Menu

Komponen Emosi & Teori Emosi Dalam Psikologi

Menurut pendapat dari Eastwood Atwater, yang diketahui sebagai buku Psychology of Adjustment, mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan emosi adalah kondisi kesadaran yang kompleks, tentang sensasi di dalam diri dan ekspresi ke luar yang mempunyai kekuatan memotivasi untuk bertindak.

Saat mengalami emosi tertentu, seperti berkenaan tentang gembira, tentu ada penyebabnya berjumpa dengan orang yang dikasihi, mendapat bonus, dan sebagainya.

Demikian juga tentang mengalami emosi sedih, hal itu tentu ada penyebab seperti gagal dalam ujian, putus hubungan dengan orang yang dicintai, dan sebagainya.

Peristiwa-peristiwa yang dihadapi itu dapat mengakibatkan otot-otot secara refleks berkontraksi karena mengalami stimulasi semacam sengatan listrik.

Selanjutnya, dengan itu sehingga perlu disadari dan menginterpretasi bahwa saat sedang gembira atau sedih, lalu interpretasi itu menentukan bagaimana cara dalam bertindak.

Komponen Emosi

Berdasarkan keadaan tersebut, kita dapat menemukan bahwa emosi terdiri dari tiga komponen, yaitu

  1. Adanya perubahan fisiologis (sensasi pada tubuh).
  2. Kesadaran dan interpretasi yang bermakna subyektif akibat adanya sensasi.
  3. kemungkinan mengekspresikan kesadaran itu dalam tindakan.

Teori-Teori Emosi Dalam Psikologi

Untuk menjelaskan kondisi timbulnya gejala emosi, para ahli mengemukakan beberapa teori tentang emosi sebagai berikut:

Baca Juga  Pengertian dan Jenis-Jenis Tindakan Sosial
Komponen Emosi & Teori Emosi Dalam Psikologi (Foto: Artikelsiana.com)
Komponen Emosi & Teori Emosi Dalam Psikologi (Foto: Artikelsiana.com)

1. Teori Emosi Dua-Faktor Schachter-Singer

Sebagai suatu teori yang paling klasik yang titik tekannya pada rangsangan.

Reaksi fisiologik dapat saja sama (hati berdebar, tekanan darah naik, nafas bertambah cepat, adrenalin dialirkan dalam darah, dan sebagainya),

Namun jika rangsangannya menyenangkan seperti diterima di perguruan tinggi favorit- emosi yang ditimbulkan dinamakan senang.

Sebaliknya, jika rangsangannya membahayakan (misalnya, melihat ular berbisa), emosi yang timbul dinamakan takut.

Para ahli psikologi melihat teori ini lebih sesuai dengan teori kognisi.

2. Teori Emosi James-Lange

Dalam teorinya, William James (1884) yang diketahui sebagai kebangsaan Amerika Serikat dan Carl Lange (1885) yang berkebangsaan Denmark menyampaikan saat yang hampir bersamaan, suatu teori tentang emosi yang mirip satu sama lainnya,

Sehingga teori ini disebut dengan nama teori James-Lange. Dalam teori ini disebutkan bahwa emosi timbul setelah terjadinya reaksi psikologik.

Sehingga apabila senang karena meloncat-loncat setelah melihat pengumuman dan kita takut karena kita lari setelah melihat ular.

Baca Juga  Jelaskan 6 Karakteristik Administrasi & Fungsi Administrasi

Selanjutnya menurut teori ini, emosi adalah hasil persepsi seseorang terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh sebagai respons terhadap berbagai rangsangan yang datang dari luar.

Jadi, jika seserang misalnya melihat harimau, reaksinya peredaran darah makin cepat karena denyut jantung makin cepat, paru-paru lebih cepat memompa udara, dan sebagainya.

Respons-respons tubuh ini kemudin dipersepsikan dan timbulah rasa takut. Mengapa rasa takut yang timbul?. Ini disebabkan oleh hasil pengalaman dan proses belajar.

Emosi, menurut kedua ahli ini, terjadi karena adanya perubahan pada sistem vasomotor (otot-otot).

Suatu peristiwa dipersepsikan enimbulkan perubahan fisiologis dan perubahan psikologis yang disebut emosi.

Dengan kata lain, James-Lange, seseorang bukan tertawa karena senang, melainkan ia senang karena tertawa.

3. Teori “Emergency” Cannon

Teori ini dikemukakan oleh Walter B. Cannon (1929), seorang fisiologi dari Harvard University.

Cannon dalam teorinya menyatakan bahwa karena gejolak emosi itu menyiapkan seseorang untuk mengatasi keadaan yang genting, orang-orang primitif yang membuat respons semacam itu bisa survive dalam hidupnya.

Cannon mengatakan, antara lain, bahwa organ tubuh umumnya terlalu insensitif dan terlalu dalam responsnya untuk dapat menjadi dasar berkembangnya dan berubahnya suasana emosional yang berlangsung demikian cepat.

Baca Juga  Pengertian, Tujuan, Fungsi dan Macam-Macam Konstitusi

Walaupun demikian, ia sebenarnya tidak beranggapan bahwa organ dalam sebagai faktor yang menentukan suasana emosional.

Teori ini menyebutkan, emosi (sebagai pengalaman sebjektif psikologik) timbuk bersama-sama dengan fisiologik (hati berdebar, tekanan darah naik, nafas bertambah cepat, adrenalin dialirkan dalam darah, dan sebagainya).

Teori Cannon ini selanjutnya diperkuat oleh Philip Bard, sehingga kemudian lebih dikenal teori Cannon-Bard atau teori “emergency”.

Teori ini mengatakan pula bahwa emosi adalah reaksi yang diberikan oleh organisme dalam situasi emergency (darurat).

Teori ini didasarkan pada pendapat bahwa ada antagonisme (fungsi yang bertentangan) antara saraf-saraf simpatis dengan cabang-cabang oranial dan sakral daripada susunan saraf otonom.

Jadi, kalau saraf-saraf simpatis aktif, saraf otonom nonaktif, dan begitu sebaliknya.

Demikianlah informasi mengenai Komponen Emosi & Teori-Teori Emosi Dalam Psikologi. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Sekian dan terima kasih. Salam berbagi teman-teman.

0 votes, average: 0.00 out of 5
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, average: 0.00 out of 5)
You need to be a registered member to rate this.
Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *