Menu

4 Metode Penepatan Harga dan Contoh Penepatan Harga

Secara umum, Pengertian Harga adalah ukuran mengenai besar kecilnya tentang nilai kepuasan seseorang akan produk yang dibelinya.

Seseorang akan berani membayar suatu produk dengan harga yang mahal ketika dia menilai kepuasan yang dapat diharapkannya terhadap produk yang dapat dibelinya itu tinggi.

Sebaliknya ketika seseorang itu dapat menilai kepuasannya mengenai suatu produk itu rendah maka dia tidak dapat bersedia untuk membayar atau membeli produk itu dengan harga yang mahal.

Nilai ekonomis diciptakan oleh kegiatan melalui dalam mekanisme pasar antar pembeli dan juga penjual.

Dalam harga, terdapat hal yang begitu penting untuk menjaga kepuasaan dan permintaan dari produsen, distributor dan konsumen. Agar hal itu dapat menjadi kuntungan bagi perusahaan.

Demikian adalah penetapan harga. Yang dimaksud dengan Penetapan harga merupakan suatu masalah ketika perusahaan perlu untuk menentukan harga untuk pertama kali.

Hal ini terjadi ketika perusahaan dapat mengembangkan atau mendapatkan suatu produk baru,

Ketika suatu perusahaan dapat untuk memperkenalkan produk lamanya ke saluran distribusi baru atau ke daerah yang baru, dan ketika demikian ini berhasil untuk mendapatkan tender suatu tawaran kontrak kerja yang baru.

4 Metode Penepatan Harga dan Contoh Penepatan Harga
4 Metode Penepatan Harga dan Contoh Penepatan Harga

Pengertian Harga: Apa itu?

Selain dari informasi diatas, terdapat beberapa pengertian harga menurut para ahli. Adapun pendapat tersebut dapat dilihat dibawah ini.

1. Menurut Alfred dan Douglas

Menurut Alfred dan Douglas (1997, hal. 29-30), harga dari sesuatu barang adalah tingkat pertukaran barang itu dengan barang lain.

Sebagaimana telah kita ketahui salah satu tugas pokok ekonomi itu adalah menjelaskan mengapa barang-barang mempunyai harga dan mengapa ada barangbarang yang mahal dan ada yang murah harganya.

2. Menurut Murti dan John

Murti dan John dalam marketing mix (1998, hal. 281) menyatakan bahwa harga merupakan satu-satunya komponen yang menghasilkan pendapatan, sedangkan unsur lainnya dalam (marketing mix) menunjukkan biaya.

Secara garis besar, metode penetapan harga bisa untuk dikelompokkan ke dalam 4 kategori utama, ialah metode penetapan harga berbasis permintaan, berbasis persaingan, berbasisi biaya dan berbasis laba.

Metode Penetapan Harga Berbasis Permintaan

Adalah suatu metode yang menekankan pada faktor-faktor yang mempengaruhi selera dan preferansi pelanggan daripada faktor-faktor seperti biaya, laba, dan persaingan.
Permintaan pelanggan sendiri didasarkan pada berbagai pertimbangan, diantaranya yaitu:

  1. Posisi produk dalam gaya hidup pelanggan, ialah mengenai produk itu sebagai simbol status atau sebagai produk yang digunakan sehari-hari.
  2. Kemauan pelanggan untuk membeli.
  3. Pasar potensial bagi produk.
  4. Manfaat yang diberikan produk itu kepada pelanggan.
  5. Sebagai sifat persaingan non harga.
  6. Perilaku konsumen secara umum.
  7. Segmen-segmen dalam pasar.
  8. Harga produk-produk substitusi.
  9. Kemampuan bagi para pelanggan untuk membeli (daya beli).
Baca Juga  Pengertian, Fungsi, Jenis dan Manfaat Pajak

Paling sedikit ada 7 metode dalam penetapan harga yang termasuk melalui metode penetapan harga berbasis permintaan, yaitu:

1. Skimming Pricing

Yang dimaksud dengan Skimming Pricing adalah metode penetapan harga dengan strategi penerapan harga yang tinggi bagi suatu produk baru/inovasi melalui tahap perkenalan, setelah itu menurunkan harga saat persaingan mulai berjalan ketat.

Strategi demikian dapat berjalan baik ketika konsumen tidak sensitif terhadap harga, akan tetapi dapat menekankan pertimbangan-pertimbangan kualitas, inovasi, dan kemampuan produk dalam memuaskan kebutuhan.

2. Penetrasion Pricing

Melalui strategi demikian perusahaan bisa dengan memperkenalkan suatu produk baru melalui harga rendah dengan harapan akan mendapatkan volume penjualan yang besar secara relatif singkat.

Strategi ini bertujuan untuk mencapai skala ekonomis dan mengurangi biaya per unit. Pada saat bersamaan strategi penetrasi dapat mengurangi minat dan kemampuan pesaing sebab harga yang rendah dapat menyebabkan marjin yang didapatkan setiap perusahaan menjadi terbatas.

3. Prestige Pricing

Yang dimaksud dengan Prestige Pricing ialah strategi dalam menetapkan tingkat harga yang tinggi sehingga untuk konsumen dapat peduli dengan statusnya akan tertarik dengan produk demikian, dan selanjutnya membelinya.

Sedangkan ketika harga diturunkan pada tingkat tertentu, maka permintaan terhadap barang atau jasa demikian akan turun.

Produk-produk yang sering dikaitkan dengan prestige pricing ialah contohnya permata, berlian, mobil mewah, dan sebagainya.

4. Price Lining

Yang dimaksud dengan Price Lining merupakan suatu metode penetapan harga yang biasa digunakan pada tingkat pengecer. Melalui metode penetapan harga ini, diketahui penjual menentukan beberapa tingkatan harga pada seluruh barang yang dijual.

Adapun contoh Price Lining yang mudah ialah sebuah toko yang menjual macam-macam sepatu dengan model, ukuran dan kualitas yang berbeda, menentukan 3 tingkatan harga ialah Rp. 30.000, -; Rp. 50.000,-; dan Rp. 100.000, -.

Baca Juga  4 Pengertian Harga, Fungsi, Tujuan & Jenis Harga

Hal ini akan memudahkan dalam pengambilan keputusan bagi konsumen untuk membeli dengan harga yang sejalan kemampuan keuangan mereka.

5. Old-Even Pricing

Metode penetapan harga ini biasanya dipakai untuk penjualan barang pada tingkat pengecer.

Dalam metode ini, harga yang ditetapkan dengan angka ganjil atau harga yang besarnya mendekati jumlah genap tertentu.

Misalnya harga Rp. 2.975 bagi sekelompok konsumen tertentu masih beranggapan harga tersebut masih berada dalam kisaran harga Rp 2.000-an.

6. Demand-Backward Pricing

Yang dimaksud dengan Demand-Backward Pricing ialah suatu metode penetapan harga melalui proses berjalan ke belakang.

Arti dari hal ini merupakan perusahaan memperkirakan suatu tingkat harga yang bersedia dibayar konsumen,

Selanjutnya perusahaan menentukan margin yang perlu untuk dibayarkan kepada wholesaler dan retailer. Setelah itu baru harga jualnya dapat ditentukan.

7. Bundle Pricing

Yang dimaksud dengan Bundle Pricing merupakan suatu metode penetapan harga dengan melakukan strategi pemasaran dua atau lebih produk dalam satu harga paket.

Metode ini melalui pandangan bahwa konsumen untuk lebih menghargai nilai suatu paket tertentu secara keseluruhan dibandingkan dengan nilai masing-masing item secara individual.

Contohnya saja melalui travel agency, yang diketahui menawarkan paket liburan yang terdiri atas transportasi, akomodasi, dan konsumsi.

Diketahui ini dengan metode demikian dapat memberikan manfaat besar bagi pembeli dan penjual.

Pembeli dapat menghemat biaya total, menurut penjual dapat menekan biaya pemasarannya.

Metode Penetapan Harga Berbasis Biaya

Dalam metode ini terdapat faktor penentu harga utama sebagai aspek penawaran atau biaya bukan aspek permintaan. Dalam metode ini, harga ditentukan melalui biaya produksi dan pemasaran yang ditambah dengan jumlah tertentu.

Hal itu sehingga dapat menutupi biaya-biaya langsung, biaya overhead, dan laba. Metode penetapan harga diketahui dengan berbasis biaya terdiri dari:

1. Standard Markup Pricing

Yang dimaksud dengan Standrd Markup Pricing merupakan suatu metode penetapan harga yang ditentukan melalui jalan menambahkan persentase (markup) tertentu melalui biaya pada semua item dalam suatu kelas produk.

Persentase markup besarnya diketahui bervariasi hal itu sejalan dengan pada jenis produk yang dijual.

Biasanya produk yang tingkat perputarannya tinggi dikenakan markup yang lebih kecil daripada produk yang tingkat perputarannya rendah.

Baca Juga  Pengertian Penjualan, Tujuan, Jenis & Faktor Yang Mempengaruhi Penjualan

2. Cost Plus Persentage of Cost Pricing

Merupakan penetapan harga yang ditentukan dengan jalan menambahkan persentase tertentu terhadap biaya produksi atau kontruksi. Metode ini seringkali digunakan untuk menentukan harga satu item atau hanya beberapa item.

Misalnya suatu perusahaan arsitektur menetapkan tarif sebesar 15% dari biaya konstruksi sebuah rumah.

Jadi, bila biaya konstruksi sebuah rumah senilai Rp 100 juta dan fee arsitek sebesar 15% dari biaya konstruksi (Rp 15 juta), maka harga akhirnya sebesar Rp 115 juta.

3. Cost Plust Fixed Fee Pricing

Metode ini banyak diterapkan dalam produk-produk yang sifatnya sangat teknikal, misalnya saja mobil, pesawat, atau satelit.

Dalam strategi ini, pemasok atau produsen akan mendapat ganti atas seluruh biaya yang dikeluarkan, seberapapun besarnya.

Tetapi produsen atau pemasok itu hanya mendapatkan fee tertentu sebagai laba yang besarnya tergantung pada biaya final proyek tersebut yang disepakati bersama.

Metode Penetapan Harga Berbasis Laba

Metode ini berusaha menyeimbangkan pendapatan dan biaya dalam mpenetapan harganya.

Upaya ini dapat dilakukan atas dasar target volumelaba spesifik atau dinyatakan dalam bentuk persentase terhadap penjualan atau investasi.

Metode penetapan harga berbasis laba ini terdiri dari target profit pricing, target return on sales pricing, dan target return on investment pricing.

Metode Penetapan Harga Berbasis Persaingan

Selain berdasarkan pada pertimbangan biaya, permintaan, atau laba, harga juga dapat ditetapkan atas dasar persaingan, yaitu apa yang dilakukan pesaing.

Metode penetapan harga berbasis persaingan terdiri dari customary pricing; above, at, or below market pricing; loss leader pricing; dan sealed bid pricing.

Demikianlah informasi mengenai 4 Metode Penepatan Harga dan Contoh Penetapan Harga. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Sekian dan terima kasih. Salam berbagi teman-teman.

0 votes, average: 0.00 out of 5
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, average: 0.00 out of 5)
You need to be a registered member to rate this.
Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *