Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Menu

Kisah lengkap kakek bertongkat bubarkan balapan liar, tak gentar dikeroyok puluhan orang | Unik dan Aneh

Hai guys selamat datang di web artikelsiana.com. Kali ini kita akan menyajikan informasi menarik mengenai Kisah lengkap kakek bertongkat bubarkan balapan liar, tak gentar dikeroyok puluhan orang. Anda jangan lupa yah untuk membagikan tulisan di sosial media kalian.

Setelah beberapa bulan dengan tindakan berani, seorang bocah lelaki bernama Daffa mengendarai sepeda motor di trotoar, kali ini media sosial di kota Semarang, Jawa Tengah, kembali bersemangat dengan kehadiran kakek bambu di Jalan Suratmo, Semarang Barat. ras liar tersebar. Inilah keseluruhan cerita!

Karena kegembiraan, laporan Instagram dari walikota Semarang @ hendrarprihadi juga memposting foto kakek suka diemong yang mengendarai sepeda motor di Jalan Suratmo. "Mari kita beri penghormatan kepada Kakek Sumarjono!", Tulis Hendrar dalam keterangannya.

Mbah Sumarjono terbukti sangat populer di Jalan Suratmo. Pada hari Rabu (22/6/2016) sore Mbah Sumarjono telah berdiri dengan tongkatnya dan menghalangi para penunggang liar, yang rata-rata masih remaja.

"Seringkali seringkali sulit untuk balapan dan dipukuli oleh orang-orang di malam hari," kata seorang pembalap liar tidak lebih dari 17.

Sore ini, Sumarjono tidak mengusir penunggang liar seperti biasa karena anggota sektor kepolisian Semarang Barat telah dihancurkan. Akibatnya, puluhan ABG yang sering memacu sepeda motor di Jalan Suratmo ditangkap.

Kapolres Semarang Barat Kompol Cahyo Widyatmoko mengatakan bahwa situs itu memang sering digunakan sebagai tempat untuk balapan liar karena jalannya lurus dan mulus, meskipun ada banyak pengguna jalan. Pengemudi liar sangat keras kepala karena mereka selalu kembali walaupun mereka dirawat.

Baca Juga  Bikin Ngilu Kasus Pembunuhan Disertai Mutilasi "Barang Antik" | Aneh dan Unik

"Seringkali ada arena pacuan kuda (balap liar) yang digunakan, kami merencanakan penggerebekan beberapa hari yang lalu, tetapi ternyata hujan," kata Cahyo, seperti dilaporkan. detikNews.

Kisah kakek yang dibesarkan ternyata sangat ingin tahu, terutama warga kota Semarang. Siapa sebenarnya Sumarjono dan mengapa Anda berani sendirian di tempat balap liar, yang juga cenderung aksi Begal tersebut.

Buat Mbah Sumarjono berani

Keberanian kakek 63 tahun itu terbukti mengkhawatirkan karena dia adalah korban serangan di Jalan Suratmo, yang pelakunya adalah pembalap liar.

Sumarjono mengakui bahwa dia telah diam selama lebih dari tiga bulan, meskipun dia tahu bahwa sering ada balapan liar setiap malam. Dia merasa khawatir karena rumahnya tidak jauh dari Jalan Suratmo, di Jalan Taman Sri reeki Timur RT 10 RW 06, Gisikdrono, Westemarang.

Kakek Sumarjono

"Setiap malam ada trek yang penuh di malam hari, saya merasa berisik, rumah saya sangat dekat," kata Sumarjono.

Suatu ketika, ketika Sumarjono menyeberangi Jalan Suratmo, ia melihat seorang wanita muda hendak menyeberang sepeda motor dan tertabrak sepeda motor. Wanita itu dihancurkan oleh sepeda motor pengendara liar. Pelaku melarikan diri dan dianiaya oleh penduduk sementara Mbah Sumarjono memilih korban.

"Ada seorang anak perempuan yang pergi ke kuburan, ada jejak-jejak mereka dipukul pada saat itu, dan anak perempuan itu dihancurkan oleh sepeda motor yang menjalankan sepeda motor dan dianiaya oleh penduduk," kata kakek, yang sudah ada di sana Punya 6 cucu.

Baca Juga  Unik! Ada hari naik kereta tanpa celana di AS | Unik dan Aneh

Sejak kejadian atau sekitar tiga bulan lalu Sumarjono tidak bisa diam. Berbekal tongkat bambu sepanjang 1,5 meter, ia selalu datang ke Jalan Suratmo ketika pembalap liar berkumpul.

"Ketika hari-hari biasa dimulai sekitar jam 8:00 malam atau lebih, itu jam 4 sore untuk Maghrib," jelas Mbah Sumarjono.

Berkali-kali ia menyebarkan ras liar, tetapi mereka terus kembali seolah-olah meremehkan upaya Mbah Sumarjono. Tapi Sumarjono tidak menyerah sampai dia merasakan hasilnya, meskipun dia tidak bisa sepenuhnya menekan aksi balap liar di Jalan Suratmo.

"Ya, sudah mulai bekerja, berkurang oleh orang-orang yang berlomba." Jika polisi hanya masuk mobil, mereka tidak akan bubar, "katanya.

Sumarjono sebenarnya adalah kakek normal dengan 6 cucu. Pria asal Sulistyowati (60) itu memang pekerja keras, karena pada sore hari ia membantu keponakannya di toko bahan di Jalan Untung Suropati. Malam itu, Sumarjono menjadi petugas keamanan di pemukiman Karonsih.

Sekarang, Jalan Suratmo larut begitu sering sehingga ia dijuluki "Mbah Ratmo" atas nama jalan. Para pembalap liar, yang rata-rata masih anak-anak, akan dijuluki Mbah Ratmo ketika kakek suka diemong muncul.

Selalu dipukuli

Mbah Sumarjono sering menghadapi perlawanan dalam tindakannya yang berani. Dia diserang oleh 25 penunggang liar. Hebatnya, dia masih menang. Pengendara liar berlari lebih panas.

Sumarjono lupa persis kapan acara itu berlangsung, tetapi tentu saja pada malam sebelum Ramadhan. Saat itu Sumarjono melakukan aksinya seperti biasa dengan tongkat bambu bersenjata. Ternyata ada sekelompok penunggang liar yang tidak puas dengan Mbah Sumarjono karena mereka telah membubarkan mereka.

Baca Juga  Kisah si tampan di Purwakarta pacaran dengan gadis yang biasa-biasa saja | Unik dan Aneh

"Saat itu malam hari, saya diserang oleh 25 orang dan mereka bahkan berperang melawan pejuang yang diundang," kata Sumarjono ketika dia ditabrak oleh AFP.

Salah satu pria yang bekerja sama di Mbah Sumarjono sedang membawa tongkat yang hampir menabraknya. Meskipun berada di minoritas, ternyata Sumarjono telah berhasil membela diri. Sesaat kemudian dia berhasil menangkis para penunggang liar.

"Dia membawa tongkat itu dan saya mematahkannya, pecahan itu mengenai hidung saya sampai berdarah, saya juga menggunakan tongkat, mereka terus berjalan," kata Mbah Sumarjono.

Ia kemudian dibawa pulang oleh warga ke rumahnya di Jalan Taman Sri reeki Timur RT 10 RW 06, Gisikdrono, Westemarang, dekat Jalan Suratmo. Di depan istrinya, Mbah Sumarjono tidak mengerang kesakitan dan tetap kuat.

"Pada pukul 8:30 pagi WIB, dia ditemani oleh anak-anak kecil yang mengatakan bahwa hidungnya berdarah dari kayu, tetapi masih berfungsi seperti biasa," kata Sulistyowati saat dia menemuinya di rumah.

Tidak Bondho yang putus asa

Sumarjono tidak bisa menolak jumlah penunggang liar karena modal. Tetapi karena dia memiliki artikel seni bela diri. Bahkan, dia masih mengajar di padepokan Pencak Silat Satria di Petelan, Semarang. Selain itu, ia masih aktif berlatih untuk tetap unggul.

"Sejak kelas 4 (SD) bisa menjadi seni bela diri, sekarang saya berlatih Pencak Silat, yang bekerja dalam energi internal," kata Sumarjono.

Wow, salam Mbah Sumarjono …

Gimana guys? Mudah-mudahan mas bro bisa terhibur dan pengetahuannya menjadi bertambah. Jangan lupa yah untuk bagikan tulisan di sosial media kalian.

0 votes, average: 0.00 out of 5
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, average: 0.00 out of 5)
You need to be a registered member to rate this.
Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *