Menu

Pengertian Moral, Makna, Macam & Moral Menurut Para Ahli

Pengertian Moral, Makna, Macam & Moral Menurut Para Ahli – Di era saat ini, dimana Indonesia tengah memasuki era Revolusi Industri 4.0 yang mana sistem informasi dan komunikasi tersebar luas.

Perkembangan itu, memiliki arti ganda, bisa bermanfaat atau malah merugikan.

Tidak sedikit menyebabkan macam-macam nilai-nilai negatif tidak dapat disaring dan mempengaruhi pemikiran dan karakter manusia terlebih lagi bagi generasi masa kini dan selanjutnya.

Dampak dari hal ini, menimbulkan kekhawatiran yang besar terhadap adanya kerugian yang mengikis jati diri dalam merosotnya akan nilai-nilai keagamaan, nasionaisme, nilai sosial budaya bangsa dan moralitas individu.

Kerugian ini, tidak dapat dianggap enteng atau mudah, sebab jika telah menyentuh aspek moralitas setiap individu atau dalam sosialnya disebut alienasi.

Maka bangsa Indonesia yang alih-alih ingin mengejar ketertinggalan dengan negara lain, maka ikut terjerambak dalam kemajuan era saat ini.

Olehnya itu, diperlukan keseriusan yang jauh lebih besar kepada pemerintah dan masyarakat umumnya untuk saling bahu membahu dalam dalam memperkokoh jatidiri generasi muda melalui pendidikan karakter dan budaya bangsa.

Bandingkan saja dengan negara-negara maju, dalam pembangunan karakter adalah faktor penting yang dilakukan melalui pendidikan.

Hal ini semata-mata bertujuan dan berfungsi untuk menerapkan kembali nilai-nilai yang baik dan menyaring segala bentuk unsur negatif yang dapat mempengaruhi tingkahlaku kalangan anak-anak dan tidak terkecuali kalangan remaja.

Olehnya itu, agar dapat menjawab tantangan zaman yang semakin melaju dengan cepat diperlukan daya tahan atau pertahanan setiap warga atau anak-anak Indonesia.

Hal ini bertujuan untuk mampu berjalan beriringan dengan memperkokoh aspek moral yang dimilikinya. Berbicara mengenai moral, apa sih yang dimaksud dengan moral itu?

Pengertian Moral: Apa itu Moral?

Secara etimologi, pengertian Moral merupakan istilah yang diambil dari bahasa Latin “mos” (jamak, mores) yang diartikan sebagai “berarti kebiasaan, adat“.

Secara Lughowi, moralitas juga berasal dari kata “mos” bahasa Latin (jamak, mores) yang berarti kebiasaan, adat istiadat.

Sedangkan Secara terminologi pengertian moral adalah rangkaian nilai tentang berbagai macam perilaku yang harus dipatuhi yang terdiri atas kaidah norma dan pranata yang mengatur perilaku individu dalam hubungannya dengan kelompok sosial dan masyarakat.

Apabila berlandaskan pada kata “bermoral”, maka tidak lain mengacu pada “bagaimana suatu masyarakat yang berbudaya berperilaku”. Dan kata moralitas juga merupakan kata sifat latin moralis, yang mempunyai arti sama dengan moral hanya ada nada yang lebih abstrak.

Patut untuk diketahui bersama bahwa istilah kata moral dan moralitas mempunyai arti yang sama.

Sehingga dalam pengertian dan definisinya lebih ditekankan pada pemakaian moralitas yang dimana sifatnya yang abstrak.

Selain itu, definisi Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk.

Yang dimaksud dengan konsep moral ialah suatu peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya.

Demikian konsp moral inilah sebagai penentu akan pola perilaku yang diharapakan dari seluruh anggota kelompok.

Terdapat macam-macam istilah yang biasa dipakai secara bergantian dalam menunjukkan maksud yang sama, istilah moral, akhlak, karakter, etika, budi pekerti dan susila.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, “moral” diartikan sebagai keadaan baik dan buruk yang diterima secara umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, budi pekerti dan susila.

Moral juga berarti kondisi mental yang terungkap dalam bentuk perbuatan. Selain itu moral berarti sebagai ajaran Kesusilaan. 

Pengertian Moral Dalam Islam

Secara terminologi Islam, pengertian moral memiliki arti yang sama dengan pengertian “akhlak”. Sedangkan apabila merujuk pada bahasa Indonesia, moral dan akhlak maksudnya sama dengan budi pekerti atau kesusilaan.

Secara etimologi, istilah kata akhlak berasal dari kata “khalaqa” (bahasa Arab) yang dimaksudkan sebagai “perangai, tabi’at dan adat istiadat”.

Walaupun akhlak merupakan berasal dari bahasa Arab, akan tetapi kata akhlak tidak terdapat di dalam al-Quran.

Satu-satunya kata yang ditemukan semakna akhlak dalam al-Quran adalah bentuk tunggal, yaitu huluk, yang tercantum dalam surat al-Qalam ayat 4.

Baca Juga  Bentuk-bentuk Interaksi Sosial

Selain itu, sedikit tambahan informasi mengenai pengkajian akan perkembangan moral dalam sejarahnya. Terdapat tokoh yang paling dikenal yaitu Lawrence E. Kohlberg.

Melalui Disertasinya berjudul “The Development of Modes of Moral Thinking and Choice in the Years 10 to 16” yang diselsaikan di University of Chicago pada tahun 1958.

Kohlberg dalam penelitian empiris lintas kelompok usia tentang cara pertimbangan moral tehadap 75 orang anak remaja yang berasal dari daerah sekitar chicago.

Anak-anak dibagi dalam tiga kelompok usia, yaitu kelompok usia 10, 13, dan 16 tahun.

Dalam penelitian ini, Kohlberg melakukan dengan cara menghadapkan pada subjek penelitian/responden kepada berbagai dilema moral dan selanjutnya mencatat semua reaksi mereka.

Hasil dari penelitian ini, menurut pandangan Kohlberg, yang juga sejalan dengan pandangan Jean Piaget salah seorang yang sangat dikaguminya bahwa berdasarkan penelitiannya,

Terlihat bahwa bahwa anak-anak dan remaja menafsirkan segala tindakan dan perilakunya sesuai dengan struktur mental mereka sendiri.

Selain itu memberikan penilaian akan hubungan sosial dan perbuatan tertentu baik atau buruk sejalan dengan tingkat perkembangan atau struktur moral mereka masing-masing.

Pengertian Moral Menurut Para Ahli

Adapun pengertian moral menurut para ahli yaitu:

Pengertian Moral Menurut Piaget

Menurut piaget (Sinolungan, 1997) yang menjelaskan bahwa pengertian dari hakikat moralitas adalah kecenderungan menerima dan menaati sistem peraturan.

Pengertian Moral Menurut Kohlberg

Menurut kohlberg (Gunarsa, 1985) yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan aspek moral adalah sesuatu yang tidak dibawa dari lahir, tapi sesuatu yang berkembang dan dapat diperkembangkan/dipelajari.

Pengertian Moral Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 1059) bahwa pengertian moral adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima oleh umum.

Pengertian Moral Menurut Ar-Rozi

Menurut Ar-Rozi (dalam Sudarsono, 2010: 59) bahwa pengertian moral adalah sebagai obat pencahar rohani (spiritual physic) yang terpercaya mengenai ajaran plato tentang jiwa yang memiliki tiga bagian untuk menaga kesalarasan dan keseimbangan lurusnya moral spiritual jiwa.

Pengertian Moral Menurut Asri Budiningsih

Menurut Asri Budiningsih (dalam Baron) mendefinisikan bahwa arti dari moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan larangan dan tindakan yang membicarakan salah atau benar.

Pengertian Moral Menurut W. Poespoprodjo

Menurut pengertian tersebut, W.Poespoprodjo yang mendefinisikan bahwa pengertian moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk. Moralitas mencakup tentang baik buruknya perbuatan manusia.

Pengertian Moral Menurut Soerjono Soekanto

Menurut Soerjono soekanto mengatakan, bahwa pengertian moral atau tata kelakuan mencerminkan sifat-sifat yang hidup dari kelompok manusia yang dilaksanakan sebagai alat pengawas, secara sadar maupun tidak oleh masyarakat terhadap anggota-anggotanya.

Makna Moral

Sebagaimana yang dikutip oleh Sudarminta, dalam bukunya Modes of Thought, Whitehead mengatakan: “Morality consists in the control of process so as to maximize importance. It is the aim at greatness of experience in the various dimensions belonging to it”.

Selanjutnya ia berkata “Morality is always the aim at that union of harmony, intensity, and vividness which involves the perfection of importance for that occasion.”

Artinya menurut yang disampaikan oleh Sudarminta bahwa Moralitas terdiri dari pengaturan/kontrol atas proses demi maksimalisasi bobot kehidupan.

Tujuan ini menurut Sudarminta adalah untuk mengejar keagungan pengalaman dalam macam-macam dimensinya yang terkandung dalam pengalaman tersebut.

Selanjutnya Sudarminta menyampaikan bahwa Moralitas selalu merupakan cita-cita ke arah kesatuan selaras, intensitas/ kedalaman pengalaman, dan kesegaran hidup yang melibatkan penyempurnaan bobot untuk satuan pengalaman tertentu.

Landasan Terbentuknya Moral

Sebagaimana pembahasan diatas, bahwa moral merupakan hal yang penting bagi individu-individu dalam mengidentifikasi dan menilai kehidupan sekitarnya.

Selain dari pada itu, pernahkah bertanya tentang landasan yang membentuk atau terbentuknya moral itu!.

Berikut ini, akan disampaikan mengenai tiga macam landasan utama dalam terbentuknya moral:

1. Sumber Moral atau Pembuat Sumber

Apabila berpandangan pada kehidupan bermasyarakat, sumber moral diketahui berasal dari adat kebiasaan. Maka dalam sumber moral, pembuatnya bisa beraneka ragam seperti seorang sultan, raja, kepala suku, dan tokoh agama.

Baca Juga  Pengertian Konsentrasi Belajar, Tujuan & Ciri Siswa Yang Dapat Berkonsentrasi

Bahkan, mayoritas adat dilahirkan oleh kebudayaan masyarakat yang penciptanya sendiri tidak pernah diketahui, contohnya sebagaiaman yang terjadi pada mitos-mitos yang sudah menjadi norma sosial.

Dalam moralitas Islam, sumber moral adalah wahyu Al-Qur`an dan As-Sunnah, sedangkan, pencipta standar moral adalah Allah SWT.

2. Orang yang Menjadi Objek Sekaligus Subyek Dari Sumber Moral dan Penciptaannya

Moralitas sosial yang berasal dari adat, sedangkan objek dan subyeknya adalah individu dan masyarakat yang sifatnya lokal.

Demikian ini terjadi disebabkan adat hanya sebagai wilayah tertentu. Sehingga dalam artian tidak bersifat universal, melainkan teritorial atau wilayah.

Dalam kacamata Islam, moralitas Islam subyek sebagai objeknya adalah orang yang baligh dan berakal yang disebut “mukallaf”

3. Tujuan Moral

Selain dari pada itu, Tujuan moral tidak lain adalah diarahkan agar terciptanya ketertiban sosial, keamanan, kedamaian, kesejahteraan, dan sebagainya.

Dalam moralitas Islam, tujuan moralnya adalah untuk mencapai kemsalahatan duniawi dan ukhrawi.

Pengetahuan Moral (Moral Knowing)

Terdapat macam-macam pengetahuan moral yang bisa dimanfaatkan apabila sedang berhadapan dengan tantangan-tantangan moral dalam hidup.

Pada kali ini, terdapat enam pengetahuan moral yang diharapkan dapat berfungsi dan mejnadi tujuan pendidikan karakter.

1. Kesadaran Moral (Moral Awareness)

Pertama ada yang dikenal dengan Moral Awareness atau Kesadaran Moral. Yang dimaksud dengan pengertian Kegagalan moral yang sering terjadi pada diri manusia dalam semua tingkatan usia adalah kebutaan moral.

Dalam hal ini, kondisi di mana orang tak dapat lagi melihat tentang situasi yang sedang ia hadapi itu tidak lain melibatkan masalah moral dan membutuhkan pertimbangan lebih jauh.

Anak-anak dan remaja khususnya sangat rentan terhadap dampak kegagalan contohnya ini bertindak tanpa mempertanyakan “apakah ini benar?”

Selain itu, pertanyaan yang bahkan lebih lagi seperti “mana yang benar?” terlintas dalam benak seseorang, ia masih tetap bisa gagal melihat masalah moral spesifik dalam sebuah situasi moral.

Sehingga setiap orang khususnya Anak-anak patut untuk mengetahui bahwa terdapat tanggung jawab moral pertama mereka yaitu dengan memfungsikan akal mereka untuk melihat kapan sebagai bentuk untuk melihat situasi membutuhkan penilaian moral kemudian memikirkan dengan cermat pertimbangan apakah yang benar untuk tindakan tersebut.

Aspek kedua dari kesadaran moral adalah kendala-untuk bisa mendapatkan informasi.

Dalam membuat penilaian moral, biasanya tidak bisa memutuskan apa yang mana yang benar sampai kita mengetahui keadaan yang sesungguhnya.

Jika pengetahuan seseorang tentang apa yang terjadi di dunia internasional tidak kabur, maka dapat dipastikan dapat bermanfaat terhadap penilaian moral yang tentang kebijakan luar negeri negara kita.

Apabila seseorang tidak sadar bahwa ada kemiskinan yang berada sekitarnya atau penganiayaan yang terjadi di banyak negara atau kelaparan di sebagian besar wilayah dunia.

Maka hal itu tidak akan bisa bermanfaat dalam mendukung kebijakan-kebijakan atau kelompok-kelompok sosial yang sedang berusaha untuk membantu dalam mengentaskan persoalan seperti ini.

Sehingga untuk membentuk warga negara yang dapat bertanggung jawab dalam upaya membuat mereka terinformasi.

Pendidikan nilai dapat melakukan tugas ini dengan cara mengajarkan siswa cara memastikan fakta terlebih dahulu sebelum membuat sebuah timbangan moral.

2. Mengetahui Nilai-Nilai Moral (Moral Values)

Nilai moral seperti dengan menghormati kehidupan dan kemerdekaan, bertanggung jawab terhadap orang Iain, kejujuran, keadilan, toleransi, sopan santun, disiplin diri, integritas, belas kasih, kedermawanan, dan keberanian adalah faktor penentu dalam membentuk pribadi yang baik.

Apabila disatukan terkait seluruh faktor ini maka dapat menjadi warisan moral yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Melek etis menitik beratkan pada pengetahuan terhadap semua nilai ini.

Mengetahui sebuah nilai moral berarti memahami penerapannya dalam macam-macam situasi. Apa artinya “tanggung jawab” ketika Anda melihat seseorang merusak barang milik sekolah atau mengambil sesuatu yang bukan milik mereka.

3. Pengambilan Perspektif (Perspektive Taking)

Yang dimaksud dengan Pengambilan perspektif adalah kemampuan dalam mengambil sudut pandang orang lain dengan melihat situasi dari sudut pandang orang lain, membayangkan akan berpikir, bereaksi, dan merasa.

Baca Juga  Pengertian Norma Menurut Para Ahli

Demikian Ini adalah suatu prasyarat bagi pertimbangan moral. Dengan pengambilan perspektif itu, secara sederhana seperti ketika seseorang memahami dilingkungannya.

Maka hal itu dapat bermanfaat dalam menghormati orang dengan baik dan bertindak dengan adil, begitu pula sebaliknya jika tidak memahami seseorang dilingkungannya.

Sehingga secara mendasar bahwa Tujuan dari pendidikan moral adalah untuk membantu siswa untuk merasakan dunia dari sudut pandang orang lain, terutama bagi mereka yang berbeda dengan dirinya.

Penalaran moral adalah memaharni makna sebagai orang yang bermoral dan mengapakita harus bermoral.

Mengapa memenuhi janji adalah hal penting? Mengapa kita harus berusaha sebaik mungkin? Mengapa kita harus berbagi dengan orang lain?

Pada tingkatan tertinggi, penalaran moral juga melibatkan pemahaman terhadap beberapa prinsip moral klasik, seperti: ”Hormatilah martabat setiap individu”; ”Perbanyaklah berbuat baik”; dan ”Bersikaplah sebagaimana engkau mengharapkan orang lain bersikap padamu”.

Prinsip-prinsip semacam ini menuntun perbuatan moral dalam berbagai macam situasi.

4. Penalaran Moral (Moral Reasoning)

Seiring dengan perkembangan penalaran moral anak-anak, dan riset menunjukkan pada kita bahwa perkembangan terjadi secara bertahap, mereka akan mempelajari mana yang termasuk sebagai nalar moral dan mana yang tidak ketika mereka akan melakukan sesuatu.

Pada tingkatan tertinggi, penalaran moral juga melibatkan pemahaman terhadap beberapa prinsip moral klasik, seperti; ”hormatilah setiap martabat setiap individu”, ”perbanyaklah berbuat baik”, dan ”bersikaplah sebagaimana engkau mengharapkan orang lain bersikap padamu”.

5. Membuat Keputusan (Decision Making)

Mampu memikirkan langkah yang mungkin akan diambil sescorang yang sedang menghadapi persoalan moral disebut sebagai kcterampilan pengambilan keputusan reflektif.

Pendekatan pengambilan keputusan dengan cara mengajukan pertanyaan “apa saja pilihanku”, “apa saja konsekuensinya” telah diajarkan bahkan sejak usia pra TK.

6. Memahami Diri Sendiri (Self Knowledge)

Memahami diri sendiri merupakan pengetahuan moral yang paling sulit untuk dikuasai, tetapi penting bagi pengembangan karakter. Untuk menjadi orang yang bermoral diperlukan kemampuan mengulas perilaku diri sendiri dan mengevaluasinya secara kritis.

Membangun pemahaman diri berarti sadar terhadap kekuatan dan kelemahan karakter kita dan mengetahui cara untuk memperbaiki kelemahan tersebut kecenderungan untuk melakukan apa yang diinginkan lalu mencari pembenaran berdasarkan fakta-fakta yang ada.

Macam-Macam Moral

Dengan demikian, pengertian moral dapat dipahami dengan mengklasifikasikannya sebagai berikut:

1. Moral Sebagai Ajaran Kesusilaan

Yang dimaksud dengan Moral sebagai ajaran kesusilaan, diartikan sesuatu yang berhubungan dengan tuntutan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik dan meninggalkan perbuatan jelek yang bertentangan dengan ketentuan yang berlaku dalam suatu masyarakat.

2. Moral Sebagai Aturan

Pengertian Moral sebagai aturan diartikan sebagai sesuatu ketentuan yang dipakai oleh masyarakat untuk menilai perbuatan seseorang apakah termasuk baik atau buruk.

3. Moral Sebagai Gejala Kejiwaan

Yang dimaksud dengan Moral sebagai gejala kejiwaan yang timbul dalam bentuk perbuatan, contohnya berani, jujur, sabar, gairah dan sebagainya.

Ilustrasi Gambar: Pengertian Moral, Makna, Macam & Moral Menurut Para Ahli

Demikianlah yang dimaksud dengan Pengertian Moral, Makna, Macam & Moral Menurut Para Ahli. Semoga pengertian mengenai pengertian moral, makna moral, macam-macam moral dan arti moral menurut para ahli. Sekian dan terima kasih. Salam Berbagi Teman-Teman. 

0 votes, average: 0.00 out of 5
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, average: 0.00 out of 5)
You need to be a registered member to rate this.
Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *