Menu

Ingin Jadi Insan Kamil, Kenali 4 Komponen Hati Ini Agar Jadi Sempurna

Artikelsiana.com – Apa sih yang dimaksud Insan Kamil?.. Secara umum arti “insan kamil” biasa disebut dengan manusia sempurna.

Menurut Al-Jilli bahwa Insan Kamil adalah “Insân kamîl pertama sejak adanya wujud hingga akhir lamanya, yang mengkristal pada setiap zaman” “Dan Insân kamîl adalah Nabi Muhammad SAW.” “Maka Insân kamîl merupakan asalnya wujud, atau menjadi poros yang kemudian berkembang atasnya roh wujud dari awal hingga akhirnya”.

Selain itu, ada yang mengatakan bahwa arti insan kamil sebenarnya adalah Roh Muhammad SAW, mengkristal dalam diri Nabi sejak Nabi Adam hingga Rasulullah SAW,

Kemudian para wali dan orang-orang saleh, sebagai cermin Tuhan yang diciptakan atas nama-Nya dan refleksi gambaran nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Tidak hanya Al-Jilli, seorang sufi abad ke-16 dalam hal ini Syeikh Nuruddin Ar-Raniri mengatakan bahwa dengan pengertian yang sama terhadap konsep tersebut di atas, yakni Insân kamîl adalah manusia mempunyai dalam dirinya hakikat Muhammad,

atau disebut Nur Muhammad sebagai makhluk pertama kali diciptakan oleh Allah, dan sebagai sebab bagi dijadikannya alam semesta ini.

Baca Juga  Fungsi dan Manfaat Beriman Kepada Allah swt.

Menurut pendapat dari Imam al-Ghazali yang tidak jauh beda dengan para ahli tasawuf lainnya. Ia berpendapat bahwa empat atribut yang dipunyai oleh hati; pertama ialah sab’iyyah (binatang buas), bahimiyyah (binatang rakus yang bersumber dari syahwat), syaithaniyyah (setan) dan rabbaniyyah (Tuhan).

Fungsi Hati manusia adalah menyatukan 4 sifat demikian secara sekaligus. Kita adalah makhluk yang mempunyai banyak kepribadian.

Demikian ini juga disebut dalam hal psikologi modern. Dalam cabang ilmu ini menyebutkan bahwa orang gila sajalah yang mempunyai kepribadian banyak.

Sehingga kita ini merupakan gila sebab dari banyak kepribadian yang sama halnya dijelaskan oleh kalangan sufi diatas.

Menurut Imam al-Ghazali, dimana sebagai manusia perlu untuk menggabungkan 4 atribut hati ini secara langsung sebagai ciri hati manusia.

Al-Ghazali menggambarkan bahwa seolah-olah yang terdapat dalam diri ini ada anjing (sab’un: binatang buas), babi (bahimah; binatang rakus dan pengejar syahwat), setan dan juga al-Hakim (Yang Maha Bijak). Ghadhab (marah) adalah sumber energi.

Orang yang tidak mempunyai jiwa sab’iyyah tidak dapat marah walaupun disiksa. Ia akan pasrah saja. Orang begitu umumnya ialah penakut dan pengecut.

Baca Juga  Pengertian Iman Kepada Hari Akhir, LENGKAP

Terkadang sebagai manusia yang membutuhkan jiwa sab’iyyah ini. Demikian ini terjadi, terlihat dari yang mendorong manusia untuk bertindak dan bersaing.

Dengan dorongan inilah, manusia khususnya umat muslim dapat menjadi maju sebab terdorong untuk terus pantang kenal menyerah.

Selain itu adalah Syahwat (potensi bahimiyyah). Ini merupakan suatu hal yang berguna bagi manusia.

Sebab dengan potensi bahimiyyah ini, maka kita memiliki keinginan yang banyak, seperti mobil, rumah, makan, baju dan tidur enak.

Kita juga mempunyai syahwat. Kalau tidak, kita tidak akan memiliki kemauan. Kita akan statis. Sehingga dapat mendorong manusia untuk hidup adalah jiwa babi yang ada dalam dirinya.

Sedangkan untuk atribut syaythaniyyah dan rabbaniyyah terdapat 2 kekuatan yang ada dalam hati manusia yang mengeksploitasi dan mengandalikan 2 kekuatan sebelumnya.

Manusia sebenarnya pada dirinya terjadi pertarungan antara 2 kekuatan tersebut. Jika setan yang menang, orang akan sangat merusak dan rakus.

Ia akan makan apa saja; tidak hanya makan nasi, akan tetapi juga tanah orang lain. Namun apabila potensi itu dapat dikendalikan oleh akal (rabbaniyyah), keduanya hanya akan bergerak kearah yang bermanfaat bagi dirinya dan seluruh manusia.

Baca Juga  6 Rukun Iman Adalah, Pengertian dan Lengkap Penjelasannya!

Ia akan bersemangat mengumpulkan kekayaan untuk disumbangkan kepada orang yang ada di sekitarnya.

Ingin Jadi Insan Kamil, Kenali 4 Komponen Hati Ini Agar Jadi Sempurna

Menurut Al-Ghazali, bahwa manusia sering mengejek orang-orang yang menyembah berhala.

Padahal siapa tahu, kita sebenarnya sedang menyambah anjing/babi yang ada dalam diri kita.

Kalau anjing yang kita sembah, kita akan menjadi pendengki dan pendendam. Kalau babi yang kita sembah, kita akan menjadi orang yang rakus dan serakah.

Kalau setan yang kita sembah, kita akan pintar menipu dan berkhianat; pintar mencari-mencari alasan untuk menutupi kesalahan dan mencari pembenaran bagi dosa-dosa kita.

Menurut orang-orang salih, apa atau siapa yang kita sembuh, itulah yang akan membentuk ruh kita.

Oleh karena itu, agar ruh kita menjadi insan kamil, manusia yang sempurna, kita harus berusaha menjadi orang bijak. Mengendalikan hawa nafsu kita dengan bimbingan syariat. Dengan begitu ruh kita bisa menjadi ruh malaikat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *