Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Menu

Pengertian Ikhlas, Ciri, Contoh Ikhlas & Manfaatnya dalam Kehidupan Sekitar

Pengertian Ikhlas, Ciri, Contoh Ikhlas & Manfaat dalam Kehidupan Sehari-Hari – Pengertian ikhlas secara etimologi memiliki makna adalah jujur, tulus dan rela. Sedangkan dalam bahasa Arab, pengertian ikhlas merupakan bentuk dari kata “mashdar” dari “akhlasa” yang berasal dari akar kata “khalasa“. 
Pengertian kata khalasa itu sendiri mengandung beberapa makna sesuai dengan konteks kalimatnya. Umumnya, berarti “shafaa” (jernih), “najaa wa salima” (selamat), “washala” (sampai) dan “I’tazala” (memisahkan diri). 
Atau juga dapat didefinisikan sebagai “perbaikan dan pembersihan sesuatu“. Di dalam al-Qur’an kata ikhlas dan derivasinya disebutkan sebanyak 31 kali yang tergelar dalam 30 ayat dan 18 surat. 
Secara terminologi, bahwa pengertian ikhlas secara umum adalah Ikhlas menurut istilah yaitu mengerjakan suatu pekerjaan atau kebaikan hanya berharap akan ridho Allah Swt. 
Jadi walaupun tidak mendapatkan imbalan dari seseorang, tetapi ia akan terus melakukan perbuatan kebaikan itu dan hanya mengharapkan ridho Allah Swt.

Pengertian Ikhlas Menurut Para Ahli 

Secara istilah, pengertian ikhlas memiliki makna ketika diungkapkan oleh para ulama sesuai dengan versinya masing-masing: 

1. Pengertian Ikhlas Menurut Muhammad Abduh 

Pengertian ikhlas menurut Muhammad Abduh menjelaskan bahwa definisi ikhlas adalah ikhlas beragama untuk Allah SWT. dengan selalu manghadap kepada-Nya, dan tidak mengakui kesamaan-Nya dengan makhluk apapun dan bukan dengan tujuan khusus seperti menghindarkan diri dari malapetaka atau untuk mendapatkan keuntungan serta tidak mengangkat selain dari-Nya sebagai pelindung.

2. Pengertian Ikhlas Menurut Muhammad al-Ghazali

Menurut Al-Ghazali bahwa pengertian ikhlas adalah melakukan amal kebajikan semata-mata karena Allah SWT. 

3. Pengertian Ikhlas Menurut Imam Al-Qusyairi 

Menurut Imam al-Qusyairi dalam kitab Risalatul Qusyairiyahnya (1990: 183) bahwa pengertian ikhlas berarti bermaksut menjadikan Allah SWT, sebagai satusatunya sesembahan.

4. Pengertian Ikhlas Menurut Hamka 

Menurut Hamka (1983: 95) dalam bukunya Tasawuf Modern menjelaskan bahwa pengertian Ikhlas adalah ikhlas artinya bersih, tidak ada campuran, ibarat emas; emas tulen, tidak ada campuran perak berapa persenpun. Pekerjaan yang bersih terhadap sesuatu itu dinamakan ikhlas.

5. Pengertian Ikhlas Menurut Syekh Ibn Atha’illah 

Menurut Syekh ibn Atha’illah (2012: 14) menjelaskan tentang ikhlas. Menurut Syekh ibn Atha’illah bahwa arti ikhlas adalah melakukan amal semata ditujukan kepada Allah sebagai zat yang meiliki sang hamba, dan memang dalam hal ini dikenal dengan (terdapat) berbagai tingkatan, sesuai dengan taufiq yang diberikan Allah ta’ala kepada seorang hamba.

6. Pengertian Ikhlas Menurut Ali Mahmud 

Menurut Ali Mahmud (1994: 25) bahwa pengertian ikhlas adalah meninggalkan amal karena manusia adalah “riya‟, beramal karena manusia adalah syirik, apabila Allah menyelamatkan kamu dari keduanya ialah ikhlas”.
Selain itu, Ikhlas juga dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang menyengajakan suatu perbuatan karena Allah SWT. dan mengharapkan ridha-Nya serta memurnikan dari segala macam kotoran dan godaan misalnya keinginan terhadap populeritas, pemuasan hawa nafsu, simpati orang lain, kemewahan, penyakit hati lainnya, kedudukan dan harta.
Selanjutnya, ketika ditinjau dari segi maknanya. maka arti ikhlas dalam al-Qur’an mengandung beberapa arti, yaitu : Pertama, ikhlas berarti al-ishthifaa’ (pilihan) seperti pada Q. S. Shaad [38] ayat 46-47 yang diartikan (046): 
Sesungguhnya kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat” (047): “Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.”
Sedangkan inti dari ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT. telah memilih mereka dan menjadikan mereka orang-orang yang suci. 
Tafsiran demikian juga sama yang dikemukakan oleh ash-Shaabuuni dalam tafsirnya Shafwah al-Tafaasiir, yaitu: 
Kami (Allah) istimewakan mereka dengan mendapatkan kedudukan yang tinggi yaitu dengan membuat mereka berpaling dari kehidupan duniawi dan selalu ingat kepada negeri akhirat.” 
Dengan demikian terdapat kaitan yang erat (munasabah) antara ayat 46 dengan 47, yakni ayat yang sesudahnya menafsirkan ayat yang sebelumnya. Sedangkan ikhlas memiliki arti “al khuluus min al-syawaa’ib (suci dari segala macam kotoran). 
Hal itu sebagaimana yang dijelaskan dalam dasar hukum ikhlas yang tertera dalam Q. S. an-Nahl [16] ayat 66. 
Artinya: “Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya”
Dalam ayat ini menjelaskan mengenai susu yang bersih yang terdapat di perut binatang ternak. Walaupun pada awalnya bercampur dengan darah dan kotoran. 
Kiranya hal ini dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi manusia. Makna yang sama juga terdapat dalam Q. S. az-zumar [39] : 3 walaupun dalam konteks yang berbeda
Atinya: Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya“. 
Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. 
Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. Dalam ayat tersebut dibicarakan tentang agama Allah SWT. yang bersih dari segala noda seperti syirik, bid’ah dan lain-lain. 
Selain itu, yang ketiga ikhlas memiliki arti sebagai “al-ikhtishaash (kekhususan)”, seperti yang terdapat pada Q. S. al-Baqarah [2] : 94; Q. S. al-An’am [6] : 139; Q. S. al-A’raf [7] : 32; Q.S. Yusuf [12] : 54, dan Q. S. al-Ahzab [33] : 32.
Selain itu, arti ikhlas dapat memiliki definisi sebagai “al-tauhid” (mengesakan) dan berarti “al-tathhir” (pensucian) menurut sebagian “qira’at.”

Unsur-Unsur Ikhlas

Adapun unsur-unsur ikhlas yaitu: 

1. Niat

Sesungguhnya Allah swt berfirman: “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di saat dan petang hari, sedangkan mereka menghendaki keridhaan-Nya (QS 6: 52). Dan maka niat adalah menghendaki keridhaan-Nya. 

2. Mengikhlaskan Niat 

Nabi saw. Bersabda kepada Muadz, “Ikhlaskanlah amal, maka sedikit darinya mencukupimu”.

3. Dapat Dipercaya

Demikian ini sebagai kesempurnaan ikhlas. Dalam hal ini Allah swt telah berfirman dalam (QS 33:23) yang berbunyi “Orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah” (QS 33: 23) (alGhozali, 2006: 215).
Ketahuilah, bahwa setiap sesuatu itu tergambar bahwa dicampuri oleh yang lain. Maka ketika ia suci dari campuran dan bersih daripadanya, niscaya ia dapat dinamakan: yang bersih (khalish), sedangkan sesuatu dinamakan dengan perbuatan yang suci dan bersih itu adalah ikhlas.

Ciri-Ciri Ikhlas 

Ikhlas mempunyai tanda-tanda sebagai ciri-ciri yang terlihat dalam kehidupan dan perilaku orang yang ikhlas. Demikian ini dapat dilihat olehnya dan orang lain sebagaimana yang dijelaskan Faishal bin Ali Ba‟dani diantaranya:

1. Mengharapkan Wajah Allah

Tanda terbesar orang-orang yang ikhlas adalah amal yang dilakukannya semata-mata untuk mengharapkan wajah Allah. Demikian ini bertujuan untuk mencari rampasan perang, kehormatan, pujian, atau harta duniawi yang segera sirna sebagaimana yang dijelaskan dalam Firman Allah dalam surat Al-Kahf ayat 28 yang artinya (Depag RI 2006:297)
“Dan bersabarlah kamu (Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya”. 

2. Senang Beramal Secara Sembunyi-Sembunyi

Orang-orang yang ikhlas lebih serius di dalam merahasiakan amal shalih mereka dibandingkan selain mereka di dalam merahasiakan dosa. Mereka berharap akan mendapatkan kebaikan tersebut di dalam hadist Sa‟ad R.a yang menyebutkan bahwa Allah mencintai seorang hamba yang bertakwa, kaya dan tersembunyi. 
Demikian ini merupakan petunjuk dan teladan yang nyata dari para salaf. Almaqdisi menyampaikan bahwa, “orang-orang yang banyak berbuat baik tidak mencari popularitas, tidak ingin dikenal, dan tidak melakukan hal-hal yang membuat mereka terkenal. Jika hal itu terjadi lantaran dibukakan oleh Allah, sebisa mungkin mereka lari darinya. Mereka lebih memilih tidak dikenali.

3. Batin Lebih Baik Daripada Lahir

Seorang ikhlas bukanlah untuk menampakkan keshalihan dihadapan orang lain, lalu dapat berbuat buruk saat ia hanya berdua dengan Allah. Seorang ikhlas ialah yang komitmen kepada dirinya sendiri. 
Dalam hal ini ia selalu dapat untuk menginstropeksi diri seakan-akan selalu melihat Allah. Ia selalu merasa diawasi Allah saat sendirian maupun juga di tengah keramaian. Bahkan ia tidak pernah menolah-noleh dalam istiqomahnya. Hal inilah bentuk ibadah yang paling agung.

4. Khawatir Jika Amalnya Tertolak

Sebanyak apa pun amalan yang yang telah dikerjakan orang yang ikhlas, masih saja diliputi kekhawatiran besar. Ia khawatir kalau amalnya ditolak dan tidak diterima. Sifat ini diterangkan Allah dalam surat AlMukminun ayat 60. “Dan mereka yang memberikan apa yang telah mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut, (karena mereka tahu) bahwa Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka” (Depag RI 2006: 346).
Yakni karena tahu bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan untuk dihisab, Maka mereka khawatir kalau pemberian (sedekah-sedekah) yang mereka berikan, dan amal ibadah yang mereka kerjakan itu tidak diterima Tuhan.

5. Tidak Menunggu-Nunggu Pujian Orang Lain

Apabila orang-orang yang ikhlas berbuat baik kepada sesama, apabila berupaya meringankan beban dan kesedihan orang lain, apabila tidak memandang orang itu telah berhutang budi kepadanya atau merasa lebih utama dari orang tersebut. Sebab, dalam mengerjakan demikian itu semata-mata dikarena taat kepada Allah dan ingin mendapat ridha-Nya (Al-Ba‟dani, 2008: 65).

Macam-Macam Fungsi Ikhlas 

Adapun terdapat macam-macam fungsi ikhlas yakni: 
  • Sumber Rejeki Pahala yang besar dan meraih kebaikan adalah dari keikhlasan pelakunya.
  • Ikhlas dapat menyelamatkan pelakunya dari adzab yang besar pada hari pembalasan.
  • Allah SWT akan memberi hidayah (petunjuk) sehingga tidak tersesat ke jalan yang salah.
  • Jalan Selamat di Akhirat Hanya Dapat diraih dengan ikhlas.
  • Amal ibadah kita akan diterima oleh Allah SWT.
  • Akan mendapatkan naungan dari Allah SWT di hari kiamat.
  • Kehidupan kalbu dan kebebasannya dari kesedihan di dunia ini tidak dapat direalisasikan kecuali dengan keikhlasan.
  • Membuat hidup menjadi tenang dan tenteram.
  • Mendapatkan perlindungan dari Allah SWT.
Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Sekian dan terima kasih. Salam Berbagi Teman-Teman. 

Daftar Isi

0 votes, average: 0.00 out of 5
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, average: 0.00 out of 5)
You need to be a registered member to rate this.
Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *