Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Menu

[ Jawaban ] Latar Belakang Pertempuran Surabaya 10 November 1945

Inilah jawaban benar tentang pertanyaan latar belakang pertempuran surabaya. Seperti kita ketahui bersama bahwa pertempuran Surabaya adalah suatu pertempuran yang dilakukan oleh tentara dengan milisi pro-kemerdekaan Indonesia melawan tentara Britania Raya dan India Britania. Pada puncaknya terjadi di tanggal 10 November 1954. Pada pertempuran ini merupakan perang pertama yang dilakukan oleh pasukan Indonesia melawan pasukan asing sesudah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat yang tercatat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang telah menjadi simbol nasional atas perlawanan tentara dan rakyat Indonesia dengan kolonialisme. Setelah pertempuran ini, dukungan rakya Indonesia dan dunia internasional terhadap apa yang menjadi perjuangan kemerdekaan Indonesia itu semakin kuat sehingga 10 November selalu diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Pahlawan di Indonesia.

Saat pasukan sekutu mendarat di akhir Oktober 1945, Surabaya dianggap sebagai benteng bersatu yang kuat di pimpim pemuda. Pertempuran pecah pada tanggal 30 oktober sesudah komandan pasukan Britania, Brigadir A.W.S. Mallaby tewas dalam aksi baku tembak. Britania akhirnya melakukan serangan belasan punitif pada tanggal 10 November dengan dibantu pesawat tempur. Pasukan kolonial akhirnya merebut sebagian besar kota hanya dalam waktu 3 hari, pasukan REpublik yang memiliki minim persenjataan melawan selama tiga minggu dan ribuan orang pun meninggal dunia saat penduduk kota mengungsi ke pedesaan.

Walaupun kalah dan kehilangan banyak anggota dan minimnya persenjataan, pertempuran yang dilakukan oleh pasukan Republik Indonesia membangkitkan semangat bangsa Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaannya dan menarik perhatian dari dunia Internasional. Belanda tidak lagi menganggap Republik Indonesia sebagai kumpulan pengacau tanpa adanya dukungan rakyat. Pertempuran ini juga telah meyakinkan Britania untuk dapat mengambil sikap netral dalam revolusi nasional Indonesia, beberapa tahun kemudian. Akhirnya Britania mendukung perjuangan Indonesia pada forum Perserikatan bangsa-bangsa.

Latar Belakang Pertempuran Surabaya

latar belakang pertempuran surabaya
latar belakang pertempuran surabaya

Di bawah ini ada beberapa tahapan latar belakang pertempuran surabaya yang puncaknya terjadi pada kematian Brigadir Jenderal Mallaby.

Kedatangan Tentara Jepang ke Indonesia

tentara jepang di masa penjajahan

Pada tanggal 01 MAret 1942, tentara Jepang akhirnya mendarat di Pulau Jawa dan tujuh hari selanjutnya pada tanggal 08 Maret 1942, pemerintah kolonial Belanda akhirnya menyerah tanpa syarat kepada pihak Jepang berdasar dari perjanjian Kalijati. Setelah melakukan penyerahan tanpa syarat tersebut, akhirnya pulau Jawa secara resmi dikuasai oleh pihak Jepang.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

TIga tahun selanjutnya, pihak Jepang menyerah tanpa syarat kepada pihak Sekutu sesudah dijatuhkannya bom Atom oleh pihak Amerika Serikat di Nagasaki dan Hiroshima. Peristiwa itu terjadi di bulan Agustus 1945. Dalam kekosongan kekuasaan asing tersebut, akhirnya Soekarno kemudian memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di tanggal 07 Agustus 1945.

Kedatangan Tentara Inggris dan Belanda

tentara afnei nica

Setelah kekalahan dari pihak Jepang, rakyat dan pejuang Indonesia berupaya untuk melucuti senjata para tentara Jepang. Maka muncullah pertempuran-pertempuran yang telah memakan banyak korban di banyak daerah. Saat gerakan untuk melucuti senjata pasukan Jepang sedang dilakukan, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di daerah Jakarta. KEmudian mendarat di daerah Surabaya di tanggal 25 Oktober 1945. Tentara Inggris datang ke Indonesia itu tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) atas hasil keputusan dan atas nama blok sekutu, dengan tujuan tugas untuk dapat melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang masih di tahan oleh pihak Jepang, serta memulangkan tentara Jepang kembali ke negerinya. Akan tetapi, setelah daripada itu, pihak tentara Inggris yang datang membawa misi untuk mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negara Jajahan Hindia Belanda dimana NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut memboncenginya bersama dengan rombongan tentara Inggris atas tujuan tersebut. Hal itulah yang memicu gejolak rakyat Indonesia dan akhirnya memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia dimana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA.

Baca Juga  Asal-Usul Teori Evolusi Manusia

Insiden di Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya

insiden hotel yamato

Setelah dikeluarkannya maklumat pemerintah Indonesia di tanggal 31 Agustus 1945 yang telah menetapkan bahwa mulai pada tanggal 01 September 1945 bendera Nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di semua wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut semakin meluas ke penjuru pelosok kota surabaya. Puncak dari gerakan pengibaran Bendera di Surabaya itu terjadi pada insiden pengrobekan bendera di Yamato Hoteru / Hotel Yamato (Bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye di zaman kolonial, sekarang dinamakan Hotel Majapahit) di Jalan Tunjungan no. 65 Surabaya.

Sekelompok orang Belanda yang berada di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman pada malam harinya tanggal 18 September 1945, tepatnya di pukul 21.00 mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan kepada pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat paling atas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan harinya, para pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi pusat kemarahan karena mereka telah menganggap bahwa Belanda sudah menghina kedaulatan Indonesia, dimana hendak mengembalikan lagi kekuasaannya di Indonesia dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah putih yang sedang dilakukan di Surabaya.

Tidak lama setelah berkumpulnya massa di Hotel Yamato, Residen Soedirman, pejuang dan diplomat yang pada saat itu sedang menjabat sebagai wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui oleh pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai residen daerah kota Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa kemudian masuk ke Hotel Yamat dikawal oleh Hariyono dan Sidik. Sebagai perwakilan RI dia berundang kepada Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta supaya bendera Belanda bisa segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Pada perundingan ini, Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda. Akhirnya perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan Pistol dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan tersebut. Ploegman pun kemudian tewas dicekik oleh SIdik yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendegar letusan pistol Ploegman, sementara itu Hariyono dan Soedirman melarikan diri ke luar dari Hotel Yamato. Sebagian pemuda berebut untuk naik ke atas Hotel untuk bisa menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang pada awalnya bersama Soedirman kembali lagi masuk ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera bersama dengan Koesno Wibowo yang berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian warna birunya dan menggereknya ke puncak tiang bendera sehingga kembali lagi menjadi bendera merah putih.

Setelah insiden yang terjadi di Hotel Yamato, di tanggal 27 Oktober 145 maka meletuslah pertempuran pertama antara pihak Indonesia melawan Tentara Inggris. Serangan-serangan kecil tersebut yang dikemudian hari menjadi serangan umum yang telah banyak memakan korban jiwa pada kedua belah pihak antara Inggris dan Indonesia yang akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan kepada Presiden Soekarno untuk bisa meredakan situasi.

Kematian Brigadir Jenderal Mallaby

kematian brigadir jenderal mallaby

Setelah terjadi gencatan senjata antara pihak tentara Inggris dan Indonesia yang ditandatangani pada tanggal 29 Oktober 1945, maka kondisi berangsur-angsur mereda. Meskipun begitu, tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara tentara inggris dan rakyat di Surabaya. Bentrokan-bentrokan bersenjata yang terjadi di Surabaya tersebut mencapai puncaknya dengan terbunuhnya seorang Brigadir Jenderal bernama A.W.S. Mallaby yang merupakan pimpinan tentara Inggris Jawa Timur pada tanggal 30 Oktober 1945 pukul 20.30. Mobil Buick yang sedang ditumpangi oleh Brigadir Jenderal Mallaby berpapasan dengan sekelompok Milisi Indonesia saat akan melintasi Jembatan Merah. Kesalahpahaman yang menyebabkan terjadinya aksi tembak-menembak yang juga berakhir dengan ledakan granat sehingga menyebabkan jenazah Mallaby sangat sulit untuk dikenali. Kematian Mallaby ini telah menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia dan menyebabkan pada keputusan pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh untuk mengeluarkan ultimatum 10 November 1945 untuk meminta kepada pihak Indonesia menyerahkan semua persenjataan dan menghentikan perlawanan kepada tentara AFNEI dan Administrasi NICA.

Baca Juga  Sejarah : Proses Masuknya Islam di Indonesia

Perdebatan Tentang Pihak Penyebab Baku Tembak

Tom Driberg, seorang anggota Parlemen Inggris yang breasal dari Partai Buruh Inggris (Labour Party) pada tanggal 20 Februari 1946 dalam perdebatan Parlemen Inggris (House of Commons) meragukan bahwa kejadian baku tembak ini dimulai oleh pasukan Indonesia. Dia menyampaikan bahwa aksi baku tembak tersebut dianggap disebabkan oleh adanya kesalahpahaman 20 anggota pasukan India di bawah pimpinan Mallaby yang memulai baku tembak tersebut tak mengetahui bahwa gencatan senjata yang sedang terjadi karena mereka terputus dari kontak dan telekomuniksai. Berikut kutipan Tom Driberg:

“… Sekitar 20 orang tentara India milik Inggris, di sebuah bangunan yang berada di sisi lain alun-alun, telah terputus dari komunikasi lewat telepon dan tidak mengetahui tentang gencatan senjata. Mereka menembak secara sporadis kepada massa Indonesia. Brigadir Mallaby keluar dari diskusi (gencatan senjata, berjalan lurus menuju arah kerumunan, dengan keberanian besar dan berteriak kepada serdadu India untuk bisa menghentikan tembakan. Mereka patuh kepadanya. Mungkin setengah jam kemudian, massa di alun-aluin menjadi bergejolak lagi. Brigadir Mallaby, pada titik tertentu dalam diskusi, memerintahkan kepada Serdadu India untuk menembak lagi. Mereka melepaskan tembakan dengan dua senapan Bren dan akhirnya massa bubar dan lari untuk berlindung. Selanjutnya, pecah pertempuran lagi dengan sangat gencar. Jelas bahwa saat Brigadir Mallaby memberikan perintah untuk membuka tembakan lagi8, perundingan gencatan sebenarnyasudah pecah, setidaknya secara lokal. Dua puluh menit sampai setengah jam setelah itu, Dia (Mallaby) sayanngnya tewas di dalam mobilnya. Meskipun kita tidak benar-benar yakin apakah dia dibunuh oleh orang Indonesia yang mendekati mobhilnya yang meledak bersamaa dengan serangan terhadap dirinya (mallaby)

Saya pikir ini tidak bisa dituduh sebagai pembunuhan licik.. karena informasi saya peroleh dari saksi mata yakni seorang perwira inggris yang benar-benar berada di tempat kejadian tersebut, yang niat jujurnya saya tidak memiliki alasan untuk dipertanyakan.”

Semboyan Merdeka atau Mati

Ultimatum-ultimatum yang telah disebarkan lewat pamflet udara dari pihak Inggris membuat rakyat Surabaya menjadi sangat marah.Nyaris semua sudut kota Surabaya telah dipenuhi oleh pemuda dan kelompok bersenjata. DAlam ingatan Suhario alias Hario Kecik (wakil Komandan TEntara Polisi Keamanan Rakyat), di sekitarnya berkumpul ratusan pemuda, semuanya membawa senjata dan pistol otomatis. Hario kecil mengatakan bahwa mereka yang disebut tak lengkap, membawa granat. Pertempuan antara pemuda dan kelompok bersenjata di Surabaya memutuskan untuk mengangkat Sungkono sebagai Komandan Pertahanan Kota Surabaya dan mengangkat Surachman menjadi komandan pertempuran. Dari sinilah, muncul Semoboyan “Merdeka atau Mati” dan sumpah Pejuang Surabaya:

Baca Juga  Sejarah Homo Soloensis dan Ciri-Ciri Homo Soloensis

TEtap Merdeka!

Kedaulatan Negara dan Bangsa Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 194 akan kami pertahankan secara sungguh-sungguh, penuh tanggungjawab bersama, bersatu, ikhlas berkorban dengan tekad: Merdeka atau mati! Sekali Merdeka tetap merdeka!.

Surabaya, 09 November 1945, Jam 18:46.

Latar Belakang Pertempuran Surabaya 10 November 1945

Setelah terbunuhnya, Brigadir Jenderal A.W.S Mallaby, dan digantikan oleh Mayor Jenderal RObert Manserg mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang indonesia yang masih bersenjata mesti melapor dan metelakkan senjatannya di tempat yang sudah ditentukan dan menyerahkan diri dengan cara mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum pada tanggal 10 November 1945, jam 06.00.

Ultimatum tersebut selanjutnya dianggap sebagai suatu penghinaan bagi para pejuang dan rakyat yang sudah membentuk banyak badan-badan perjuangan atau milisi. Ultimatum tersebut ditolak oleh pihak Indonesia dengan alasan bahwa Republik Indonesia pada waktu itu sudah berdiri, dan Tentara Keamanan RAkyat (TKR) juga sudah dibentuk menjadi pasukan negara. Selain daripada itu, banyak orangnisasi perjuangan bersenjata yang sudah dibentuk oleh masyarakat, termasuk dari kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang berupaya menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang telah menyusupi tentara Inggris di Indonesia.

Pada tanggal 10 November pagi, tentara Inggris akhirnya memulai melancarkan serangan. Pasukan sekutu memperoleh perlawanan dari pasukan dan milisi pemuda indonesia.

Selain dari Bung Tomo, ada juga tokoh tokoh yang berpengaruh lainnya dalam menggerakkan rakyat Surabaya di masa itu, beberapa datang dari latar belakang agama seperti KH. Wahab Hasbullah, KH. Hasyim Asy’ari, serta kyai-kyai pesantren lainnya yang juga menggerakkan para santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan (pada saat itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan akan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para ulama dan kiyai) sehingga perlawanan pihak Indonesia itu berlangsung alot dari hari ke hari, sampai berminggu-minggu, perlawanan rakyat yang pada awalnya diadakan secara spontan dan tidak terkoordinasi, semakin hari semakin teratur. Pertempuran ini mencapai waktu sekitar 3 minggu.

Setidaknya ada 6000 sampai 16000 pejuang dari pihak Indonesia yang sudah tewas dan 200.000 rakyat Sipil mengungsi dari Surabaya. Korban dari pasukan inggris dan india kira-kira mencapai 600 sampai 2000 tentara. Pertempuran berdarah di Surabaya itu telah memakan ribuan korban jiwa akhirnya menggerakkan perlawanan rakyat yang ada di semua wilayah Indonesia untuk dapat melakukan perlawanan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang sudah menjadi korban pada tanggal 10 november ini selanjutnya dikenal sebagai hari Pahlawan yang sampai sekarang masih diperingati.

Nah, demikianlah informasi tentang latar belakang pertempuran surabaya pada tanggal 10 November 1945. Semoga saja informasi ini dapat memberikan dan menambah wawasan pengetahuan tentang pemahaman pertempuran yang terjadi di Surabaya.

0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, average: 0.00 out of 5)
You need to be a registered member to rate this.
Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *