Menu

Pengertian Jual Beli, Syarat, Dasar Hukum & Macam-Macam Jual Beli

Pengertian Jual Beli, Syarat, Dasar Hukum & Macam-Macam Jual Beli Menurut Islam – Dalam agama Islam, terdapat 3 aspek yang menjadi aspek kuat diantaranya “akhlak, akidah, ibadah dan muamalah“.

Pada pembahasan ini, maka aspek muamalah adalah aturan main bagi manusia dalam menjalankan kehidupan sosial, sekaligus dasar untuk membangun sistem perekonomian yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Ajaran muamalah akan menahan manusia dalam menghalalkan segala cara untuk mencari rezeki.

Sehingga muamalah dengan kata lain bertujuan untuk menghindari “mudarat” setiap orang yang dituntut memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara saling membutuhkan satu sama lain dan yang tidak bisa hidup tanpa adanya transaksi.

Demikian, ini menjadi fakta yang menjadi landasan adanya tranksasi jual beli. Apa yang dimaksud dengan jual Beli?

Pengertian Jual Beli, Apa itu?

Secara etimologi atau bahasa, pengertian jual beli yaitu “al-bai’u” adalah muqabalatu sya’im bi syai’in. Yang dimaksud dari akar kata tersebut sebagai istilah jual beli adalah “menukar sesuatu dengan sesuatu“.

Sedangkan secara terminologi, pengertian jual beli adalah “tukar menukar harta secara suka sama suka” atau “peralihan pemilikan dengan cara penggantian menurut bentuk yang diperbolehkan“.

Sedangkan arti yang biasa didengar atau penggunaan sehari-hari, jual beli diartikan “saling tukar” dengan kata lain “tukar menukar”.

Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat disimpulkan pengertian jual beli secara umum adalah tukar-menukar suatu barang dengan barang yang lain dengan cara yang tertentu atau yang biasa disebut dengan akad.

Yang dimaksud dengan tukar-menukar atau peralihan kepemilikan dengan penggantian memiliki maksud yang sama

Hal itu dapat disebut demikian lantaran jual beli merupakan kegiatan mengalihkan hak dan pemilikan yang berlangsung yang sifatnya timbal balik atas dasar kehendak dan keinginan bersama.

Keginanan bersama, diartikan “secara suka sama suka” atau “menurut bentuk yang diperbolehkan” yang dapat mengandung ati bahwa transaksi secara timbal balik yang didasarkan berdasarkan bentuk menurut yang telah ditentukan, yaitu berdasarkan secara suka sama suka.

pengertian jual beli

Pengertian Jual Beli Menurut Para Ahli

Selain pengertian diatas mengenai jual beli, terdapat gagasan atau pendapat yang dijelaskan oleh para ahli. Adapun pengertian jual beli menurut para ahli yaitu:

1. Pengertian Jual Beli Menurut Rachmat Syafei

Menurut Rachmat Syafei bahwa pengertian jual beli secara etimologi diartikan sebagai pertukaran sesuatu dengan sesuatu (yang lain).

2. Pengertian Jual Beli Menurut Imam Nawawi

Menurut Imam Nawawi dalam “al-majmu” bahwa pengertian jual beli adalah pertukaran harta dengan harta untuk kepemilikan.

3. Pengertian Jual Beli Menurut Ulama Hanafiyah

Menurut Ulama Hanafiyah bahwa pengertian jual beli adalah pertukaran harta (benda) dengan harta yang dilakukan secara khusus atau dengan kata lain yang diperbolehkan.

4. Pengertian Jual Beli Menurut Ibnu Qudama

Menurut Ibnu Qudama bahwa pengertian jual beli yang disebutkan dalam kitab “al-mugni” bahwa pengertian jual beli adalah pertukaran harta dengan harta, untuk saling menjadikan milik.

5. Pengertian Jual Beli Menurut Kamus Bahasa Arab

Menurut Kamus Bahasa Arab bahwa pengertian jual beli dikenal dengan tiga kata yaitu “ba’a, yabi’un, bai’an,“. Artinya yakni “menjual“.

6. Pengertian Jual Beli Menurut Syekh Muhammad Ibn Qasim Al-Ghazzi

Menurut Syekh Muhammad Ibn Qasim Al-Ghazzi dalam syara‘ bahwa pengertian jual beli adalah mempunyai harta (uang) dengan mengganti sesuatu hal yang didasari izin syara’, dan mempunyai manfaat yang diperbolehkan syara’ dengan tujuan harus melalui pembayaran dalam bentuk uang.

7. Pengertian Jual Beli Menurut Fuqaha Malikiyah

Menurut pandangan Fuqaha Malikiyah bahwa pengertian jual beli dapat di klasifikasikan ke dalam dua macam yakni jual beli bersifat umum dan jual beli yang bersifat khusus.

  • Jual Beli dalam arti Umum ialah suatu perikatan tukar-menukar sesuatu yang bukan kemanfaatan dan kenikmatan.
  • Yang dimaksud dengan jual beli dalam arti khusus adalah ikatan tukar-menukar yang memiliki kriteria seperti bukan kemanfaaatan dan buka jugan pada kelezatan yang memiliki daya tarik, penukarannya bukan emas dan juga pula perak, bendanya dapat di realisasis dan ada seketika (tidak di tangguhkan).

Syarat-Syarat Jual Beli

Daftar Isi

Terdapat macam-macam syarat sebagai tinjauan sahnya jual beli menurut pendapat jumhur ulama. Berdasarkan rukun jual beli adalah yang memiliki hubungan dengan subjeknya dan ijab qabul. Tidak hnaya itu, mempunyai rukun, al-bai juga mempunyai syarat. Adapun jenis-jenis syarat dalam jual beli yaitu:

Syarat-Syarat Jual Beli Berdasarkan Subjeknya

Sebagaimana pendapat diatas, yang pertama syarat dari jual beli tentang subjeknya. Maksud dari hal ini bahwa kedua belah pihak melakukan perjanjian jual beli atau dengan kata lain penjual dan pembeli yang disyaratkan yakni:

1. Berakal Sehat

Maksud dari syarat jual beli ini adalah bahwa harus dalam keadaan tidak mengalami gangguan kejiwaan yaitu tidak gila dan sehat secara rohani.

2. Dengan Kehendak Sendiri

Syarat jual beli ini secara sederhana dapat diartikan tanpa adanya paksaan. Maksudnya bahwa dalam melakukan perbuatan jual beli sala hsatu pihak tidak melakukan tekanan ataupun juga paksaan atas pihak lain, sehingga setiap pihak dapat melakukan perbuatan jual beli bukan yang disebabkan kemauan sendiri tanpa adanya unsur paksaan.

3. Kedua Belah Pihak Tidak Mubadzir

Keadaan tidak mubadzir, maksud dari hal ini dimana pihak yang mengikatkan diri dalam suatu bentuk perjanjian jual beli bukanlah manusia yang begitu boros (mubadzir). Maksud dari hal ini, dimana orang yang boros dikategorikan sebagai orang yang tidak cakap dalam melakukan tindakan, tidak dapat melakukan sendiri.

4. Baligh

Sebagai salah satu syarat dari jual beli, baligh atau dewasa berdasarkan pandangan hukum Islam bahwa ketika laki-laki telah berumur 15 tahun atau telah bermimpi dan begitupun perempuan yang telah haid, dan bahkan sekalipun yang belum cukup umur, akan tetapi telah mampu membedakan baik dan buruk maka sebagian ulama mengungkapkan diperbolehkan untuk melakukan perbuatan jual beli.

Syarat-Syarat Jual Beli Berdasarkan Objeknya

Yang dimaksud dengan objek jual beli berdasarkan benda yang menjadi sebab akan terjadinya perjanjian jual beli. Adapun benda yang dapat yang menjadi syarat jual beli yaitu:

1. Suci Barangnya

Maksud dari hal ini adalah barang yang diperjualbelikan bukanlah benda najis, atau tergolong haram.

2. Memiliki Manfaat

Sebagai salah satu syarat, pengertian ini tentu saja sangatlah relatif, lantaran setiap barang hakikatnya dapat dimanfaatkan. Sehingga maksud dari syarat ini, dimana dapat dipergunakan untuk sesuatu hal yang berbuah manfaat untuk menunjang aktivitas manusia.

3. Milik Orang Yang Melakukan Akad

Yang dimaksud dengan hal ini, dimana setiap orang yang melakukan perjanjian jual beli merupakan pemilik sah barang atau dengan kata lain telah mendapat izin dari pemilik sah dari barang.

4. Mampu Menyerahkan

Arti dari hal ini, dimana penjual baik sebagai pemilik ataupun sebagai kuasa dapat menyerahkan barang sebagai objek jual beli dalam bentuk dan jumlah yang diperjanjian saat penyerahan barang kepada pembeli.

5. Mengetahuinya

Maksud dari jenis ini melihat sendiri keadaan barang baik yang mengenai hitungan, takaran, timbangan atau berdasarkan kualitasnya. Ketika dalam melakukan suatu jual beli maka keadaan barang dan jumlah harganya tidak diketahui, sehingga dalam melakukan perjanjian jual beli tidak sah.

6. Barang Yang Diakadkan di Tangan

Berdasarkan dalam perjanjian jual beli terhadap suatu barang yang belum di tangan (tidak berada dalam penguasaan penjual) dilarang sebab barang tersebut rusak atau tidak dapat diserahkan sebagaimana yang telah diiperjanjikan.

Selain itu terdapat syarat yang paling penting lagi dalam jual beli. Menurut pandangan ulama yang mewajibkan lafal, lafal itu diwajibkan yang memenuhi syarat-syarat, yaitu sebagai berikut:

1. Keadaan ijab dan qabul berhubungan. Artinya ssalah satu dari keduanya pantas menjadi jawaban dari yang lain dan belum berselang lama.
2. Makna keduanya hendaklah sama walaupun lafal keduanya berlainan.
3. Keduanya tidak disangkutkan dengan urusan yang lain, seperti katanya, “kalau saya pergi, saya jual barang ini sekian”.
4. Tidak berwaktu, sebab jual beli berwaktu, seperti sebulan atau setahun tidak sah.

Macam-Macam Jual Beli

Terdapat banyak macam-macam jual beli dalam islam. Apabila ditinjau dari segi hukumnya, jual beli dibedakan menjadi dua macam yaitu jual beli sah menurut hukum dan jual beli batal menurut hukum.

Sedangkan apabila berdasarkan dari segi benda yang dijadikan objek dari jual beli dapat dikemukakan pendapat dari Imam Taqqiyuddin bahwa terdapat tiga macam bentuk jual beli yang dijelaskan:

  • Jual Beli benda yang kelihatan
  • Jual beli benda yang dapat disebutkan sifat-sifatnya dalam janji
  • Jual beli benda yang tidak sah.
Baca Juga  9 Pengertian Tawakal, Ciri, Dalil Doa Tawakal, Hikmah & Manfaat Tawakal

Macam-Macam Jual Beli Berdasarkan Pertukaran

Berdasarkan dari pertukaran menurut Wahbah Az-Zuhaili (dalam Al-Fiqh al-Islami wa adillatuhu, 4/595-596) menjelaskan 4 macam jenis jual beli yaitu:

1. Jual Beli Salam (pesanan)
Yang dimaksud dengan Jual beli salam adalah jual beli yang berdasarkan pesanan dengan cara menyerahkan uang muka terlebih dahulu kemudian barang diantar belakangan.

2. Jual Beli Muthlaq
Arti Jual beli muthlaq yaitu jual beli barang dengan sesuatu yang telah disepakati sebagai alat tukar.

3. Jual beli Muqayyadah (barter)
Yang dimaksud dengan arti Jual beli muqayyadah adalah jual beli yang dilakukan dengan cara saling menukar barang contohnya menukar baju dengan sepatu.

4. Jual Beli Alat Tukar Dengan Alat Tukar
Yang dimaksud dengan Jual beli alat tukar dengan alat tukar merupakan jual beli barang yang umumnya digunakan sebagai alat tukar dengan alat tukar lainnya seperti dinar dengan dirham.

Macam-Macam Jual Beli Berdasarkan Hukumnya

Berdasarkan hukumnya, terdapat 3 jenis jual beli yaitu:

1. Jual Beli Sah (halal)
Yang dimaksud dengan Jual beli sah atau shahih adalah jual beli yang memenuhi ketentuan syariat. Maksud dari hal ini dimana Hukumnya, sesuatu yang diperjualbelikan menjadi kepunyaan yang melakukan akad.

2. Jual Beli Batal (haram)
Dalam jenis jual beli ini terdapat 5 hal yang dapat dikatakan bahwa jual beli batal yaitu:

  • Jual beli dengan cara ‘Inah dan Tawarruq. Menurut Rafi’ bahwa Jual beli yang dikatakan ‘inah dijelaskan bilamana seseorang menjual barang kepada orang lain dengan pembayaran bertempo, lalu barang itu diserahkan kepada pembeli, kemudian penjual itu membeli kembali barangnya sebelum uangnya lunas dengan harga lebih rendah dari harga pertama. Sedangkan itu jika barang yang diperjualbelikan mengalami kecacatan pada saat di tangan pembeli, kemudian pembeli tersebut menjual lagi dengan harga yang lebih rendah. Hal demikian dibolehkan disebabkan berkurangnya harga sejalan dengan berkurangnya nilai barang tersebut. Transaksi ini tidak menyerupai riba. Sedangkan yang dimaksud dengan Tawarruq adalah daun. Maksud dari hal ini bahwa memperbanyak harta. Sehingga secara umum, arti dari tawarruq adalah kegiatan memperbanyak uang. Contohnya adalah ketika orang yang membeli barang lantas menjualnya kembali dengan tujuan untuk memperbanyak harta bukan karena ingin mendapatkan manfaat dari produknya. Barang yang diperdagangkannya hanyalah sebagai perantara bukan menjadi tujuan. Jual beli sistem salam (ijon) bedanya dengan kredit, kalau salam, barangnya yang diakhirkan, uangnya di depan.
  • Jual beli Sistem Salam (ijon). Maksud dari hal ini mempunyai perbedaan dengan kredit, kalau salam, barangnya yang diakhirkan, uangnya di depan.
  • Jual beli Dengan Menggabungkan Dua Penjualan (akad) Dalam dan Satu Transaksi. Yang dimaksud dengan hal ini dapat dijelaskan dengan berupa contoh seperti penjual yang berkata, “aku menjual barang ini kepadamu dengan harga 10 dinar dengan tunai atau 20 dinar secara kredit”. Selain dari pada itu, contoh lain, penjual mengatakan, “Aku menjual rumahku kepadamu dengan syarat aku memakai kendaraanmu selama 1 bulan”.
  • Jual beli Secara Paksa. Yang dimaksud dengan Jual beli dengan paksaan digolongkan dengan 2 macam bentuk : Yang pertama adalah apabila akad, terdapat suatu paksaan untuk melakukan akad. Jual beli ini adalah rusak dan dianggap tidak sah. Sedangkan yang kedua, disebabkan kondisi dililit utang atau beban yang begitu berat. Sehingga menjual apa saja yang dimiliki dengan harga rendah.
  • Jual beli sesuatu yang tidak dimiliki dan menjual sesuatu yang sudah dibeli dan belum diterima. Syarat sahnya jual beli adalah adanya penerimaan, maksudnya pembeli harus benar-benar menerima barang yang akan dibeli. Sebelum dia menerima barang tersebut maka tidak boleh dijual lagi.

3. Jual beli Fasid (rusak)
Pengertian Jual beli fasid sebagai jenis jual beli berdasarkan hukumnya yaitu jual beli yang sesuai dengan ketentuan syariat pada asalnya akan tetapi tidak sesuai dengan syariat pada sifatnya. Contoh dari jenis jual beli ini yaitu: jual beli yang dilakukan oleh orang yang mumayyiz tetapi bodoh sehingga menimbulkan pertentangan. Menurut jumhur ulama fasid (rusak) dan batal (haram) mempunyai arti yang sama.

Baca Juga  Pengertian Riba dalam Islam, Dasar Hukum Riba, Jenis & Contoh Riba

Macam-Macam Jual Beli Secara Umum

Penyampaian akad jual beli melalui perantara, utusan, tulisan atau surat menyurat serupa dengan ijab qabul dengan ucapan. Terdapat macam-macam jual beli dengan menyebutkan sifat dan jenisnya secara pesanan (inden).

1. Jual Beli Salam (Bai’ as-Salam)

Maksud dari jenis jual beli ini adalah tranksasi terhadap sesuatu yang sifatnya dalam tanggungan dengan tempo dengan harga yang diberikan secara kontan di tempat transaksi. “Ibnu Abbas berkata: Nabi Shallallaahu ‘alyhi wa Sallam datang ke Madinah dan penduduknya biasa meminjamkan buahnya untuk masa setahun dan dua tahun. Lalu beliau bersabda : “Barangsiapa meminjamkan buah maka hendaknya ia meminjamkannya dalam takaran, timbangan, dan masa tertentu. “Muttafaq Alyhi. Menurut riwayat al Bukhari:”Barangsiapa meminjamkan sesuatu.”

2. Jual Beli Istiṣna῾(Bai῾ Al-Istiṣna῾)

Yang dimaksud dengan Istiṣna῾ adalah bentuk transaksi yang mirip dengan jual beli Salām apabila dilihat dari sisi bahwa obyek (barang) yang dijual belum ada. Barang yang akan dibuat sifatnya mengikat dalam tanggungan pembuatan (penjual) saat terjadi transaksi. Tidak hanya itu, berdasarkan penjelasan fuqaha, Istiṣna῾ didefinisikan
sebagai akad meminta seseorang untuk membuat sebuah barang tertentu dalam bentuk tertentu.

Dapat diartikan sebagai akad yang dilakukan dengan seseorang untuk membuat barang tertentu dalam tanggungan. Maksudnya, akad tersebut merupakan akad membeli sesuatu yang akan dibuat oleh seseorang. Atau bahwa kebutuhan masyarakat untuk memperoleh sesuatu, sering memerlukan pihak lain untuk membuatkannya, dan hal seperti itu dapat dilakukan melalui jual beli Istiṣna῾yaitu akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli) dan penjual (pembuat)

Dasar Hukum Jual Beli

Dalam islam, Jual beli adalah akad yang dibolehkan. Hal itu dapat ditinjau dengan landasan atau sumber hukum dari Alquran, sunnah dan ijma para ulama. Dilihat dari aspek hukum, jual beli hukumnya mubah kecuali jual beli yang dilarang oleh syara’.

Dasar Hukum Jual Beli Berdasarkan Al-Qur’an

Dalam pandangan Islam khususnya jika merujuk pada Al-Qur’an, terdapat banyak ayat yang dijelaskan dalam kitab suci umat Islam seperti Al-Baqarah ayat 275 dan juga surat An-Nisa ayat 29. Adapun dasar hukum Alquran antara lain:

1. Dasar Hukum Jual Beli dalam Al-Qur’an Dalam surat Al-Baqarah ayat 275 firman Allah swt:

Artinya dari ayat Al-Baqarah ayat 275 sebagai dasar hukum jual beli :“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (QS. Al-Baqarah [2]: 275)

2. Dasar Hukum Jual Beli dalam Al-Qur’an dalam surat An-Nisa‟ ayat 29:

Artinya:“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu”. (QS. An-Nisa‟ [4]: 29).

Dasar Hukum Jual Beli Berdasarkan Sunnah

Menurut pandangan Hadis Rifa‟ah ibnu Rafi‟ yang menjelaskan bahwa “Dari Rifa‟ah ibnu Rafi‟ bahwa Nabi Muhammad saw ditanya usaha apakah yang paling baik? Nabi menjawab usaha sesorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (jujur) .(diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan dishahihkan oleh Al-Hakim)”.

Dari ayat-ayat Alquran dan hadis-hadis yang disampaikan di atas, dapat disimpulkan bahwa jual beli merupakan pekerjaan yang halal dan mulia. Hal itu apabila dilatar belakangi pelakunya dengan sifat dan sikap jujur, maka kedudukannya di akhirat nanti setara dengan para nabi, syuhada, dan shiddiqin.

Dasar Hukum Jual Beli Berdasarkan Ijma

Para ulama telah sepakat mengenai kebolehan akad jual beli. Ijma memberikan hikmah bahwa kebutuhan manusia berhubungan erat dengan sesuatu yang ada dalam kepemilikan orang lain, dan kepemilikan sesuatu itu tidak akan diberikan dengan begitu saja.

Sehingga dengan disyariatkannya jual beli tersebut adalah salah satu cara untuk merealisasikan suatu keinginan dan kebutuhan manusia, karena pada dasarnya, manusia tidak akan dapat hidup sendiri tanpa berhubungan dan bantuan orang lain.

Demikianlah informasi mengenai Pengertian Jual Beli, Syarat, Dasar Hukum & Macam-Macam Jual Beli. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Sekian dan terima kasih. Salam Berbagi Teman-Teman. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *