Menu

Asal Tarekat Dalam Islam, Begini Sejarah Munculnya

Artikelsiana.com – Manusia merupakan makhluk sempurna ciptaan Allah SWT dengan keistimewaan dan kelebihan yang dimilikinya yang disebut dengan maziyyah dan fadhilah. 

Ketika akan dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain. Keistimewaan atau kelebihan yang dipunyai tidak hanya pada pada keistimewaan berupa fisik jasmaniahnya saja, melainkan juga kelebihan keistimewaan dalam hal ruhaniahnya.

Kesempurnaan dan kelebihan manusia yang dimiliki dalam bentuk fisik telah banyak dikaji begitupula yang dijelaskan oleh banyaknya disiplin ilmu.

Ada berbagai uraian berkenaan membandingkannya dengan makhluk lain. Melainkan juga mengenai kesempurnaan atau kelebihan yang terdapat pada keistimewaan atau kelebihan dalam hal ruhani masih sedikit pengetahuan yang secara tuntas menjelaskannya.

Dalam ilmu psikologi dan tasawuf terdapat 2 disiplin ilmu yang dipakai untuk membaca struktur keruhanian manusia.

Khusus kejadian ruhaniahnya, manusia mempunyai kelebihan-kelebihan yang luar biasa, yang tidak pernah dipunyai oleh makhluk lainnya dari ciptaan Allah SWT.

Ketika masuk kajian filsafat Islam, maka wilayah yang pas terkait persoalan ini ialah kata al-nafs, dimana arti demikian dipakai untuk menampilkan substansi ruhaniah manusia.

Nafs yang terdapat pada diri manusia bagi para filsuf yang dimaksudkan sebagai daya berpikir.

Berdasarkan pandangan ini, maka tidaklah aneh ketika mereka dari kalangan para filsuf mengungkapkan bahwa definisi manusia sebagai al-hayawan al-nathiq (hewan yang berpikir).

Baca Juga  8 Cara Sederhana Memperkokoh Pernikahan Dalam Pandangan Islam

Selain itu, terjadi berdasarkan pandangan dimana satu hal yang dibidik oleh tasawuf sebagai perangkat dari konsep ihsan, ialah hati.

Asal Tarekat Dalam Islam, Begini Sejarah Munculnya

Maka tidak heran apabila memasuki wilayah tasawuf, seringkali terdapat kata-kata Tazakiyah al-Qalb (penyucian hati) yang biasa menghampiri telinga.

Berdasarkan pandangan al-Ghazali, kalbu (hati) bahwa biasanya mengistilahkan sebagai objek untuk menentukan diri seseorang dalam melakukan suatu perbuatan atau meninggalkannya.

Oleh karenanya, kalbu diberi suatu tugas yang mulia dengan diberi berupa beban pertanggungjawaban terhadap apa yang diputuskannya.

Dengan demikian, di samping akal, kalbu ialah anugerah Tuhan yang sangat agung dan luhur, yang berfungsi untuk membedakan manusia dengan makhluk lain.

Dalam pandangan Islam, terdapat 3 konsep dimana ranah praktiknya harus sejalan seirama. Ketiga konsep inilah merupakan syariah, thariqah, dan hakikat.

Istilah demikian dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan syariat, tarekat, dan hakekat.

Syariat ialah peraturan-peraturan Allah bagi manusia melalui para nabinya yang terdiri dari teks, baik al-Qur’an maupun al-Sunnah.

Pengembangan dari syariat ini lahirlah ilmu fiqih dengan banyak corak dan madzhabnya. Untuk menampilkan bahwa terdapat hakikat, yang disebut dengan tasawuf akhlaki maupun tasawuf falsafi, yang membutuhkan jalan yang disebut dengan tarekat.

Dengan demikian, tarekat ialah jalan yang ditunjuki oleh para ahli atau syaikh untuk orang-orang awam, dalam rangka menuju pada hakikat dari ajaran agama.

Baca Juga  6 Isi Perjanjian Hudaibiyah Bukti Kecerdasan Nabi Muhammad Saw

Jalan menuju hakikat disebut tasawuf, baik itu bersifat falsafi maupun yang sifatnya akhlaki, tidak selamanya harus melalui tarekat atau metode yang ditetapkan oleh guru sufi atau mursyid,

Akan tetapi, juga yang dapat ditempuh secara perseorangan ketika orang itu telah memenuhi persyaratan dan mempunyai ilmu agama yang sangat mendalam pada macam-macam aspeknya.

Bagi orang-orang awam, tidak mungkin sampai pada hakikat tadi, kecuali melalui bimbingan para guru atau mursyid yang kemudian bimbingan itu disebut dengan tarekat.

Tarekat ini berkembang dari masa ke masa dengan berbagai aliran, misalnya aliran-aliran fiqih yang berkembang dari syariat.

Secara bahasa, yang dimaksud dengan tarekat sangat beragam. Sedikitnya terdapat tujuh catatan yang sesuai berkenaan dengan tema ini diantaranya: (1) jalan, (2) petunjuk, (3) cara, (4) sistem atau al-uslub, (5) madzhab atau aliran, (6) keadaan atau al-haal, (7) tiang tempat berteduh.

Sedangkan dalam hal istilah, yang dimaksud dengan pengertian tarekat adalah suatu metode tertentu yang digunakan para salik (penempuh jalan sufi) menuju taqarrub kepada Allah s.w.t. dengan suatu tahapan-tahapan disebut dengan maqamaat.

Pada perkembangan selanjutnya, tarekat memiliki dua pengertian; (1) metode pemberian bimbingan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. (2) sebagai wadah persaudaraan kaum sufi yang disebut dengan sufi’s brotherhood yang ditandai dengan lembaga formal, seperti zawiyah, ribath, khanaqah, dan sebagainya.

Dari aspek lain, tarekat mempunyai tiga sistem, yaitu (1) sistem kerahasiaan, (2) sistem kekerabatan, dan (3) sistem hierarki, seperti khalifah tawajjuh, khalifah suluk, syaikh atau mursyid, wali atau Quthb.

Baca Juga  Arti Subhanallah: Penjelasan Lengkap Menurut Hadits dan Ulama

Aliran-aliran tarekat yang berkembang sampai sekarang cukup banyak. Semuanya bersumber dari sayyidina Ali yang langsung kepada Nabi, dan sayyidina Abu Bakar yang juga langsung kepada Nabi.

Tarekat-tarekat itu antara lain: (1) Tarekat Qadiriyah yang didirikan oleh Syekh Abd. Qadir al-Jilani, yang dikembangkan di Baghdad dan kemudian berkembang di seluruh dunia. (2) Tarekat Naqsyabandiyah, (3) Tarekat Rifa’iyah, (4) Tarekat Samaniyah, dan tarekat-tarekat lain yang merupakan perkembangan dari tarekat-tarekat tersebut, jumlahnya sangat banyak.

Demikianlah informasi mengenai Asal Tarekat Dalam Islam, Begini Sejarah Munculnya. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua sekian dan terima kasih. Salam Berbagi Teman-Teman. 

0 votes, average: 0.00 out of 5
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, average: 0.00 out of 5)
You need to be a registered member to rate this.
Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *