi, Manfaat Husnuzan & Contohnya Menurut Islam

Menurut Rohman yang menjelaskan bahwa terdapat beberapa hikmah dari perilaku ḥusnuẓẓan antara lain:
  • Menyadarkan manusia bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi berjalan sebagaimana aturan dan ketetapan Allah.
  • Mendorong manusia untuk beramal dengan sungguh-sungguh demi mendapatkan kehidupan yang baik di dunia maupun akhirat. Dan juga mengikuti hukum sebab akibat sebagaimana ketapan Allah.
  • Mendorong manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah yang mempunyai kekuasaan dan kehendak yang mutlak dan mempunyai kebijaksanaan, keadilan, dan kasih sayang kepada makhluk-Nya.
  • Menanamkan sikap tawakal dalam diri manusia. Hal itu dikarenakan menyadari bahwa manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, sedangkannya hasil berserah atau menyerahkan sepenuh hati kepada Allah sebagai zat yang menciptakan dan mengatur kehidupan manusia.
  • Mendatangkan ketenangan jiwa dan ketentraman hidup karena meyakini apa pun yang terjadi adalah kehendak Allah. 

Ayat Al-Qur'an dan Hadist Tentang Husnuzzan 

Adapun dalil ayat di Al-Qur'an yang menjelaskan tentang Husnuzzan yaitu: 

Dalil ayat Al-Qur'an tentang husnuzzan dalam surat Al-Hujurat (49) ayat 12:

Pengertian Husnuzan, Fungsi, Manfaat Husnuzan & Contohnya Menurut Islam - Secara etimologi, pengertian husnuzzan berasal dari istilah kata yang terdiri dari dua kata yaitu "husnu" dan "zan" yang berarti "berbaik sangka".  Sedangkan secara terminologi, pengertian husnuzzan adalah berbagaik sangka terhadap segala ketentuan dan ketetapan Allah yang diberikan kepada manusia.  Sedangkan sederhana, Husnuzzan dapat diartikan sebagai salah satu bagian dari akhlak terpuji.  Adapun lawan dari ḥusnuẓẓan yaitu disebut dengan "su’uzzan". Arti dari su'uzzan diartikan sebagai "jahat sangka". Hukum dari melakukan sikap Su’uzzan adalah haram hukumnya.  Secara sederhana, Su’uzzan diartikan juga sebagai berburuk sangka. Secara etimologi, pengertian Su'uzzan adalah perbuatan yang tidak diperbolehkan disebabkan dapat mengakibatkan permusuhan dan retaknya persaudaraan.  Pengertian Husnuzzan Menurut Para Ahli Adapun pengertian Husnuzzan menurut para ahli yaitu:  1. Pengertian Husnuzzan Menurut Pinandito  Menurut Pinandito yang menjelaskan bahwa pengertian ḥusnuẓẓan adalah sebuah landasan pokok bagi manusia dalam berpikir positif atas segala peristiwa yang dialami.  2. Pengertian Husnuzzan Menurut Imam Ja'far Shadiq  Menurut Imam Ja’far Shadiq mengatakan bahwa pengertian Husnuzzan adalah “Berprasangka baik kepada Allah berarti bahwa kamu tidak boleh berharap kecuali kepada-Nya dan kamu tidak boleh takut terhadap apapun kecuali dari dosa-dosa yang kamu lakukan”.  Sikap ḥusnuẓẓan dapat melahirkan keyakinan bahwa segala kenikmatan dan kebaikan yang diterima manusia berasal dari kehendak utama Allah.  Sedangkan keburukan merupakan akibat yang dilakukan manusia sehingga menimpa manusia disebabkan dosa dan kemaksiatannya.  Tidak seorang pun dapat lari dari takdir yang telah ditetapkan Allah. Tidak ada yang terjadi di alam semesta ini, melainkan yang Dia kehendaki dan Allah SWT tidak meridhai kekufuran untuk hambaNya, Allah SWT telah menganugerahkan kepada manusia kemampuan untuk memilih dan berikhtiar.  Sehingga seluruh perbuatannya terjadi atas pilihan dan kemampuannya yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian ḥusnuẓẓan mempunyai arti baik sangka, khususnya baik sangka terhadap segala ketentuan Allah sehingga manusia dapat berpikir positif apabila ditimpa kenikmatan atau kesusahan di dalam hidup.  Sagir menegaskan bahwa setiap manusia perlu untuk berḥusnuẓẓan kepada Allah, Rasul, orang-orang saleh dan sekalian orang mukmin.  Hal itu dilakukan dikarenakan Allah masih menyembunyikan 4 hal dari makhluk hidupnya. Yang dimaksud 4 hal tersebut secara khusus yaitu: Allah menyembunyikan kemurkaan-Nya dalam kemaksiatan yang kecil sekalipun. Allah menyembunyikan keridhaan-Nya dalam ketaatan yang kecil sekalipun. Allah menyembunyikan rahasia-rahasia-Nya pada ciptaan-nya. Allah menyembunyikan terkabulnya suatu doa, agar senantiasa bertaqarrub dan berdoa kepada-Nya. Cara dan Ciri Husnuzzan  Menurut penjelasan Ibnu Taimiyah yang menandakan bahwa orang tersebut memiliki ciri atau melakukan sikap husnuzzan adalah taat kepada Allah.  Sedangkan menurut Hasan al-Bashri yang menambahkan bahwa orang yang ḥusnuẓẓan kepada Tuhannya harus senantiasa memperbaiki amalnya.  Demikian hal ini dapat ditinjau dari objeknya yang dapat dibagi menjadi 4 yaitu:  1. Ḥusnuẓẓan Terhadap Allah Ḥusnuẓẓan kepada Allah memiliki 2 macam pemahaman, antara lain:  Mempercayai Allah, mengadukan segala persoalan kepada-Nya, ridha akan qadha dan qadar-Nya, senantiasa bersikap dingin dalam menghadapi kehendak-Nya. Bersyukur atas segala nikmat dari Allah dan tidak pernah mengeluh ketika menerima cobaan. 2. Ḥusnuẓẓan Terhadap Rasulullah Ḥusnuẓẓan terhadap Rasulullah mempunyai 2 macam tingkatan, yakni: Melaksanakan segala sesuatu yang dibawa Rasulullah, mengikuti akhlak Rasulullah, meyakini bahwa syariat yang dibawa Rasul bersumber dari hakikat kemanusiaan, kecintaan kepada Rasul melebihi cinta kepada keluarga maupun diri sendiri, bersedia korban jiwa dan harta demi menolong syariat, menghidupkan sunnah dan mengimaninya sebagai petunjuk jalan. Mengimaninya dengan minimal seperti iman orang awam kebanyakan. 3. Ḥusnuẓẓan Terhadap Aulia (Orang-orang shaleh) Ḥusnuẓẓan terhadap aulia terbagi atas 2 jenis, antara lain: Memelihara tali kasih sayang, memelihara rasa cinta, memuliakan dan senantiasa mengikuti mereka (orang shaleh). Meninggalkan i’tiradh atau menyangkal terhadap mereka dan tidak menisbahkan kejahatan kepada mereka. 4. Ḥusnuẓẓan Terhadap Semua Orang Islam Ḥusnuẓẓan terhadap orang islam jterbagi atas 2 macam, yakni: Mengembangkan rasa kasih sayang, mencurahkan segenap perhatian, memandang mereka dengan kerelaan, selalu menerima permintaan maaf mereka. Selalu menahan diri untuk menyakiti mereka. Manfaat Husnuzzan  Ḥusnuẓẓan yaitu bagian dari mahabbah yang dapat mengantarkan seseorang menuju kebahagiaan dan derajat yang tinggi. Sagir menjelaskan bahwa Allah dapat memuliakan hambanya dengan husnul khatimah,  menetapkan pendirian di dunia dan akhirat ketika menghadapi pertanyaan munkar dan nakir, memasukkan ke dalam surga tanpa hisab, memberi keringanan suatu saat ketika menghadapi sakaratul maut, dan memberi kemudahan saat menghadapi kuburnya.  Selain itu, Sagir juga menambahkan bahwa orang yang selalu bersikap ḥusnuẓẓan, dalam hidupnya akan membawa manfaat dengan diberikan tenang, tentram, dan disukai banyak orang. Seorang muslim wajib bersopan santun terhadap saudara, karib-kerabatnya dan kepada orang-orang yang ada hubungan silaturrahmi, contohnya dengan bersopan santun terhadap kedua orang tuanya, anak-anaknya dan saudara-saudaranya, hilangkan perasaan su’uzhan. Adapun macam-macam contoh Hikmah Husnuzan antara lain: Mendorong manusia untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT yang mempunyai kekuasaan dan kehendak yang mutlak dan mempunyai kebijaksanaan, keadilan, dan kasih sayang kepada makhluk-Nya. Melahirkan kesadaran bagi umat manusia, dimana Allah adalah pemilik dan penetap dari segala sesuatu di alam semesta ini dapat berjalan sesuai dengan aturan dan hukum-Nya.  Sikap husnuzan mendatangkan ketenangan jiwa dan ketentraman hidup disebabkan meyakini apa pun yang terjadi adalah atas kehendak Allah. Mendorong manusia untuk berusaha dan beramal secara bersungguh-sungguh untuk mencapai kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat dan mengikuti hukum sebab akibat yang berlaku dan ketetapan Allah. Menanamkan sikap tawakal dalam diri manusia karena menyadari bahwa manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah sebagai zat yang menciptakan dan mengatur kehidupan manusia. Manfaat Husnuzzan Menurut Rohman  Menurut Rohman yang menjelaskan bahwa terdapat beberapa hikmah dari perilaku ḥusnuẓẓan antara lain: Menyadarkan manusia bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi berjalan sebagaimana aturan dan ketetapan Allah. Mendorong manusia untuk beramal dengan sungguh-sungguh demi mendapatkan kehidupan yang baik di dunia maupun akhirat. Dan juga mengikuti hukum sebab akibat sebagaimana ketapan Allah.  Mendorong manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah yang mempunyai kekuasaan dan kehendak yang mutlak dan mempunyai kebijaksanaan, keadilan, dan kasih sayang kepada makhluk-Nya. Menanamkan sikap tawakal dalam diri manusia. Hal itu dikarenakan menyadari bahwa manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, sedangkannya hasil berserah atau menyerahkan sepenuh hati kepada Allah sebagai zat yang menciptakan dan mengatur kehidupan manusia. Mendatangkan ketenangan jiwa dan ketentraman hidup karena meyakini apa pun yang terjadi adalah kehendak Allah.  Ayat Al-Qur'an dan Hadist Tentang Husnuzzan  Adapun dalil ayat di Al-Qur'an yang menjelaskan tentang Husnuzzan yaitu:  Dalil ayat Al-Qur'an tentang husnuzzan dalam surat Al-Hujurat (49) ayat 12: Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan berdakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih).  Dalam hadist yang dijelaskan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang Husnuzzan mengajarkan bahwa seorang muslim harus huznuzhon pada Allah dan mempunyai sikap roja‘ (harap) pada-Nya.  Mengenai makna hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang Husnuzzan di atas, yang disederhanaka oleh Al Qodhi ‘Iyadh yang berkata, “Sebagian ulama mengatakan bahwa maknanya adalah Allah akan memberi ampunan jika hamba meminta ampunan. Allah akan menerima taubat jika hamba bertaubat. Allah akan mengabulkan do’a jika hamba meminta. Allah akan beri kecukupan jika hamba meminta kecukupan. Ulama lainnya berkata maknanya adalah berharap pada Allah (roja’) dan meminta ampunannya” (Syarh Muslim, 17: 2). Selain itu, menurut Ahmad Mustafa al-Maraghi yang mengutip riwayat dari Umar bin Khattab ra. yang berkata: “Janganlah sekali-kali kalian menyangka sesuatu perkataan yang keluar dari mulut saudara kalian yang beriman, kecuali sebagai sesuatu yang baik, karena kalian mendapatkan tempat yang baik untuk kata-kata itu” Dalam uraian di atas menjelaskan bahwa Umar bin Khattab mengatakan bahwa melarang umat muslim untuk berprasangka buruk terhadap ucapan sesama muslim.  Hal itu dikarenakan dengan berprasangka baik maka kita akan mendapatkan tempat yang baik pula. Sedangkan dalam hadits Rasulullah Muhammad SAW yang berkata:  Demi Allah, tidak ada tuhan selain-Nya. Tidak ada orang beriman yang pernah dapat mencapai manfaat-manfaat dunia ini dan dunia yang akan datang kecuali dengan berprasangaka baik terhadap Allah, berhasrat baik, berakhlak mulia dan menjauhkan diri dari menggunjingi orang beriman. Demi Allah dan tiada tuhan selain-Nya, tiada diterima tobat seorang beriman selama masih ada kecurigaan terhadap Allah, berputus asa, berperangai buruk dan menggunjingi orang beriman. Demi Allah dan tiada tuhan selain-Nya, tidak ada seorang hamba beriman yang memiliki pandangan baik tentang Allah kecuali Dia akan memperlakukannya sebagaimana mestinya. Dan Allah Maha Pengasih dan Penayang. Ketika hamba-Nya yang beriman memiliki prasangka baik kepada-Nya, Dia tidak pernah lalai untuk memperlakukannya sesuai dengan prasangkanya. Maka, berprasangka baiklah kepada Allah dan berharaplah kepada-Nya Demikianlah informasi mengenai Pengertian Husnuzan, Fungsi, Manfaat Husnuzan & Contohnya Menurut Islam. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dalam menjalani hidup ini dalam kehidupan sehari-hari kita agar tidak tersesat. Sekian dan terima kasih. Salam Berbagi Teman-Teman.

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan berdakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman:

Pengertian Husnuzan, Fungsi, Manfaat Husnuzan & Contohnya Menurut Islam - Secara etimologi, pengertian husnuzzan berasal dari istilah kata yang terdiri dari dua kata yaitu "husnu" dan "zan" yang berarti "berbaik sangka".  Sedangkan secara terminologi, pengertian husnuzzan adalah berbagaik sangka terhadap segala ketentuan dan ketetapan Allah yang diberikan kepada manusia.  Sedangkan sederhana, Husnuzzan dapat diartikan sebagai salah satu bagian dari akhlak terpuji.  Adapun lawan dari ḥusnuẓẓan yaitu disebut dengan "su’uzzan". Arti dari su'uzzan diartikan sebagai "jahat sangka". Hukum dari melakukan sikap Su’uzzan adalah haram hukumnya.  Secara sederhana, Su’uzzan diartikan juga sebagai berburuk sangka. Secara etimologi, pengertian Su'uzzan adalah perbuatan yang tidak diperbolehkan disebabkan dapat mengakibatkan permusuhan dan retaknya persaudaraan.  Pengertian Husnuzzan Menurut Para Ahli Adapun pengertian Husnuzzan menurut para ahli yaitu:  1. Pengertian Husnuzzan Menurut Pinandito  Menurut Pinandito yang menjelaskan bahwa pengertian ḥusnuẓẓan adalah sebuah landasan pokok bagi manusia dalam berpikir positif atas segala peristiwa yang dialami.  2. Pengertian Husnuzzan Menurut Imam Ja'far Shadiq  Menurut Imam Ja’far Shadiq mengatakan bahwa pengertian Husnuzzan adalah “Berprasangka baik kepada Allah berarti bahwa kamu tidak boleh berharap kecuali kepada-Nya dan kamu tidak boleh takut terhadap apapun kecuali dari dosa-dosa yang kamu lakukan”.  Sikap ḥusnuẓẓan dapat melahirkan keyakinan bahwa segala kenikmatan dan kebaikan yang diterima manusia berasal dari kehendak utama Allah.  Sedangkan keburukan merupakan akibat yang dilakukan manusia sehingga menimpa manusia disebabkan dosa dan kemaksiatannya.  Tidak seorang pun dapat lari dari takdir yang telah ditetapkan Allah. Tidak ada yang terjadi di alam semesta ini, melainkan yang Dia kehendaki dan Allah SWT tidak meridhai kekufuran untuk hambaNya, Allah SWT telah menganugerahkan kepada manusia kemampuan untuk memilih dan berikhtiar.  Sehingga seluruh perbuatannya terjadi atas pilihan dan kemampuannya yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian ḥusnuẓẓan mempunyai arti baik sangka, khususnya baik sangka terhadap segala ketentuan Allah sehingga manusia dapat berpikir positif apabila ditimpa kenikmatan atau kesusahan di dalam hidup.  Sagir menegaskan bahwa setiap manusia perlu untuk berḥusnuẓẓan kepada Allah, Rasul, orang-orang saleh dan sekalian orang mukmin.  Hal itu dilakukan dikarenakan Allah masih menyembunyikan 4 hal dari makhluk hidupnya. Yang dimaksud 4 hal tersebut secara khusus yaitu: Allah menyembunyikan kemurkaan-Nya dalam kemaksiatan yang kecil sekalipun. Allah menyembunyikan keridhaan-Nya dalam ketaatan yang kecil sekalipun. Allah menyembunyikan rahasia-rahasia-Nya pada ciptaan-nya. Allah menyembunyikan terkabulnya suatu doa, agar senantiasa bertaqarrub dan berdoa kepada-Nya. Cara dan Ciri Husnuzzan  Menurut penjelasan Ibnu Taimiyah yang menandakan bahwa orang tersebut memiliki ciri atau melakukan sikap husnuzzan adalah taat kepada Allah.  Sedangkan menurut Hasan al-Bashri yang menambahkan bahwa orang yang ḥusnuẓẓan kepada Tuhannya harus senantiasa memperbaiki amalnya.  Demikian hal ini dapat ditinjau dari objeknya yang dapat dibagi menjadi 4 yaitu:  1. Ḥusnuẓẓan Terhadap Allah Ḥusnuẓẓan kepada Allah memiliki 2 macam pemahaman, antara lain:  Mempercayai Allah, mengadukan segala persoalan kepada-Nya, ridha akan qadha dan qadar-Nya, senantiasa bersikap dingin dalam menghadapi kehendak-Nya. Bersyukur atas segala nikmat dari Allah dan tidak pernah mengeluh ketika menerima cobaan. 2. Ḥusnuẓẓan Terhadap Rasulullah Ḥusnuẓẓan terhadap Rasulullah mempunyai 2 macam tingkatan, yakni: Melaksanakan segala sesuatu yang dibawa Rasulullah, mengikuti akhlak Rasulullah, meyakini bahwa syariat yang dibawa Rasul bersumber dari hakikat kemanusiaan, kecintaan kepada Rasul melebihi cinta kepada keluarga maupun diri sendiri, bersedia korban jiwa dan harta demi menolong syariat, menghidupkan sunnah dan mengimaninya sebagai petunjuk jalan. Mengimaninya dengan minimal seperti iman orang awam kebanyakan. 3. Ḥusnuẓẓan Terhadap Aulia (Orang-orang shaleh) Ḥusnuẓẓan terhadap aulia terbagi atas 2 jenis, antara lain: Memelihara tali kasih sayang, memelihara rasa cinta, memuliakan dan senantiasa mengikuti mereka (orang shaleh). Meninggalkan i’tiradh atau menyangkal terhadap mereka dan tidak menisbahkan kejahatan kepada mereka. 4. Ḥusnuẓẓan Terhadap Semua Orang Islam Ḥusnuẓẓan terhadap orang islam jterbagi atas 2 macam, yakni: Mengembangkan rasa kasih sayang, mencurahkan segenap perhatian, memandang mereka dengan kerelaan, selalu menerima permintaan maaf mereka. Selalu menahan diri untuk menyakiti mereka. Manfaat Husnuzzan  Ḥusnuẓẓan yaitu bagian dari mahabbah yang dapat mengantarkan seseorang menuju kebahagiaan dan derajat yang tinggi. Sagir menjelaskan bahwa Allah dapat memuliakan hambanya dengan husnul khatimah,  menetapkan pendirian di dunia dan akhirat ketika menghadapi pertanyaan munkar dan nakir, memasukkan ke dalam surga tanpa hisab, memberi keringanan suatu saat ketika menghadapi sakaratul maut, dan memberi kemudahan saat menghadapi kuburnya.  Selain itu, Sagir juga menambahkan bahwa orang yang selalu bersikap ḥusnuẓẓan, dalam hidupnya akan membawa manfaat dengan diberikan tenang, tentram, dan disukai banyak orang. Seorang muslim wajib bersopan santun terhadap saudara, karib-kerabatnya dan kepada orang-orang yang ada hubungan silaturrahmi, contohnya dengan bersopan santun terhadap kedua orang tuanya, anak-anaknya dan saudara-saudaranya, hilangkan perasaan su’uzhan. Adapun macam-macam contoh Hikmah Husnuzan antara lain: Mendorong manusia untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT yang mempunyai kekuasaan dan kehendak yang mutlak dan mempunyai kebijaksanaan, keadilan, dan kasih sayang kepada makhluk-Nya. Melahirkan kesadaran bagi umat manusia, dimana Allah adalah pemilik dan penetap dari segala sesuatu di alam semesta ini dapat berjalan sesuai dengan aturan dan hukum-Nya.  Sikap husnuzan mendatangkan ketenangan jiwa dan ketentraman hidup disebabkan meyakini apa pun yang terjadi adalah atas kehendak Allah. Mendorong manusia untuk berusaha dan beramal secara bersungguh-sungguh untuk mencapai kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat dan mengikuti hukum sebab akibat yang berlaku dan ketetapan Allah. Menanamkan sikap tawakal dalam diri manusia karena menyadari bahwa manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah sebagai zat yang menciptakan dan mengatur kehidupan manusia. Manfaat Husnuzzan Menurut Rohman  Menurut Rohman yang menjelaskan bahwa terdapat beberapa hikmah dari perilaku ḥusnuẓẓan antara lain: Menyadarkan manusia bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi berjalan sebagaimana aturan dan ketetapan Allah. Mendorong manusia untuk beramal dengan sungguh-sungguh demi mendapatkan kehidupan yang baik di dunia maupun akhirat. Dan juga mengikuti hukum sebab akibat sebagaimana ketapan Allah.  Mendorong manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah yang mempunyai kekuasaan dan kehendak yang mutlak dan mempunyai kebijaksanaan, keadilan, dan kasih sayang kepada makhluk-Nya. Menanamkan sikap tawakal dalam diri manusia. Hal itu dikarenakan menyadari bahwa manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, sedangkannya hasil berserah atau menyerahkan sepenuh hati kepada Allah sebagai zat yang menciptakan dan mengatur kehidupan manusia. Mendatangkan ketenangan jiwa dan ketentraman hidup karena meyakini apa pun yang terjadi adalah kehendak Allah.  Ayat Al-Qur'an dan Hadist Tentang Husnuzzan  Adapun dalil ayat di Al-Qur'an yang menjelaskan tentang Husnuzzan yaitu:  Dalil ayat Al-Qur'an tentang husnuzzan dalam surat Al-Hujurat (49) ayat 12: Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan berdakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman: “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih).  Dalam hadist yang dijelaskan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang Husnuzzan mengajarkan bahwa seorang muslim harus huznuzhon pada Allah dan mempunyai sikap roja‘ (harap) pada-Nya.  Mengenai makna hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang Husnuzzan di atas, yang disederhanaka oleh Al Qodhi ‘Iyadh yang berkata, “Sebagian ulama mengatakan bahwa maknanya adalah Allah akan memberi ampunan jika hamba meminta ampunan. Allah akan menerima taubat jika hamba bertaubat. Allah akan mengabulkan do’a jika hamba meminta. Allah akan beri kecukupan jika hamba meminta kecukupan. Ulama lainnya berkata maknanya adalah berharap pada Allah (roja’) dan meminta ampunannya” (Syarh Muslim, 17: 2). Selain itu, menurut Ahmad Mustafa al-Maraghi yang mengutip riwayat dari Umar bin Khattab ra. yang berkata: “Janganlah sekali-kali kalian menyangka sesuatu perkataan yang keluar dari mulut saudara kalian yang beriman, kecuali sebagai sesuatu yang baik, karena kalian mendapatkan tempat yang baik untuk kata-kata itu” Dalam uraian di atas menjelaskan bahwa Umar bin Khattab mengatakan bahwa melarang umat muslim untuk berprasangka buruk terhadap ucapan sesama muslim.  Hal itu dikarenakan dengan berprasangka baik maka kita akan mendapatkan tempat yang baik pula. Sedangkan dalam hadits Rasulullah Muhammad SAW yang berkata:  Demi Allah, tidak ada tuhan selain-Nya. Tidak ada orang beriman yang pernah dapat mencapai manfaat-manfaat dunia ini dan dunia yang akan datang kecuali dengan berprasangaka baik terhadap Allah, berhasrat baik, berakhlak mulia dan menjauhkan diri dari menggunjingi orang beriman. Demi Allah dan tiada tuhan selain-Nya, tiada diterima tobat seorang beriman selama masih ada kecurigaan terhadap Allah, berputus asa, berperangai buruk dan menggunjingi orang beriman. Demi Allah dan tiada tuhan selain-Nya, tidak ada seorang hamba beriman yang memiliki pandangan baik tentang Allah kecuali Dia akan memperlakukannya sebagaimana mestinya. Dan Allah Maha Pengasih dan Penayang. Ketika hamba-Nya yang beriman memiliki prasangka baik kepada-Nya, Dia tidak pernah lalai untuk memperlakukannya sesuai dengan prasangkanya. Maka, berprasangka baiklah kepada Allah dan berharaplah kepada-Nya Demikianlah informasi mengenai Pengertian Husnuzan, Fungsi, Manfaat Husnuzan & Contohnya Menurut Islam. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dalam menjalani hidup ini dalam kehidupan sehari-hari kita agar tidak tersesat. Sekian dan terima kasih. Salam Berbagi Teman-Teman.

Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih). 
Dalam hadist yang dijelaskan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang Husnuzzan mengajarkan bahwa seorang muslim harus huznuzhon pada Allah dan mempunyai sikap roja‘ (harap) pada-Nya. 

Mengenai makna hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang Husnuzzan di atas, yang disederhanaka oleh Al Qodhi ‘Iyadh yang berkata, “Sebagian ulama mengatakan bahwa maknanya adalah Allah akan memberi ampunan jika hamba meminta ampunan. Allah akan menerima taubat jika hamba bertaubat. Allah akan mengabulkan do’a jika hamba meminta. Allah akan beri kecukupan jika hamba meminta kecukupan. Ulama lainnya berkata maknanya adalah berharap pada Allah (roja’) dan meminta ampunannya” (Syarh Muslim, 17: 2).

Selain itu, menurut Ahmad Mustafa al-Maraghi yang mengutip riwayat dari Umar bin Khattab ra. yang berkata:

Janganlah sekali-kali kalian menyangka sesuatu perkataan yang keluar dari mulut saudara kalian yang beriman, kecuali sebagai sesuatu yang baik, karena kalian mendapatkan tempat yang baik untuk kata-kata itu

Dalam uraian di atas menjelaskan bahwa Umar bin Khattab mengatakan bahwa melarang umat muslim untuk berprasangka buruk terhadap ucapan sesama muslim. 

Hal itu dikarenakan dengan berprasangka baik maka kita akan mendapatkan tempat yang baik pula.

Sedangkan dalam hadits Rasulullah Muhammad SAW yang berkata: 
Demi Allah, tidak ada tuhan selain-Nya. Tidak ada orang beriman yang pernah dapat mencapai manfaat-manfaat dunia ini dan dunia yang akan datang kecuali dengan berprasangaka baik terhadap Allah, berhasrat baik, berakhlak mulia dan menjauhkan diri dari menggunjingi orang beriman. Demi Allah dan tiada tuhan selain-Nya, tiada diterima tobat seorang beriman selama masih ada kecurigaan terhadap Allah, berputus asa, berperangai buruk dan menggunjingi orang beriman. Demi Allah dan tiada tuhan selain-Nya, tidak ada seorang hamba beriman yang memiliki pandangan baik tentang Allah kecuali Dia akan memperlakukannya sebagaimana mestinya. Dan Allah Maha Pengasih dan Penayang. Ketika hamba-Nya yang beriman memiliki prasangka baik kepada-Nya, Dia tidak pernah lalai untuk memperlakukannya sesuai dengan prasangkanya. Maka, berprasangka baiklah kepada Allah dan berharaplah kepada-Nya

Demikianlah informasi mengenai Pengertian Husnuzan, Fungsi, Manfaat Husnuzan & Contohnya Menurut Islam. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dalam menjalani hidup ini dalam kehidupan sehari-hari kita agar tidak tersesat. Sekian dan terima kasih. Salam Berbagi Teman-Teman.
Advertisement by Google 3
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Pengertian Husnuzan, Fungsi, Manfaat Husnuzan & Contohnya Menurut Islam