Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Menu

Doa Sholat Tarawih: Tata Cara, Niat Sholat Tarawih, Keutamaan, Arab & Artinya

Doa Sholat Tarawih: Tata Cara, Niat Sholat Tarawih, Keutamaan, Arab & Artinya – Shalat malam dibulan Ramadhan disebut dengan shalat tarawih yang diartikan sebagai istirahat. Demikian ini dimaksudkan sebab shalat tarawih adalah pemaknaan sebagai bentuk istirahat setelah mengerjakan shalat empat raka’at.

Pengertian Tarawih: Apa itu? 

Secara etimologi, pengertian tarawih merupakan istilah kata yang dipakai bahasa Arab yang merupakan bentuk jamak dari kata tarwihah.

Sedangkan yang sifatnya kebahasaan arti dari Tarawih ialah mengistirahatkan atau istirahat sekali. Apabila dipakai dalam bentuk jamak, maka berarti istirahat beberapa kali, atau minimal tiga kali.

Demikian ini dapat berarti, sebab minimal jamak dalam bahasa Arab ialah terdapat tiga. Shalat tarawih juga disebut dengan Qiyam Ramadhan.

Hal itu serupa dengan etimologi tarawih, karena orang-orang yang melakukannya beristirahat tiap sehabis empat rakaat.

Dengan demikian, pada aspek bahasa, definisi shalat Tarawih adalah shalat yang banyak istirahatnya, minimal tiga kali.

Diketahui bersama dimana shalat tarawih merupakan bagian dalam qiyamul lail atau shalat malam. Akan tetapi shalat tarawih ini dikhususkan atau dikerjakan saat di bulan Ramadhan suci ramadhan saja. 

Maka dari itu, shalat tarawih ini adalah shalat malam yang dilakukan atau dikerjakan pada saat bulan Ramadhan.

Adapun shalat tarawih tidak disyariatkan untuk tidur terlebih dahulu dan shalat tarawih hanya khusus atau dikerjakan di bulan Ramadhan.

Hal itu berbanding terbalik dengan shalat tahajjud dimana shalat tahajjud menurut pendapat pakar fiqih yang pada umumnya bahwa shalat sunnah yang dilakukan setelah bangun tidur dan dilakukan hanya diwaktu malam.

Sehingga para ulama menyepati dimana shalat tarawih dasar hukumnya adalah sunnah (dianjurkan).

Selain dari pada itu, ulama Hanafiyah, Hanabilah, dan Malikiyyah, hukum shalat tarawih adalah sunnah mu’akkad (sangat dianjurkan).

Shalat ini dianjurkan bagi laki-laki dan perempuan. Shalat tarawih merupakan salah satu syi’ar Islam.

Doa Sholat Tarawih: Tata Cara, Niat Sholat Tarawih, Keutamaan, Arab & Artinya

Imam Asy Syafi’i, mayoritas ulama Syafi’iyah, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan sebagian ulama Malikiyah berpendapat bahwa lebih utama shalat tarawih dilaksanakan secara berjama’ah sebagaimana dilakukan oleh ‘Umar bin Al Khattab dan para sahabat.

Kaum muslimin pun terus menerus melakukan shalat tarawih secara berjama’ah. Hal itu lantaran sebagaisyi’ar Islam yang begitu terlihat sehingga hampir sama ketika mengerjakan shalat ‘ied.

JApabila merujuk dalam sebuah landasan buku Fiqih puasa yang dikarang oleh gus Arifin menjelaskan bahwa pengertian dari shalat tarawih adalah shalat sunnah yang dilakukan khusus hanya pada bulan ramadhan,

Dinamakan shalat tarawih karena orang yang melakukan shalat malam bulan ramadhan berhenti sejenak di antara dua kali salam atau setiap empat rakaat.

Sebab dengan duduk tersebut, mereka beristirahat karena lamanya melakukan Qiyam Ramadhan. Bahkan, dikatakan bahwa mereka bertumpu pada tongkat karena lamanya berdiri.

Hal itu sehingga, setiap empat rakaat (dengan 2 salam) disebut Tarwihah, dan semuanya disebut Tarawih.

Selain itu, demikin ini juga dijelaskan oleh Ibn Hajar al-‘Asqallaniy dalam kitab Fath al-Bariy Syarh alBukhariy sebagai berikut:

Artinya: “Shalat jamaah yang dilaksanakan pada setiap malam bulan Ramadhan dinamai Tarawih karena para sahabat pertama kali melaksanakannya, beristirahat pada setiap dua kali salam”

Selain itu, mengapa shalat tarawih disebut dengan Qiyam Ramadhan selain sebagai shalat malam, sebab shalat tarawih juga bertujuan menghidupkan malam-malam bulan Ramadhan.

Manfaat shalat Tarawih merupakan ibadah yang utama dan efektif yang memiliki hikmah dan keutamaan dalam mendekatkan diri kepada Allah.

Menurut sejarah, diera Rasulullah, istilah Tarawih belum dikenal. Selain itu, dalam hadit-haditsnya, Rasulullah juga tidak pernah menyebut kata-kata tarawih. 

Sebab seluruh ibadah sunnah yang dikerjakan dan dilaksanakan pada malam hari, hanya lebih sering disebut  dengan Qiyamu Ramadhan, yang dimana pada tanggal 23 ramadhan kedua hijriyyah, adalah awal Rasulullah mengerjakan Shalat Tarawih. 

Masa sang revolunesiner sejati ini, Rasulullah SAW mengerjakan shalat tarawih berbeda dengan yang pada saat ini dilakukan dimana harus ke mesjid, Nabi SAW terkadang mengerjakannya di rumah. 

Ungkapan ini memiliki landasan hukum sebagaimana dalam dalil hadits dibawah ini: 

Artinya: “Dari ‘Aisyah Ummil Mu’minin ra: sesungguhnya Rasulullah SAW pada suatu malam hari shalat di masjid, lalu banyak orang sholat mengikuti beliau, pada hari berikutnya beliau sholat dan pengikut semakin banyak. Kemudian pada hari ketiga dan keempat orang-orang banyak berkumpul menunggu Nabi saw, namun Nabi saw tidak datang ke masjid lagi. Pada pagi harinya Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya aku lihat apa yang kalian perbuat tadi malam. namun aku tidak datang ke masjid karena aku takut kalau shalat ini diwajibkan pada kalian”. Siti ‘Aisyah berkata: “hal itu terjadi pada bulan Ramadlan”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits ini, memiliki kandungan yang menerangkan bahwa Nabi SAW mengerjakan shalat tarawih, itu pada malam hari yang kedua, dan beliau datang lagi melaksanakan shalat tarawih bersama pengikutnya yang terus bertambah banyak. 

Sedangkan untuk malam yang ketiga dan keempat, dalam hadits itu terkandung bahwa Nabi saw tidak datang ke masjid. Kedatangan itu, lantaran Nabi saw takut shalat Tarawih akan diwajibkan Allah, sebab pengikutnya sangat antusias dan bertambah banyak,

Nabi saw berfikir bahwa Allah sewaktu-waktu akan menurunkan wahyu mewajibkan shalat tarawih kepada umatnya, sebab orang-orang muslimin suka melaksanakannya. 

Apabila demikian ini terjadi, tentu sebagian umatnya terasa begitu berat untuk mengerjakannya. Atau bisa saja akan menjadi sebuah stigma atau dugaan kepada umatnya, bahwa shalat Tarawih telah diwajibkan,

Pikiran itu dapat muncul lantaran shalat Tarawih adalah perbuatan baik yang sering dikerjakan beliau Nabi saw, sehingga umatnya akan menduga dan berpikiran bahwa shalat Tarawih adalah wajib.

Penamaan Shalat Tarawih

Sedangkan menurut tanggapan dari Syaikh Muhammad Ibn Ismail al-Shan’aniy dalam kitabnya berjudul Subul al-Salam Syarh Bulugh al-Maram menjelaskan bahwa mengapa disebut dengan shalat tarawih, hal itu merupakan seolah-olah yang menjadi dasarnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bayhaqiy dari Siti ‘Aisyah sebagai berikut:

“Adapun penamaan shalat itu dengan nama Tarawih seakan-akan jalannya adalah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bayhaqiy dari Siti ‘Aisyah ia berkata:”Sering kali Rasulullah mengerjakan shalat 4 rakaat pada malam hari, lalu beliau Yatarawwah (beristirahat) dan beliau melamakan istirahatnya hingga aku merasa iba”.

Menurut Imam al-Bayhaqiy, bahwa hadis ini diriwayatkan dalam sanad al-Mughirah dan ia bukan orang yang kuat.

Namun, apabila hadits ini memiliki ketetapan yang jelas dan pasti, maka inilah yang menjadi landasan Tarwihah (istirahat) imam pada waktu shalat Tarawih tersebut.

Selain itu, tanggapan tentang asal mula atau penamaan sholat tarawih juga disebut dalam kitab Fathul Muin. Dalam kitab itu, juga diterangkan kenapa shalat Qiyamu ramadhan disebut shalat tarawih, seperti hadits di bawah ini:

“Dinamakan tarawih karena yang mengerjakannya merasakan rilek (istirahat), lantaran panjang mereka berdiri, tiap kali sesudah salam pada setiap dua raka’at”.

Dari pengertian di atas, dapat di simpulkan yang dinamakan Qiyamul lail itu disebut juga dengan Shalat tarawih,

Pengertian Shalat Tarawih Secara Umum

Yang dinamakan shalat tarawih secara umum, adalah shalat sunnah yang dilakukan hanya pada malam bulan ramadhan, dan di setiap dua raka’at atau empat rakaat dilakukan istirahat.

Sejarah Shalat Tarawih

Shalat Tarawih ialah Sunnah dikerjakan atau dilaksanakan oleh seluruh umat Islam di Bulan Suci Ramadhan yang dikerjakan setelah Isya dan biasanya secara berjamaah di Masjid.

Dalam sejarahnya, hal ini terjadi saat Rasulullah melakukan atau mengerjakan Shalat tarawih secara berjamaah.

Baca Juga  Pengertian Qadar, Macam, Dalil & Hikmah Iman Kepada Qadar

Terdapat 3 kali kesempatan sejarah shalat tarawih ini bermula. Pada waktu itu, Nabi Muhammad SAW masuk Masjid pada malam tanggal 23 Ramadhan tahun keduan Hijriah.

Kemudian sejarah atau latar belakang hadirnya shalat tarawih berlanjut saat Nabi SAW melakukan atau mengerjakan Shalat, maka dari itu shalat tersebut dinamakan shalat tarawih. Malam berikutnya pada tanggal 25.

Rasulullah kembali ke masjid untuk melakukan Shalat, pada saat itu para sahabat bertambah banyak. dan pada tanggal 27 Ramadhan juga melakukan shalat.

Kemudian malam-malam selanjutnya para sahabat menunggu untuk shalat Tarawih, dan pada tanggal 29 Ramadhan para sahabat menunggu Nabi ternyata Nabi belum juga hadir.

Pada riwayat yang lain juga disebutkan, dahulu Rasulullah SAW pernah melakukan shalat tarawih di Masjid bersama dengan beberapa sahabat. Namun pada malam berikutnya, jumlah mereka menjadi bertambah banyak.

Dan semakin bertambah lagi pada malam berikutnya. Oleh sebab itu, Rasulullah SAW memutuskan dengan tidak lagi melakukan atau mengerjakan shalat tarawih di masjid bersama para sahabat.

Alasan yang dikemukakan saat itu adalah takut shalat tarawih itu diwajibkan. Karena itu kemudian mereka shalat sendiri-sendiri. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori sebagai berikut:

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihab telah mengabarkan kepada saya ‘Urwah bahwa ‘Aisyah radliallahu ‘anha mengabarkannya bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pada suatu malam keluar kamar di tengah malam untuk melaksanakan shalat di masjid. Maka orang-orang kemudian ikut shalat mengikuti shalat Beliau. Pada waktu paginya orang-orang membicarakan kejadian tersebut sehingga pada malam berikutnya orang-orang yang berkumpul bertambah banyak lalu ikut shalat dengan Beliau. Pada waktu paginya orangorang kembali membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam yang ketiga orang-orang yang hadir di masjid semakin bertambah banyak lagi lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar untuk shalat dan mereka ikut shalat bersama Beliau. Kemudian pada malam yang keempat, masjid sudah penuh dengan jama’ah hingga akhirnya Beliau keluar hanya untuk shalat Shubuh. Setelah Beliau selesai shalat Fajar, Beliau menghadap kepada orang banyak kemudian Beliau membaca syahadat lalu bersabda: “Amma ba’du, sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (semalam). Akan tetapi aku takut nanti menjadi diwajibkan atas kalian sehingga kalian menjadi keberatan karenanya”. Kemudian setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia, tradisi shalat (Tarawih) secara berjamaah terus berlangsung seperti itu”

Waktu Shalat Tarawih

Secara umum, waktu mengerjakan shalat tarawih adalah ba’da shalat isya’ sampai terbit fajar. Akan tetapi, waktu yang paling utama dan baik dalam mengerjakan atau melaksanakan shalat tarawih adalah pada waktu sepertiga akhir malam.

Perlu untuk dicatat secara bersama-sama bahwa yang belum melaksanakan atau mengerjakan shalat Isya, tidak  untuk diperkenankan dalam melakukan atau mengerjakan shalat Tarawih.

Bahkan shalat Tarawihnya menjadi tidak sah. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Yusuf Ibn Ibrahim al-Ardabiliy:

Artinya: “Shalat Tarawih dikerjakan 20 rakaat dengan 10 salam. Seandainya seseorang shalat 4 rakaat dengan satu salam, atau ia shalat Tartawih sebelum shalat fardhu Isya maka batal shalat Tarawihnya.”

Apabila sholat taraweh dikerjakan secara berjamaah, tentunya dapat bermanfaat dengan mengandung kekuataan mahadasyat berupa hikmah dan keutamaan yang dapat didapatkan sebab dikerjakan pada sepertiga malam. 

Mengapa demikian memiliki keutamaan yang besar?. Perlu dicatat bersama bahwa kandungan pada sepertiga malam itu, kita lebih mudah untuk mencapai kekhusukan dari adanya gangguan.

Demikian ini, sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat al-Muzammil Ayat 6-7:

Artinya: “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan, sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang banyak.(QS.AlMuzzamil : 6-7).

Allah juga menjelaskan secara panjang lebar tentang ke afdzalan solat tarawih di dalam penghujung surat Al-Muzzamil :

Artinya: “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, Maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al- Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al- Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai Balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS.Al-Muzzamil: 20). 

Shalat tarawih yang dikerjakan pada waktu itu sangat afdzal, terlebih lagi saat dikerjakan atau dilakukan secara berjama’ah dan dalam biangkai doa yang dilakukan serempak,

Maka dipastikan kekuatannya hampir-hampir tak terbayangkan sebelumnya dan berapa nikmat atau hikmah yang didapatkan ketika mengerjaka sholat taraweh. 

Akan tetapi permasalahannya saat ini, biasakah seluruh umat Islam itu dapat mengerjakan shalat tarawih diwaktu-waktu dengan keutamaan dan hikmah yang begitu istimewa?

Apabila merujuk untuk orang tua, bisa saja dapat displin dalam mengerjakan solat tarawih di waktu ini secara berjama’ah di masjid.

Tapi untuk pemuda apalagi jika melibatkan anak-anak untuk aktif, displin dalam mengerjakan atau hanya turut meramaikan sholat tarawih?..

Pertimbangan itulah kemudian, dimana shalat tarawih tidak kalah afdzalnya untuk dikerjakan di awal waktu atau tepat setelah shalat isya’ selasai.

Yang jelas, ini untuk menjaga kekompakan berjama’ah dan memberi kesempatan kepada semua kalangan (pemuda dan anak-anak) ikut untuk menyemarakkan datangnya bulan ramadlan.

Dengan demikian shalat tarawih itu bisa dilakukan di awal waktu yaitu setelah shalat isya’ atau di waktu sepertiga malam.

Hukum Shalat Tarawih

Shalat tarawih ialah salah satu syiar islam dibulan ramadhan yang penuh keutamaannya di sisi Allah SWT,

Sebagaimana disebutkan dalam penjelasan diatas, dimana dasar hukum shalat tarawih termasuk bagian dari qiyamu ramadhan. Arti dari Qiyamu Ramadhan ialah shalat sunnah yang dilakukan setelah shalat isya’ dan sebelum witir selama ramadhan, hukum shalat tarawih adalah sunnah bagi laki-laki dan bagi perempuan.

Artinya: “Dari Abi Hurairah ra: Rasulullah SAW menggemarkan shalat pada bulan Ramadlan dengan anjuran yang tidak keras. Beliau berkata: Barang siapa yang melakukan ibadah (shalat Tarawih) di bulan Ramadlan hanya karena iman dan mengharapkan ridla dari Allah, maka baginya di ampuni dosa-dosanya yang telah lewat” (HR: Muslim).

Artinya: “Dan dari Abdurrahman bin ‘Auf sesungguhnya Nabi Saw bersabda:”Sesungguhnya Allah mewajibkan pusa Ramadlan dan aku menyunnahkan shalat malam di bulan ramadhan oleh karena itu, siapa yang berpuasa dan shalat malam itu karena iman dan karena Allah maka ia akan keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya”.(HR.Ahmad,Nasai dan Ibnu Majah). 

Maksudnya dalam hadis di atas adalah menunaikan ibadah untuk menghidupkan malam bulan Ramadlan dengan cara melaksanakan shalat Tarawih, dzikir, membaca al-Qur’an, bersodaqah, dan ibadah sunnah lainnya sebagaimana yang dianjurkan Nabi saw.

Dan orang-orang yang melakukan atau mengerjakan dengan di landasi atas iman dan mengharapkan keridlo’an Allah swt, maka Insyaallah akan terampuni dosa-dosa kecilnya yang telah lewat.

Baca Juga  Pengertian Hukum Kebiri dalam Islam, Jenis & Menurut Para Ahli

Dari hadits di atas maka dapat disimpulkan bahwa hukum dari shalat tarawih adalah sunnah, sebab dalam hadits itu tidak ada kata-kata memerintah,

Hanya Nabi Muhammad SAW yang memerintahkan untuk menjalankannya, dan barang siapa yang mau menjalankannya akan di ampuni dosanya yang telah lalu. 

Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

Rakaat tarawih yang dikerjakan atau dilaksanakan oleh Muhammad SAW ada baiknnya dikerjakan dengan jumlah 8 rakaat dan adakalanya sepuluh rakaat, tidak lebih dari pada itu.

Sesudah itu ditutup dengan mengerjakan shalat sunnat witir, sehingga dapat disimpulkan berjumlah sebelas rakaat. Diriwayatkan oleh Al-Jama’ah dari Aisyah RA:

Artinya: Bahwasanya Nabi SAW. tiada mengerjakan shalat malam, baik di ramadlan, maupun dilainnya, lebih dari sebelas raka’at” (H.R. Al Bukhary dan Muslim).

Sedangkan merujuk dalam landasan yang diriwiyatkan oleh Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya dari Jabir R.A:

Artinya: “Bahwasanya Nabi SAW. Mengerjakan shalat dengan mereka (para sahabat) delapan raka’at dan mengerjakan witir. Kemudian mereka menanti kedatangan rasulullah di malam berikutnya, maka rasulullah tiada keluar masjid”

Diriwiyatkan oleh Abu Ya’la dan Ath Thabrany dari jabir, ujarnya: “Ubay ibn Ka’ab datang kepada Rasulullah dan berkata : ‚Ya Rasulullah, saya telah berbuat sesuatu, semalam’ (hal ini terjadi dalam bulan Ramadlan). Nabi bertanya : ‘Apakah yang telah engkau lakukan itu?’ ubay menjawab, ada beberapa orang wanita di rumahku berkata : kami tidak bisa membaca Al-Quran (kami tidak banyak menghafal surat-surat Al Qur’an), maka kami tidak dapat mengerjakan shalat sebagaimana yang engkau kerjakan.’Karena itu sayapun bershalatlah dengan mereka, sebanyak delapan raka’aat dan kemudian saya berwitir, mendengar itu Nabi SAW, tidak mengatakan apaapa. Maka perbuatan Ubay itu menjadi suatu, “Sunnatur Ridha”.

Secara sederhananya, rakaat yang shalat didapatkan dari Nabi SAW. Hanyalah 8 raka’at. Akan tetapi di masa Umar RA, ‘Utsman RA. Dan Ali RA dikerjakan dua puluh raka’at. Jumhur fuquha, baik dari golongan Hanafiyah, Syafiiyah, Hanabilah dan daud menetapkan demikian, ialah 20 raka’at.

Itu juga disampaikan oleh Ats Tsaury, Ibnul Mubarak dan Asyafi’iy. Malik menyampaikan bahwa terdapat bilangan raka’at, “Qiyamullail” 36 raka’at selain dari witir.

Sebagian ulama’ menyampaikan, bahwa yang disunnatkan hanyalah 11 rakaat beserta witir. Al Kamal Ibnul Humam menyebutkan dalil yang didapatkan dalam masalah ini dengan menghendaki atau menetapkan bahwa yang sunnah dari yang 20 raka’at beserta witir, kemudian Nabi SAW, meninggalkannya, sebab takut akan difardukan.

Berkata Al-Adzra’iy dalam Al-Mutawassith: “Riwayat yang meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW, mengerjakan shalat di malam itu dua puluh rakaat adalah munkar”

Artinya: “Mengatakan bahwa rasulullah Saw. Bershalat dengan para sahabat di malam itu dua puluh raka’at tiada shah hanya yang ada di dalam kitab shahih, ialah Rasulullah SAW. Bershalat dengan tidak disebut bilangan raka’atnya”

Secara sederhana, tidak ada sebuah hadist yang marfu’ yang menjelaskan dan menetapkan bahwa terdapat bilangan raka’at tarawih itu 20. 

Demikian pula halnya hadist yang menerangkan, bahwa rasulullah SAW, bershalat di dalam masjid 8 rakaat, kemudian beliau mengerjakan atau melaksanakan 12 lagi di rumahnya, adalah dlaif dan lemah.

Selain itu, Ibnu Qasim dari Malik menyampaikan bahwa Shalat Tarawih itu 36 rakaat termasuk witir, tanggapan demikian ini berpedoman kepada hadits dibawah ini yang artinya antara lain, artinya :

“Dari Abi Syaibah dari Daud bin Qais berkata: aku dapati manusia di Madinah pada masa Umar bin Abdul Aziz dan Aban bin Usman Shalat Tarawih tiga puluh enam rakaat termasuk witir”.

Selain itu, Ibn Arabiy juga menyampaikan bahwa dalam jumlah rakaat Shalat Tarawih tidak ada batasnya. Akan tetapi, lanjut Ibn Arabiy bahwa yang shaheh adalah 11 rakaat. Oleh sebab itu, yang dikerjakan atau dilaksanakn oleh Nabi Saw, adapun selain itu tidak jelas asal-usulnya dan tidak ada batasnya.

Selain itu, Ibn Araby mengatakan kalau memang tidak ada batasan tertentu, maka apa yang dikerjakan oleh Nabi Saw itulah yang menjadi batas tidak boleh menambah baik dalam bulan Ramadhan ataupun lainnya. ini adalah shalat malam dan wajib bagi kita mencontoh Nabi Saw.

Niat Shalat Tarawih 

Dalam niat shalat tarawih terdapat dua macam, ada niat ketika kita bergerak sebagai imam dan shalat tarawih sendirian. 

1. Dalil Niat Shalat Tarawih Sebagai Imam

Bacaan Doa Niat Shalat Tarawih Sebagai Imam

“Ushollii Sunnatat Taraawiihi Rok’Ataini Mustaqbilal Qiblati Imaaman Lillahi Ta’Alaa”

Arti Niat Shalat Tarawih Sebagai Imam

“Saya niat salat sunah tarawih dua rakaat menghadap kiblat sebagai imam karena Allah Ta’ala”

2. Dalil Niat Shalat Tarawih Sendirian 

Bacaan Doa Niat Shalat Tarawih Sendirian 

“Ushollii Sunnatat Taraawiihi Rok’Ataini Mustaqbilal Qiblati Lillaahi Ta’alaa”

Arti Niat Shalat Tarawih Sendirian 

“Saya niat salat sunah tarawih dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala”

Tata Cara Salat Tarawih

Salat Tarawih ada yang melaksanakan bilangan shalat tarawih itu hingga mencapai 20 rakaat. Sedangkan shalat witir dikerjakan sebanyak 3 rakaat.

Ada juga yang mengerjakan atau melaksanakan sholat tarawih itu hanya pada 8 rakaat ditambah dengan witir 3 rakaat.

Beda lagi jika melihat kiprah Imam Malik yang mengerjakan 36 rakaat shalat tarawih, sebagaimana yang dikerjakan oleh penduduk Madinah.

Patut diketahui bersama bahwa Sholat Tarawih ini dapat dikerjakan dengan 2 macam cara antara lain: 

  1. Shalat tarawih dikerjakan dengan setiap 2 rakaat salam.
  2. Shalat tarawih dikerjakan dimaan setiap 4 rakaat salam (tanpa tasyahud awal)

Akan tetapi yang paling baik ialah dikerjakan dimana setiap 2 rakaat salam, sebab dalam hadits Muhammad SAW yang mengatakan bahwa shalat malam itu sebaiknya dikerjakan 2 rakaat 2 rakaat.

Setelah salat tarawih selesai, selanjutnya adalah dengan mengerjakan shalat witir 3 rakaat.

Salat sunat witir ini boleh dikerjakan 3 rakaat salam (3 rakaat sekaligus, tanpa tasyahud awal) , atau pertama dikerjakan 2 rakaat, kemudian 1 rakaat.

Cara pelaksanaan shalat tarawih sama dengan cara pelaksanaan shalat fardhu, baik gerakan maupun bacaannya. Perbedaan hanya pada niat.

Setelah selesai shalat tarawih, dilanjutkan dengan membaca doa yang dapat dilihat dibawah ini..

Dalil Doa Kamilin 

Salat tarawih ditutup dengan doa kamilin:

Bacaan Doa Shalat Tarawih

Allâhummaj‘alnâ bil îmâni kâmilîn. Wa lil farâidli muaddîn. Wa lish-shlâti hâfidhîn. Wa liz-zakâti fâ‘ilîn. Wa lima ‘indaka thâlibîn. Wa li ‘afwika râjîn. Wa bil-hudâ mutamassikîn. Wa ‘anil laghwi mu‘ridlîn. Wa fid-dunyâ zâhdîn. Wa fil ‘âkhirati râghibîn. Wa bil-qadlâ’I râdlîn. Wa lin na‘mâ’I syâkirîn. Wa ‘alal balâ’i shâbirîn. Wa tahta lawâ’i muhammadin shallallâhu ‘alaihi wasallam yaumal qiyâmati sâ’irîna wa ilal haudli wâridîn. Wa ilal jannati dâkhilîn. Wa min sundusin wa istabraqîn wadîbâjin mutalabbisîn. Wa min tha‘âmil jannati âkilîn. Wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syâribîn. Bi akwâbin wa abârîqa wa ka‘sin min ma‘în. Ma‘al ladzîna an‘amta ‘alaihim minan nabiyyîna wash shiddîqîna wasy syuhadâ’i wash shâlihîna wa hasuna ulâ’ika rafîqan. Dâlikal fadl-lu minallâhi wa kafâ billâhi ‘alîman. Allâhummaj‘alnâ fî hâdzihil lailatisy syahrisy syarîfail mubârakah minas su‘adâ’il maqbûlîn. Wa lâ taj‘alnâ minal asyqiyâ’il mardûdîn. Wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma‘în. Birahmatika yâ arhamar râhimîn wal hamdulillâhi rabbil ‘âlamîn.

Arti Doa Shalat Tarawih

“Yaa Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang memenuhi kewajiban- kewajiban, yang memelihara salat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat , yang ridha dengan qadla-Mu (ketentuan-Mu), yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), yang masuk ke dalam surga, yang selamat dari api neraka, yang duduk di atas ranjang kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan shahabat beliau. Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

Hikmah Keutamaan Shalat Tarawih

Fadhilah adalah kemuliaan, keagungan atau keluhuran, atau dalam istilah pencaharian terbanyak disebut dengan hikmah atau keutamaan. 

Baca Juga  Tanda Hari Kiamat Yang Sudah Banyak Muncul Di Indonesia

Melihat sejarah shalat tarawih dimana Rasulullah SAW juga senang mengerjakannya dan terdapat beberapa dasar hukumnya, maka shalat tarawih memiliki keistimewaan yang besar.

Keistimewaan itu apabila dikerjakan bagi seluruh umat Islam tentunya berbuah manfaat dan keutamaan disisi Allah SWT apabila dikerjakan dengan benar, ikhlas dan displin.

Adapun hikmah dan keutamaan shalat tarawih adalah sebagai berikut:

1. Dosa Terampuni

Sebagaimana dalam hadis-hadis yang telah di kemukakan di atas, bahwa hikmah atau keutamaan dalam shalat tarawih adalah ampunan terhadap dosa-dosa masa lampau,

Ayat al-qur’an juga banyak memberikan jaminan tehadap orang-orang beriman dan taat termasuk yang tekun dalam menjalankan shalat tarawih.

Ayat Al-Qur’an berikut ini adalah firman Allah atas jaminan mereka yang beriman dan bertakwa, Al-Qur’an surat Al-Mulk ayat 12:

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar”

Dalam hal ini shalat tarawih dapat menjadi suatu momentum yang paling afdzal untuk memohon ampun kepada Allah SWT. Sebab hal itu, memiliki hikmah dan keutamaan yang bermanfaat ketika melakukan shalat tarawih adalah ampunan terhadap dosa masa lalu,

Shalat tarawih juga menjadi sarana atau saluran untuk berhubungan dengan Allah untuk lebih dekat, dan Allah pun telah berjanji untuk mengampuni dosa-dosa orang yang bermunajat di waktu itu.

2. Amal Ibadah Dilipat Gandakan

Ampunan Allah terhadap dosa-dosa di masa lalu juga bisa dengan memperbanyak amal kebajikan.

Sebab, amal baik bisa menghapus amal buruk. Hal itu sebagaimana Allah berfirman dalam surah Al Hud ayat 114:

Artinya: “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.”

Firman Allah di atas dengan terang-terangan mengandung hikmah dan keutamaan dimana menjelaskan bahwa perbuatan  baik dapat menghapus perbuatan buruk atau dosa,

Yang di maksud perbuatan baik dalam ayat di atas ialah mendirikan shalat di tepi pagi dan petang ialah shalat subuh, dzuhur, ashar dan maghrib,

Sedangkan yang dimaksud dengan mendirikan shalat pada awal permulaan malam adalah shalat isya’.

Berdasarkan ayat di atas dapat di fahami bahwa Allah akan melipat gandakan perbuatan baik orang-orang beriman, salah satu perbuatan baik adalah shalar dan infak,

Selain itu, terdapat perbuatan baik ini semuanya terdapat pada bulan ramadhan, yaitu shalat tarawih dan berdasarnya kotak infak di sela-sela kultum shalat tarawih,

Dengan demikian Fadhilah atau hikmah dan keutamaan shalat tarawih adalah menghapus dosa di masa lalu.

Hal itu terjadi dengan cara melipat gandakan amal baik kepada Allah, dengan cara memperbanyak shalat sunnah (tarawih) dan sesering mungkin untuk berinfak di jalan yang benar, jalan yang diridhoi Allah SWT. 

3. Dijauhkan Sifat Kikir

Selain itu, Manfaat dan keutamaan shalat tarawih ialah dijauhkan sifat kikir. Selain itu ada juga yang hanya menyumbang ketika memiliki kepentingan untuk dirinya sendiri, bahkan itu masih hitung-hitungan. 

Dengan shalat tarawih di bulan ramadhan, sifat kikir itu insya allah akan jauh dari kita, apabila melaksanakan shalat tarawih selama satu bulan, kita akan berinfak 30 kali, dan itu dilakukan setiap malam, tepatnya di sa’at kultum tarawih di mulai.

Inilah salah satu hikmah dari shalat tarawih ialah sifat gemar berinfak dan bersedekah. Sehingga bagi yang mengerjakannya akan dijauhkan atau terjaga dari sifat kikir adalah termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung. 

Pernyataan demikian dimana Allah Berfiman dalam Al-Qur’an surat At-Taghaabun ayat 16:

Artinya: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu dan Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, Maka mereka Itulah orang-orang yang beruntung”. (At-Taghaabun ayat 16)

Shalat tarawih di bulan ramadhan dapat menjauhkan diri dari sifat-sifat kikir, dengan melatih berinfak setiap hendak maupun setelah shalat tarawih kita akan terbiasa berinfak,

Seiring dengan kebiasaan demikian Allah akan menganugrahkan karunianya sehingga semakin ikhlas setiap kali menginfakkan harta kita.

Dan infak yang dilandasi dengan rasa ikhlas akan dibalas Allah dengan nilai yang lebih tinggi lagi bahkan berlipat ganda.

4. Dijauhkan Sifat Bodoh

Hikmah dan keutamaan shalat tarawih adalah dijauhkannya dari kebodohan. Sebab, sebagaimana di sebutkan di atas bahwa di dalalm agenda shalat tarawih terdapat majelis ta’lim yang di isi oleh orang-orang pilihan yang memaparkan berbagai ilmu keagamaan.

Dari agenda ini dapat dipahami bahwa dalam shalat tarawih, tidak hanya moralnya saja yang ditingkatkan melainkan juga intelektualnya,

Dengan kata lain peningkatan moral melalui shalat tarawih sedangkan peningkatan intelektualnya melalui kultum yang mengiringnya.

Dengan demikian pemahaman, ilmu, hikmah dan meningkanya derajat adalah salah satu fadhilah shalat tarawih, sebab kultum merupakan agenda yang tak terpisahkan dari shalat tarawih.

Di samping itu mendengarkan ajaran kebenaran dalam kultum setelah shalat tarawih akan jauh lebih mudah karena ada faktor tuhan di dalamnya.

Ketika shalat dengan khusyuk, otak dalam kondisi konsentrasi, sehingga lebih siap menerima hidayah Allah, termasuk melalui kultum tarawih,

Sejak di berikannya hidayah Allah berupa ilmu dan pemahaman inilah kita akan terhindar dari sifat-sifat kebodohan.

5. Dekatkan Kepada Allah

Fadhilah shalat tarawih yang paling besar adalah semakin dekatnya diri yang bersangkutan kepada tuhannya, Artinya semakin tekun dan khusyuk seseorang dalam menunaikan shalat tarawih semakin dekat ia dengan tuhannya.

Hal ini tentu bukan sesuatu yang aneh, mengingat shalat merupakan sarana komunikasi antara hamba dengan tuhannya.

Demikianlah informasi mengenai Doa Sholat Tarawih: Tata Cara, Niat Sholat Tarawih, Keutamaan, Arab & Artinya. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Sekian dan terima kasih. Salam Berbagi Teman-Teman.

0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, average: 0.00 out of 5)
You need to be a registered member to rate this.
Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *