Menu

Pengertian Etnosentrisme, Fungsi, Tujuan Etnosentrisme & Dampaknya

Pengertian Etnosentrisme, Fungsi, Tujuan Etnosentrisme & Dampaknya Secara umum, Pengertian Etnosentrisme adalah suatu kecenderungan yang menganggap nilai – nilai dan norma – norma kebudayaannya sendiri sebagai sesuatu yang prima, terbaik, mutlak, dan dipergunakan sebagai tolok ukur untuk menilai dan membedakan dengan kebudayaan lain. 
Menurut Klop (dalam Wrench: 2006) bahwa sejarah etnosentrisme pertama kali diperkenalkan oleh William Graham Sumner tahun 1906. 
Hal itu sehingga, pengertian etnosentrisme secara etimologis berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata “ethnos” yang berarti “Negara“. Sedangkan untuk yang dimaksud dengan “kentron” yang berarti “pusat“.
Yang dimaksud dengan Etnosentrisme adalah kebiasaan kelompok yang bertujuan menganggap kebudayaan kelompoknya sebagai kebudayaan yang paling baik. 
Patut didasari bahwa seluruh kelompok memegang dan mempunyai kecenderungan dalam hal menjadi etnosentris, namun tidak semua anggota kelompok sama etnosentris.
Terdapat beberapa aspek yang dapat menyebabkan timbulnya etnosentrisme diantaranya adalah dilatar belakangi pada “perbedaan status sosial, perbedaan fisik atau biologis, perbedaan kepercayaan agama dan perbedaan norma sosial, perbedaan lingkungan atau geografis dan perbedaan kekayaan” (Ahmadi, 2007). 
Etnosentrisme tidak terpisahkan dengan apa yang disebut “stereotype“. Secara umum, pengertian Stereotype menurut Brighman (dalam Dayakisni dan Yuniardi, 2012) adalah generalisasi sikap, keyakinan, atau opini mengenai orang yang berasal dari budaya lain. 
Contohnya seperti Stereotype yang terbentuk terhadap etnik Madura yaitu di Jawa Timur orang Madura dikenal berwatak keras (Alqadri dalam Sarwono, 2007).

Pengertian Etnosentrisme Menurut Para Ahli 

Adapun pengertian etnosentrisme menurut para ahli yaitu: 

1. Pengertian Etnosentrisme Menurut Joseph A DeVito 

Menurut DeVito (2011;533).bahwa pengertian Etnosentrisme adalah kecenderungan untuk mengevaluasi nilai, kepercayaan, dan perilaku dalam kultur sendiri yang lebih baik, lebih logis, dan lebih wajar daripada kultur lain. 

2. Pengertian Etnosentrisme Menurut Alo Liliweri

Menurut Alo Liliweri (2003:138) bahwa pengertian etnosentrisme adalah paham yangsetiap penganut kebudayaan atau kelompok dalam suku bangsa menganggap lebih superior dibandingkan dengan kelompok luar. 

3. Pengertian Etnosentrisme Menurut Harris 

Menurut Harris (1985) bahwa pengertian  etnosentrisme adalah kecenderungan individu merasa kelompoknya lebih baik dibandingkan kelompok lain yang dianggap liar, inhuman, menjijikkan bakan tidak rasional. 

4. Pengertian Etnosentrisme Menurut Adorno

Dalam bukunya The Authoritarian Personality, Adorno (1950) menyampaikan bahwa pengertian etnosentrisme adalah seseorang yang cenderung kurang terpelajar, kurang bergaul, pemeluk agama yang fanatik. Dalam pendekatan ini, etnosentrisme didefinisikan terutama sebagai kesetiaan yang kuat dan tanpa kritik pada kelompok etnis atau bangsa disertai prasangka terhadap kelompok etnis dan bangsa lain. 

5. Pengertian Etnosentrisme Menurut Hammond dan Axelrod 

Menuut Hammond dan Axelrod (2006) bahwa definisi etnosnetrisme sebagai a nearly universal syndrome of discriminatory attitudes and behavior, the attitude include seing own group as virtuous and superior, one own standard of value as universal and outgroup as contemptible and inferior. 

Penyebab Munculnya Etnosentrisme 

Etnosentrisme adalah sebagai salah satu bentuk sikap, maka dapat disederhanakan bahwa pembentukan etnosentrisme sama halnya dengan pembentukan sikap. Sikap terbentuk dari adanya interaksi sosial yang dialami oleh individu. 
Maka dari itu, Gerungan (1991) menyampaikan bahwa terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan perubahan sikap ini adalah faktor internal dan eksternal individu.

a. Faktor-Faktor Internal

Pengamatan dalam komunikasi melibatkan proses pilihan di antara seluruh rangsangan objektif yang ada di luar diri individu. Pilihan tersebut berkaitan erat dengan motif-motif yang ada dalam diri individu. Selektivitas pengamatan berlangsung karena individu tidak dapat mengamati semua stimulus yang ada.

b. Faktor-Faktor Eksternal

Sikap dapat dibentuk dan diubah berdasarkan dua hal, yaitu karena interaksi kelompok dan komunikasi. 
Sedangkan menurut Triatmaja (2011) bahwa dari hasil penelitian mengenai etnosentrisme menunjukkan bahwa orang yang mempunyai pendidikan rendah mempunyai tingkat etnosentrisme yang lebih tinggi daripada yang berpendidikan tinggi.
Etnosentrsme dapat disimpulkan bahwa etnosentrisme adalah pandangaan atau paham bahwa kelompok atau kebudayaan sendiri lebih baik daripada kelompok atau kebudayaan lain. 
Serta menganggap nilai dan norma kebudayaan sendiri lebih baik dan bisa dijadikan standar bagi kebudayaan yang lain. 
Menurut Levinson (Neulip, 2006) menyebutkan dasar-dasar etnosentrisme yang terdiri dari Sikap yang meliputi stereotype negatif dan perilaku bermusuhan yang ditujukkan kepada individu di luar kelompoknya (out-group) serta stereotype positif dan bersikap tunduk dan loyal terhadap anggota sesama kelompoknya (ingroup). 
Interaksi antar kelompok maupun sesama anggota kelompok, di mana sangat menghargai hubungan hirarkis dalam kelompok namun bersifat autoritarisme dalam memandang kelompoklain, dan merasa berhak mendominasi kelompok lainya. 

Jenis-Jenis Etnosentrisme

Dalam beberapa penelitian menyebutkan bahwa etnosentrisme terbagi atas dua macam jenis yang dikenal dengan “explicit etnosentrisme” dan “implicit etnosentrisme” menurut Hooghe (2008). Maksud dari kedua macam etnosentrisme ini adalah:  
  • Explicit etnosentrisme. Yang dimaksud dengan Explicit etnosentrisme adalah seseorang bersedia untuk menunjukan stereotype negatif pada individu di luar kelompoknya. 
  • Implicit etnosentrisme. Pengertian implicit etnosentrisme adalah seseorang mengalami halangan untuk menunjukan sifat etnosentrismenya. Namun mereka tetap menolak adanya persamaan hak, adanya pemisahan dalam bidang pendidikan, perumahan, dan sikap negatif kepada kelompok lainnya (Hooghe, 2008). 
Selain itu, secara empiris menurut Hooghe (2008) bahwa macam-macam Etnosentrisme terdapat atas dua jenis yaitu Etnosentrisme Kebudayaan dan Etnosentrisme Ekonomi.
Hal itu didasari oleh Hooghe lantaran Etnosentrisme timbul karena adanya perbedaan budaya atau kebiasaan pada dua atau lebih etnik yang berinteraksi dalam suatu tempat. 
Menurut Hooghe (2008) bahwa penjelasan kedua macam ini dalam etnosentrisme yang cukup berhubungan namun dapat dibedakan secara empiris, yaitu :

a. Etnosentrisme Kebudayaan

Kepercayaan bahwa norma budaya sendiri lebih baik daripada norma kebudayaan lain. Hal ini ditujukan kepada kelompok kebudayaan lain dan mengakui bahwa daerah tersebut sebagai miliknya. Mereka biasanya menunjukkanya dengan simbol-simbol keagamaan, pakaian, atau hal lainya yang menunjukkan keberadaan mereka.

b. Etnosentrisme Ekonomi

Mereka beranggapan bahwa kelompok lain sebagai pesaing mereka dan karena itu berusaha untuk membatasi ruang ekonomi kelompok tersebut. Hal ini biasanya ditujunkan dengan mendiskriminasi para pekerja dari kelompok lain dan menolak menggunakan suatu produk yang dihasilkan oleh kelompok lain. 
Jenis-Jenis Etnosentrisme Berdasarkan Manfaatnya
Selain itu, terdapat dua macam atau dua tingkatan etnosentrisme yaitu diistilahkan “tingkat rendah” dan “tingkat tinggi“. Adapun pengertian dari keduanya yaitu: 
  • Tingkat Rendah. Yang dimaksud dengan Tingkat rendah yang dapat bermanfaat untuk perkembangan kelompok, dapat menimbulkan rasa kebangsaan, patriotisme, dan kemauan untuk berkorban.
  • Tingkat Tinggi. Sedangkan arti dari pada tingkat tinggi, etnosentrisme dapat merusak komunikasi antar budaya dan juga merendahkan kebudayaan lain. 

Dampak Etnosentrisme 

Dalam etnosentrisme terdapat dua dampak yang akan ditimbulkan yaitu dampak positif dan negatif. Maksud dari hal ini bahwa etnosentrisme kerap kali menimbulkan hal yang memberikan keuntungan dan kerugian. Adapun macam dampak yang ditimbulkan yaitu: 

Dampak Positif Etnosentrisme 

a. Meningkatkan Kesatuan, Kesetiaan dan Moral Kelompok
Sebagai suatu dampak positif yang menguntungkan dimana dalam artian bahwa bahwa kelompok-kelompok etnosentris tampak lebih bertahan dibandingkan dengan kelompok yang bersikap toleran. 
Sehingga Etnosentrisme berdampak positif dalam mengukuhkan nasionalisme dan patriotisme. Tanpa adanya etnosentrisme, tidak akan membawa kesadaran nasional yang penuh.
b. Perlindungan Terhadap Perubahan
Berkaca pada sejarah negara Jepang abad ke-19, etnosentrisme merupakan instrumen untuk menghambat masuknya unsur asing ke dalam kebudayaan. Hal itu membawa dampak kemajuan besar yang membawa pada perubahan terjadi bangsa Jepang.

Dampak Negatif Etnosentrisme

a. Dapat Menimbulkan Konflik Antar Suku
Sebagai suatu sikap yang menganggap kebudayaannya lebih baik dibandingkan yang lainnya, maka dalam perkembangan tersebut sering kali akan menimbulkan konflik yang digolongkan antara mayoritas dan minoritas. Seperti yang kerap terjadi di Indonesia.

Baca Juga  Pengertian Peran, Fungsi, Jenis Peran, Ciri, Syarat & Menurut Para Ahli
b. Terdapat Aliran Politik
Diketahui bahwa sikap yang menjadi dasar utama dari etnosentrisme. Sedangkan dalam perilaku dan komunikasi politik, itu tidak terlepas dari kondisi geografis dimana aktor bergerak. Sehingga, kerap kali unsur yang menjadi gerakan politik adalah budaya dan agama. 

Demikianlah informasi mengenai Pengertian Etnosentrisme, Fungsi, Tujuan Etnosentrisme & Dampaknya. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Sekian dan terima kasih. Salam Berbagi Teman-Teman. 

Daftar Isi

0 votes, average: 0.00 out of 5
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (0 votes, average: 0.00 out of 5)
You need to be a registered member to rate this.
Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *