Artikel Belajar dan Bermanfaat

Pengertian Antibiotik, Fungsi, Golongan & Antibiotik Menurut Para Ahli


Advertisement
Advertisement

Antibiotik - Ada banyak golongan antibiotik. Antibiotik memilki fungsi untuk menekan/menghentikan perkembangan bakteri/mikroorganisme berbahaya di dalam tubuh. Manfaat antibiotik sebagai obat seringnya dijadikan sebagai infeksi luka. 

Umumnya, manfaat Antibiotik difungsikan dalam berbagai bidang, contohnya bioteknologi, pertanian, dan kesehatan.  Dalam penggunaannya kepada manusia, jumlah masing-masing antibiotik sudah ditentukan oleh banyak dan lamanya penggunaan. Demikian ini dimaksudkan agar bakteri yang ingin dibunuh tidak menjadi kebal terhadap antibiotik yang diberikan.

Olehnya itu saat memanfaatkan atau meminum, keseluruhan dari antibiotik patut untuk dihabiskan. Fungsinya, agar bakteri tersebut tidak kebal terhadap antibiotik. 

Namun, jika hal ini tidak dilakukan maka akan membawa dampak untuk membunuh bakeri yang dapat mengakibatkan penyakit yang tidak kunjung sembuh walaupun pasien telah diberikan macam-macam obat. 

Menurut WHO (2015) bahwa bakteri yang mengalami kekebalan (bakteri resisten). kondisi demikian dimana bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik. Sehingga, antibiotik yang awalnya efektif untuk pengobatan infeksi menjadi tidak efektif lagi.

Senada dengan WHO, menurut  Menteri  Kesehatan (Menkes) Endang  Rahayu Sedyaningsih, bahwa terdapat sekitar 92 persen masyarakat Indonesia tidak memanfaatkan antibiotika secara tepat. Apabila digunakan secara tepat, antibiotic memberikan  manfaat  yang tidak perlu  dipertanyakan lagi. 

Namun akan tetapi, jika dipakai atau diresepkan secara tidak  tepat (irrational prescribing) dapat membawa kerugian yang luas dari segi kesehatan, ekonomi bahkan untuk generasi mendatang.

Pengertian Antibiotik: Apa itu Antibiotik? 

Secara etimologi pengertian Antibiotik berasal dari bahasa latin yang terdiri dari "anti" yang berarti "lawan", sedangkan "bios" berarti "hidup". Sedangkan secara terminologi definisi antibiotik adalah zat-zat yang dihasilkan oleh mikroba terutama fungi dan bakteri tanah, yang dapat menghambat pertumbuhan/membasmi mikroba jenis lain. Sedangkan toksisitasnya atau racun terhadap manusia relatif kecil.

Pengertian Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri. Antibiotik dapat bersifat bakterisid (membunuh bakteri) atau bakteriostatik (mencegah berkembangbiaknya bakteri). Pada kondisi immunocompromised (contohnya pada pasien neutropenia) atau infeksi di lokasi yang terlindung (contohnya pada cairan cerebrospinal), maka antibiotik bakterisid dapat digunakan.

Pada dasarnya istilah antibiotik mengacu kepada zat kimia yang dihasilkan oleh satu macam organisme khususnya fungi yang menghambat pertumbuhan atau dapat membunuh organisme lain. Obat pembasmi mikroba harus mempunyai sifat toksisitas selektif yang artinya dapat bersifat sangat toksik terhadap mikroba tetapi relatif tidak toksik terhadap hospes.

Pengertian Antibiotik Menurut Para Ahli

Berdasarkan pengertian dan penjelasan antibiotik diatas, terdapat beberapa definisi antibiotik menurut para ahli yakni: 

1. Pengertian Antibiotik Menurut Harmita dan Radji

Menurut Harmita dan Radji (2008) bahwa pengertian antibiotik adalah zat biokimia yang diproduksi oleh mikroorganisme, yang dalam jumlah kecik dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh pertumbuhan mikroorganisme lain 

2. Pengertian Antibiotik Menurut Goodman Gilman 

Menurut Goodman Gillman bahwa dalam arti sebenarnya, antibiotik merupakan zat anti bakteri yang diproduksi oleh berbagai spesies mikroorganisme (bakteri, jamur, dan actinomycota) yang dapat menekan pertumbuhan dan atau membunuh mikroorganisme lainnya. Penggunaan umum sering meluas kepada agen antimikroba sintetik, seperti sulfonamid dan kuinolon.

3. Pengertian Antibiotik Menurut Tjay dan Rahardja 

Menurut Tjay dan Rahadrja (2007) bahwa pengertian antibiotik adalah zat-zat kimia oleh yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri, yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman, sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil. Turunan zat-zat ini, yang dibuat secara semi-sintesis, juga termasuk kelompok ini, begitu pula senyawa sintesis dengan khasiat antibakteri.

4. Pengertian Antibiotik Menurut US National Library of Medicine

Menurut US National Library of Medicine bahwa antibiotik adalah obat-obatan yang kuat yang dapat melawan pertumbuhan bakteri dan bisa menunjang kehidupan bakteri lainnya. Antibiotik diketahui juga sebagai antibakteri yaitu jenis obat yang berfungsi untuk melawan, menghancurkan, serta memperlambat pertumbuhan bakteri.  

Sejarah Antibiotik: Asal Muasal Penggunaan Antibiotik Sebagai Obat

Awal mula Antibiotik telah dikenal sejak dulu, dengan mempratekkan fitoterapi dengan jalan coba-coba. Bagi orang hindu, pemanfaatan antibiotik dengan mengobati lepra telah digunakan yakni memanfaatkan minyak chaulmoogra. 

Sedangkan bagi orang Yunani dan Aztec (Mexico) membasmi cacing dalam usus, memanfaatkan antibiotik dengan memanfaatkan pakis pria atau filix mas dan minyak chenepodi. Lantaran orang China dan Pulai Mentawai atau dikenal Sumatera Barat sejak dahulu menggunakan jamur tertentu mengobati borok. 

Perkembangan sejarah antibiotik terus melejit, menurut Tjay dan Rahardja bahwa abad ke 16 air raksa (merkuti) telah ditemukan sebagai kemoterapetikum pertama dalam mengobati sifilis. Sedangkan di China dan Vietnam sejak dua ribu tahun lalu telah memanfaatkan tanaman qinghaosu (mengandung artemisin) untuk mengobati malaria, sedangkan suku−suku Indian di Amerika Selatan memanfaatkan kulit pohon kina. 

Hal demikian menjadi babak awal hingga penemuan antibiotik demikian diinisiasi oleh Paul Ehrlich yang disebut "Magic Bullet" untuk menangani infeksi mikroba. Barulah pada tahun 1910, ditemukan antibiotik pertama oleh Ehrlich yang dikenal Salvarsan untuk melawan syphilis. 

Penemuan Ehrlich ini diikuti oleh Alexander Fleming yang menemukan antibiotik pada tahun 1928 berupa penisilin. Penemuan penisilin ini membuka pintu dalam penemuan anbiotik selanjutnya hingga hanya memakan 7 tahun lebih dilanjutkan dengan penemuan Gerhard Domagk yang menemukan obat anti TB yang dikenal Sulfa. 

Menurut Utami (2011) bahwa pada tahun 1943, ditemukan anti TB pertama streptomycin oleh Selkman Wakzman dan Albert Schatz. Walkzman melanjutkan juga temuannya dengan memperkenalkan terminologi antibiotik. Setelah itu, berangsur-angsur kemudian antibiotik yang dikenal seperti aminogliosida, Polipeptida, rifampisin, sefalosforin, linkomisin, tetrasiklin dan makrolida. 

Dilanjutkan oleh Tjay  dan Rahardja (2010) bahwa selain sulfonamida dikembangkan kemoterapeutika sintetsis misalnya senyawa nirofuron ditahun 1944, asam nalidiksat pada tahun 1962, serta turunannya flurokuinolon pada tahun 1985, obat−obatan TBC (PAS, INH) dan obat protozoa (kloroquin, progua-nil, metronidazol, dll. Dewasa ini banyak obat antimikroba baru yang telah dikembangkan yang mampu menyembuhkan hampir semua infeksi antimikroba.

Antibiotik yang seperti yang kita ketahui saat ini berasal dari bakteri yang telah dilemahkan, tidak ada yang menduga bahwa bakteri yang telah dilemahkan tersebut dapat membunuh bakteri lain yang berkembang didalam tubuh makhluk hidup. Antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh mikroba terutama jamur, yang dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan dari mikroba lain (Nastiti, 2011). 

Namun seiring berjalannya waktu, satu demi satu bakteri mulai resisten terhadap pemberian antibiotik. Pada tahun 1950-an telah muncul jenis bakteri baru yang tidak dapat dilawan dengan penislin. Tetapi ilmuan terus menerus melakukan berbagai penelitian, sehingga antibiotik−antibiotik baru terus ditemukan. 

Antara tahun 1950 sampai 1960-an jenis bakteri yang resisten masih belum menghawatirkan, karena penemuan antibiotik baru masih bisa membasminya. Namun sejak akhir 1960-an, tidak ada lagi penemuan yang bisa diandalkan. Baru pada tahun 1999 ilmuan berhasil mengembangkan antibiotik baru, tetapi sudah semakin banyak bakteri yang resisten terhadap antibiotik (Borong, 2012).

Klasifikasi Antibiotik Menurut Mekanisme Kerja 

Antibiotik bisa diklasifikasikan atau digolongkan berdasarkan mekanisme kerjanya, yaitu:
  1. Menghambat sintesis atau merusak dinding sel bakteri, antara lain beta-laktam (penisilin, sefalosporin, monobaktam, karbapenem, inhibitor beta-laktamase), basitrasin, dan vankomisin.
  2. Memodifikasi atau menghambat sintesis protein antara lain, aminoglikosid, kloramfenikol, tetrasiklin, makrolida (eritromisin, azitromisin, klaritromisin), klindamisin, mupirosin, dan spektinomisin.
  3. Menghambat enzim-enzim esensial dalam metabolisme folat antara lain, trimetoprim dan sulfonamid.
  4. Mempengaruhi sintesis atau metabolisme asam nukleat antara lain, kuinolon, nitrofurantoin (Kemenkes, 2011).

Penggolongan Antibiotik Berdasarkan Struktur Kimia Antibiotik

Menurut Tjay dan Rahardja (2007) yang menggolongkan atau mengklasifikasikan antibiotik menurut struktur kimia antibiotik yakni: 

a. Golongan Beta-Laktam. Golongan antibiotik jenis ini terdiri dari golongan sefalosporin (sefaleksin, sefazolin, sefuroksim, sefadroksil, seftazidim), golongan monosiklik, dan golongan penisilin (penisilin, amoksisilin). Penisilin adalah suatu agen antibakterial alami yang dihasilkan dari jamur jenis Penicillium chrysognum.

b. Antibiotik Golongan Aminoglikosida. Golongan jenis Aminoglikosida sebagai antibiotik dihasilkan oleh macam-macam fungi Streptomyces dan Micromonospora. Umumnya senyawa dan turunan semi-sintesisnya memiliki kandungan 2 atau 3 gula-amino di dalam molekulnya, yang saling terikat secara glukosidis. 

Golongan ini memiliki spektrum kerjanya luas dan terdiri khususnya banyak bacilli gram-negatif. Obat ini juga aktif terhadap gonococci dan sejumlah kuman gram-positif. Aktifitasnya adalah bakterisid, berdasarkan dayanya untuk menembus dinding bakteri dan mengikat diri pada ribosom di dalam sel. Contohnya streptomisin, gentamisin, amikasin, neomisin, dan paranomisin.

c. Antibiotik Golongan Tetrasiklin. Khasiatnya memiliki sifat bakteriostatis, hanya dengan melalui injeksi intravena yang dapat dicapai kadar plasma yang bakterisid lemah. Mekanisme kerjanya didasarkan diganggunya sintesa protein kuman. 

Spektrum antibakterinya luas dan terdiri dari banyak cocci gram positif dan gram negatif serta kebanyakan bacilli. Tidak efektif Pseudomonas dan Proteus, tetapi aktif terhadap mikroba khusus Chlamydia trachomatis (penyebab penyakit mata trachoma dan penyakit kelamin), dan beberapa protozoa (amuba) lainnya. Contohnya tetrasiklin, doksisiklin, dan monosiklin.

d. Antibiotik Golongan Makrolida. bekerja bakteriostatis terhadap terutama bakteri gram-positif dan spectrum kerjanya mirip Penisilin-G. Mekanisme kerjanya melalui pengikatan reversibel pada ribosom kuman, sehingga sintesa proteinnya dirintangi. Jika digunakan terlalu lama atau sering dapat menyebabkan resistensi. Absorbinya tidak teratur, agak sering menimbulkan efek samping lambung-usus, dan waktu paruhnya singkat, maka perlu ditakarkan sampai 4x sehari.

Penggolongan Antibiotik Berdasarkan Aktivitasnya

Menurut Kee (1996) bahwa terdapat dua kategori antibiotik berdasarkan aktivitasnya antara lain: 
  • Antibiotika spektrum luas (broad spectrum). Kategori antibiotik ini contohnya tetrasiklin dan sefalosporin efektif terhadap organism baik gram positif maupun gram negatif. Antibiotik berspektrum luas umumnya digunakan untuk mengobati penyakit infeksi yang menyerang belum diidentifikasi dengan pembiakan dan sensitifitas.
  • Antibiotika spektrum sempit (narrow spectrum). Golongan ini memiliki efektifitas yang berfungsi untuk melawan satu jenis organisme. Contohnya golongan antibiotik ini adalah penisilin dan eritromisin dipakai untuk tujuan dan fungsi dalam mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram positif. Hal demikian terjadi sebabkan antibiotik berspektrum sempit memiliki sifat selektif, sehingga obat-obat ini lebih aktif dalam melawan organisme tunggal tersebut daripada antibiotik berspektrum luas.

Penggelongan Antibiotik Berdasarkan Daya Hambat 

Menurut daya hambat antibiotik, terdiri atas 2 pola hambat antibiotik terhadap kuman antara lain: 
  • Time Dependent Killing. Pada pola ini antibiotik akan menghasilkan daya bunuh maksimal jika kadarnya dipertahankan cukup lama di atas Kadar Hambat Minimal kuman. Contohnya pada antibiotik penisilin, sefalosporin, linezoid, dan eritromisin.
  • Concentration Dependent Killing. Pada pola ini antibiotik akan menghasilkan daya bunuh maksimal jika kadarnya relatif tinggi atau dalam dosis besar, tapi tidak perlu mempertahankan kadar tinggi ini dalam waktu lama. Contohnya pada antibiotik aminoglikosida, fluorokuinolon, dan ketolide. 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Antibiotik

Penggunaan antibiotic mempunyai faktor-faktor yang menjadi pertimbangkan. Demikian faktor inilah yang menentukan penggunaan obat oleh pembuat resep dapat dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut: 

1. Tingkat Pengetahuan Tentang Penggunaan Antibiotik

Apabila memiliki pengetahuan terhadap penggunaan antibiotic yang rendah maka dapat berakibat meningkatknya potensi salah diagnosis. Bukan cuma itu mengalami kesulitan dalam membedakan apakah infeksi bakterial atau virus. 

2. Ketersedian Sarana Diagnostic

Faktor selanjutnya adalah dengan menggunakan sarana diagnostik sebagai alat penunjang dapat berguna dan berfungsi dalam meningkatkan ketepatan diagnosis.

3. Promosi Obat

Promosi obat dapat memengaruhi penggunaan antibiotik karena sering pihak farmasi memberikan insentif terhadap penggunaan antibiotik tertentu sehingga mempengaruhi dalam pemilihan antibiotik itu sendiri.

4. Faktor Permintaan Pasien

Faktor selanjutnya dalam menggunakan antibiotik bilamana Pasien dapat memengaruhi dalam penggunaan antibiotik. Namun, tidak sebesar dalam pembuat resep.

5. Ketersediaan Obat

Keterbatasan sediaan obat dapat mempengaruhi penggunaan antibiotik yang seharusnya diberikan dokter kepada pasien yang mungkin kurang tepat atau lebih toksik jika dibandingkan obat pilihan pertama. Namun, ketersediaan yang berlimpah justru akan meningkatkan biaya pengeluaran dan kurang bermanfaat.

6. Tingkat dan Frekuensi Supefisi

Pengawasan oleh atasan dapat meningkatkan rasionalitas penggunaan antibiotik atau sebaliknya, dapat terjadi pemberian antibiotik yang kurang atau berlebihan akibat kekhawatiran pembuat resep.

Efek Samping Pengguna Antibiotik 

Selain bermanfaat dalam mencegah dan menghambat bakteri atau mikroorganisme, penggunaan antibiotik juga memiliki efek samping. Hal itu terjadi ketika antibiotik tanpa resep dokter atau dengan dosis yang tidak tepat dapat menggagalkan pengobatan dan menimbulkan bahaya-bahaya lain diantaranya: 

1. Sensitasi/Hipersensitif

Banyak obat setelah digunakan secara lokal dapat mengakibatkan kepekaan yang berlebihan, kalau obat yang sama kemudian diberikan secara oral atau suntikan maka ada kemungkinan terjadi reaksi hipersensitif atau alergi seperti gatal pada kulit kemerah-merahan, bentol, atau yang lebih hebat si penderita bisa syok, contoh antibiotiknya Penicillin dan Kloramfenikol. Guna mencegah bahaya ini sebaiknya salep-salep yang menggunakan antibiotic tidak diberikan secara Sistemis (oral dan suntikan).

2. Resistensi

Adalah jika obat yang pernah digunakan akan tetapi efek yang diinginkan sudah tidak mempan lagi bagi si penyakit (sudah kebal) atau si penyakit telah menjadi kuat. Penyebabnya adalah karena kita meminum obat tidak sampai habis terutama antibiotik, harus dihabiskan. 

Kalau tidak atau kita meminumnya hanya besok iya besoknya lagi tidak, maka si bakteri yang ada didalam tubuh kita akan kebal jadinya terhadap antibiotik yang kita minum. Bila tidak ingin terjadi resistensi dalam tubuh anda, sebaiknya untuk obat antibiotik dihabiskan dan bila sudah terlanjur terjadi resistensi silahkan ke dokter untuk meminta dosis antibiotik anda dinaikkan, kalau tidak makan tidak akan sembuh benar.

Antibiotik - Ada banyak golongan antibiotik. Antibiotik memilki fungsi untuk menekan/menghentikan perkembangan bakteri/mikroorganisme berbahaya di dalam tubuh. Manfaat antibiotik sebagai obat seringnya dijadikan sebagai infeksi luka.  Umumnya, manfaat Antibiotik difungsikan dalam berbagai bidang, contohnya bioteknologi, pertanian, dan kesehatan.  Dalam penggunaannya kepada manusia, jumlah masing-masing antibiotik sudah ditentukan oleh banyak dan lamanya penggunaan. Demikian ini dimaksudkan agar bakteri yang ingin dibunuh tidak menjadi kebal terhadap antibiotik yang diberikan. Olehnya itu saat memanfaatkan atau meminum, keseluruhan dari antibiotik patut untuk dihabiskan. Fungsinya, agar bakteri tersebut tidak kebal terhadap antibiotik.  Namun, jika hal ini tidak dilakukan maka akan membawa dampak untuk membunuh bakeri yang dapat mengakibatkan penyakit yang tidak kunjung sembuh walaupun pasien telah diberikan macam-macam obat.  Menurut WHO (2015) bahwa bakteri yang mengalami kekebalan (bakteri resisten). kondisi demikian dimana bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik. Sehingga, antibiotik yang awalnya efektif untuk pengobatan infeksi menjadi tidak efektif lagi. Senada dengan WHO, menurut  Menteri  Kesehatan (Menkes) Endang  Rahayu Sedyaningsih, bahwa terdapat sekitar 92 persen masyarakat Indonesia tidak memanfaatkan antibiotika secara tepat. Apabila digunakan secara tepat, antibiotic memberikan  manfaat  yang tidak perlu  dipertanyakan lagi.  Namun akan tetapi, jika dipakai atau diresepkan secara tidak  tepat (irrational prescribing) dapat membawa kerugian yang luas dari segi kesehatan, ekonomi bahkan untuk generasi mendatang.  Pengertian Antibiotik: Apa itu Antibiotik?  Secara etimologi pengertian Antibiotik berasal dari bahasa latin yang terdiri dari "anti" yang berarti "lawan", sedangkan "bios" berarti "hidup". Sedangkan secara terminologi definisi antibiotik adalah zat-zat yang dihasilkan oleh mikroba terutama fungi dan bakteri tanah, yang dapat menghambat pertumbuhan/membasmi mikroba jenis lain. Sedangkan toksisitasnya atau racun terhadap manusia relatif kecil. Pengertian Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri. Antibiotik dapat bersifat bakterisid (membunuh bakteri) atau bakteriostatik (mencegah berkembangbiaknya bakteri). Pada kondisi immunocompromised (contohnya pada pasien neutropenia) atau infeksi di lokasi yang terlindung (contohnya pada cairan cerebrospinal), maka antibiotik bakterisid dapat digunakan. Pada dasarnya istilah antibiotik mengacu kepada zat kimia yang dihasilkan oleh satu macam organisme khususnya fungi yang menghambat pertumbuhan atau dapat membunuh organisme lain. Obat pembasmi mikroba harus mempunyai sifat toksisitas selektif yang artinya dapat bersifat sangat toksik terhadap mikroba tetapi relatif tidak toksik terhadap hospes. Pengertian Antibiotik Menurut Para Ahli Berdasarkan pengertian dan penjelasan antibiotik diatas, terdapat beberapa definisi antibiotik menurut para ahli yakni:  1. Pengertian Antibiotik Menurut Harmita dan Radji Menurut Harmita dan Radji (2008) bahwa pengertian antibiotik adalah zat biokimia yang diproduksi oleh mikroorganisme, yang dalam jumlah kecik dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh pertumbuhan mikroorganisme lain  2. Pengertian Antibiotik Menurut Goodman Gilman  Menurut Goodman Gillman bahwa dalam arti sebenarnya, antibiotik merupakan zat anti bakteri yang diproduksi oleh berbagai spesies mikroorganisme (bakteri, jamur, dan actinomycota) yang dapat menekan pertumbuhan dan atau membunuh mikroorganisme lainnya. Penggunaan umum sering meluas kepada agen antimikroba sintetik, seperti sulfonamid dan kuinolon. 3. Pengertian Antibiotik Menurut Tjay dan Rahardja  Menurut Tjay dan Rahadrja (2007) bahwa pengertian antibiotik adalah zat-zat kimia oleh yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri, yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman, sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil. Turunan zat-zat ini, yang dibuat secara semi-sintesis, juga termasuk kelompok ini, begitu pula senyawa sintesis dengan khasiat antibakteri. 4. Pengertian Antibiotik Menurut US National Library of Medicine Menurut US National Library of Medicine bahwa antibiotik adalah obat-obatan yang kuat yang dapat melawan pertumbuhan bakteri dan bisa menunjang kehidupan bakteri lainnya. Antibiotik diketahui juga sebagai antibakteri yaitu jenis obat yang berfungsi untuk melawan, menghancurkan, serta memperlambat pertumbuhan bakteri.   Sejarah Antibiotik: Asal Muasal Penggunaan Antibiotik Sebagai Obat Awal mula Antibiotik telah dikenal sejak dulu, dengan mempratekkan fitoterapi dengan jalan coba-coba. Bagi orang hindu, pemanfaatan antibiotik dengan mengobati lepra telah digunakan yakni memanfaatkan minyak chaulmoogra.  Sedangkan bagi orang Yunani dan Aztec (Mexico) membasmi cacing dalam usus, memanfaatkan antibiotik dengan memanfaatkan pakis pria atau filix mas dan minyak chenepodi. Lantaran orang China dan Pulai Mentawai atau dikenal Sumatera Barat sejak dahulu menggunakan jamur tertentu mengobati borok.  Perkembangan sejarah antibiotik terus melejit, menurut Tjay dan Rahardja bahwa abad ke 16 air raksa (merkuti) telah ditemukan sebagai kemoterapetikum pertama dalam mengobati sifilis. Sedangkan di China dan Vietnam sejak dua ribu tahun lalu telah memanfaatkan tanaman qinghaosu (mengandung artemisin) untuk mengobati malaria, sedangkan suku−suku Indian di Amerika Selatan memanfaatkan kulit pohon kina.  Hal demikian menjadi babak awal hingga penemuan antibiotik demikian diinisiasi oleh Paul Ehrlich yang disebut "Magic Bullet" untuk menangani infeksi mikroba. Barulah pada tahun 1910, ditemukan antibiotik pertama oleh Ehrlich yang dikenal Salvarsan untuk melawan syphilis.  Penemuan Ehrlich ini diikuti oleh Alexander Fleming yang menemukan antibiotik pada tahun 1928 berupa penisilin. Penemuan penisilin ini membuka pintu dalam penemuan anbiotik selanjutnya hingga hanya memakan 7 tahun lebih dilanjutkan dengan penemuan Gerhard Domagk yang menemukan obat anti TB yang dikenal Sulfa.  Menurut Utami (2011) bahwa pada tahun 1943, ditemukan anti TB pertama streptomycin oleh Selkman Wakzman dan Albert Schatz. Walkzman melanjutkan juga temuannya dengan memperkenalkan terminologi antibiotik. Setelah itu, berangsur-angsur kemudian antibiotik yang dikenal seperti aminogliosida, Polipeptida, rifampisin, sefalosforin, linkomisin, tetrasiklin dan makrolida.  Dilanjutkan oleh Tjay  dan Rahardja (2010) bahwa selain sulfonamida dikembangkan kemoterapeutika sintetsis misalnya senyawa nirofuron ditahun 1944, asam nalidiksat pada tahun 1962, serta turunannya flurokuinolon pada tahun 1985, obat−obatan TBC (PAS, INH) dan obat protozoa (kloroquin, progua-nil, metronidazol, dll. Dewasa ini banyak obat antimikroba baru yang telah dikembangkan yang mampu menyembuhkan hampir semua infeksi antimikroba. Antibiotik yang seperti yang kita ketahui saat ini berasal dari bakteri yang telah dilemahkan, tidak ada yang menduga bahwa bakteri yang telah dilemahkan tersebut dapat membunuh bakteri lain yang berkembang didalam tubuh makhluk hidup. Antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh mikroba terutama jamur, yang dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan dari mikroba lain (Nastiti, 2011).  Namun seiring berjalannya waktu, satu demi satu bakteri mulai resisten terhadap pemberian antibiotik. Pada tahun 1950-an telah muncul jenis bakteri baru yang tidak dapat dilawan dengan penislin. Tetapi ilmuan terus menerus melakukan berbagai penelitian, sehingga antibiotik−antibiotik baru terus ditemukan.  Antara tahun 1950 sampai 1960-an jenis bakteri yang resisten masih belum menghawatirkan, karena penemuan antibiotik baru masih bisa membasminya. Namun sejak akhir 1960-an, tidak ada lagi penemuan yang bisa diandalkan. Baru pada tahun 1999 ilmuan berhasil mengembangkan antibiotik baru, tetapi sudah semakin banyak bakteri yang resisten terhadap antibiotik (Borong, 2012). Klasifikasi Antibiotik Menurut Mekanisme Kerja  Antibiotik bisa diklasifikasikan atau digolongkan berdasarkan mekanisme kerjanya, yaitu: Menghambat sintesis atau merusak dinding sel bakteri, antara lain beta-laktam (penisilin, sefalosporin, monobaktam, karbapenem, inhibitor beta-laktamase), basitrasin, dan vankomisin. Memodifikasi atau menghambat sintesis protein antara lain, aminoglikosid, kloramfenikol, tetrasiklin, makrolida (eritromisin, azitromisin, klaritromisin), klindamisin, mupirosin, dan spektinomisin. Menghambat enzim-enzim esensial dalam metabolisme folat antara lain, trimetoprim dan sulfonamid. Mempengaruhi sintesis atau metabolisme asam nukleat antara lain, kuinolon, nitrofurantoin (Kemenkes, 2011). Penggolongan Antibiotik Berdasarkan Struktur Kimia Antibiotik Menurut Tjay dan Rahardja (2007) yang menggolongkan atau mengklasifikasikan antibiotik menurut struktur kimia antibiotik yakni:  a. Golongan Beta-Laktam. Golongan antibiotik jenis ini terdiri dari golongan sefalosporin (sefaleksin, sefazolin, sefuroksim, sefadroksil, seftazidim), golongan monosiklik, dan golongan penisilin (penisilin, amoksisilin). Penisilin adalah suatu agen antibakterial alami yang dihasilkan dari jamur jenis Penicillium chrysognum. b. Antibiotik Golongan Aminoglikosida. Golongan jenis Aminoglikosida sebagai antibiotik dihasilkan oleh macam-macam fungi Streptomyces dan Micromonospora. Umumnya senyawa dan turunan semi-sintesisnya memiliki kandungan 2 atau 3 gula-amino di dalam molekulnya, yang saling terikat secara glukosidis.  Golongan ini memiliki spektrum kerjanya luas dan terdiri khususnya banyak bacilli gram-negatif. Obat ini juga aktif terhadap gonococci dan sejumlah kuman gram-positif. Aktifitasnya adalah bakterisid, berdasarkan dayanya untuk menembus dinding bakteri dan mengikat diri pada ribosom di dalam sel. Contohnya streptomisin, gentamisin, amikasin, neomisin, dan paranomisin. c. Antibiotik Golongan Tetrasiklin. Khasiatnya memiliki sifat bakteriostatis, hanya dengan melalui injeksi intravena yang dapat dicapai kadar plasma yang bakterisid lemah. Mekanisme kerjanya didasarkan diganggunya sintesa protein kuman.  Spektrum antibakterinya luas dan terdiri dari banyak cocci gram positif dan gram negatif serta kebanyakan bacilli. Tidak efektif Pseudomonas dan Proteus, tetapi aktif terhadap mikroba khusus Chlamydia trachomatis (penyebab penyakit mata trachoma dan penyakit kelamin), dan beberapa protozoa (amuba) lainnya. Contohnya tetrasiklin, doksisiklin, dan monosiklin. d. Antibiotik Golongan Makrolida. bekerja bakteriostatis terhadap terutama bakteri gram-positif dan spectrum kerjanya mirip Penisilin-G. Mekanisme kerjanya melalui pengikatan reversibel pada ribosom kuman, sehingga sintesa proteinnya dirintangi. Jika digunakan terlalu lama atau sering dapat menyebabkan resistensi. Absorbinya tidak teratur, agak sering menimbulkan efek samping lambung-usus, dan waktu paruhnya singkat, maka perlu ditakarkan sampai 4x sehari. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Antibiotik Penggunaan antibiotic mempunyai faktor-faktor yang menjadi pertimbangkan. Demikian faktor inilah yang menentukan penggunaan obat oleh pembuat resep dapat dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut:  1. Tingkat Pengetahuan Tentang Penggunaan Antibiotik Apabila memiliki pengetahuan terhadap penggunaan antibiotic yang rendah maka dapat berakibat meningkatknya potensi salah diagnosis. Bukan cuma itu mengalami kesulitan dalam membedakan apakah infeksi bakterial atau virus.  2. Ketersedian Sarana Diagnostic Faktor selanjutnya adalah dengan menggunakan sarana diagnostik sebagai alat penunjang dapat berguna dan berfungsi dalam meningkatkan ketepatan diagnosis. 3. Promosi Obat Promosi obat dapat memengaruhi penggunaan antibiotik karena sering pihak farmasi memberikan insentif terhadap penggunaan antibiotik tertentu sehingga mempengaruhi dalam pemilihan antibiotik itu sendiri. 4. Faktor Permintaan Pasien Faktor selanjutnya dalam menggunakan antibiotik bilamana Pasien dapat memengaruhi dalam penggunaan antibiotik. Namun, tidak sebesar dalam pembuat resep. 5. Ketersediaan Obat Keterbatasan sediaan obat dapat mempengaruhi penggunaan antibiotik yang seharusnya diberikan dokter kepada pasien yang mungkin kurang tepat atau lebih toksik jika dibandingkan obat pilihan pertama. Namun, ketersediaan yang berlimpah justru akan meningkatkan biaya pengeluaran dan kurang bermanfaat. 6. Tingkat dan Frekuensi Supefisi Pengawasan oleh atasan dapat meningkatkan rasionalitas penggunaan antibiotik atau sebaliknya, dapat terjadi pemberian antibiotik yang kurang atau berlebihan akibat kekhawatiran pembuat resep. Penggolongan Antibiotik Berdasarkan Aktivitasnya Menurut Kee (1996) bahwa terdapat dua kategori antibiotik berdasarkan aktivitasnya antara lain:  Antibiotika spektrum luas (broad spectrum). Kategori antibiotik ini contohnya tetrasiklin dan sefalosporin efektif terhadap organism baik gram positif maupun gram negatif. Antibiotik berspektrum luas umumnya digunakan untuk mengobati penyakit infeksi yang menyerang belum diidentifikasi dengan pembiakan dan sensitifitas. Antibiotika spektrum sempit (narrow spectrum). Golongan ini memiliki efektifitas yang berfungsi untuk melawan satu jenis organisme. Contohnya golongan antibiotik ini adalah penisilin dan eritromisin dipakai untuk tujuan dan fungsi dalam mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram positif. Hal demikian terjadi sebabkan antibiotik berspektrum sempit memiliki sifat selektif, sehingga obat-obat ini lebih aktif dalam melawan organisme tunggal tersebut daripada antibiotik berspektrum luas. Penggelongan Antibiotik Berdasarkan Daya Hambat  Menurut daya hambat antibiotik, terdiri atas 2 pola hambat antibiotik terhadap kuman antara lain:  Time Dependent Killing. Pada pola ini antibiotik akan menghasilkan daya bunuh maksimal jika kadarnya dipertahankan cukup lama di atas Kadar Hambat Minimal kuman. Contohnya pada antibiotik penisilin, sefalosporin, linezoid, dan eritromisin. Concentration Dependent Killing. Pada pola ini antibiotik akan menghasilkan daya bunuh maksimal jika kadarnya relatif tinggi atau dalam dosis besar, tapi tidak perlu mempertahankan kadar tinggi ini dalam waktu lama. Contohnya pada antibiotik aminoglikosida, fluorokuinolon, dan ketolide. Efek Samping Pengguna Antibiotik  Selain bermanfaat dalam mencegah dan menghambat bakteri atau mikroorganisme, penggunaan antibiotik juga memiliki efek samping. Hal itu terjadi ketika antibiotik tanpa resep dokter atau dengan dosis yang tidak tepat dapat menggagalkan pengobatan dan menimbulkan bahaya-bahaya lain diantaranya:  1. Sensitasi/Hipersensitif Banyak obat setelah digunakan secara lokal dapat mengakibatkan kepekaan yang berlebihan, kalau obat yang sama kemudian diberikan secara oral atau suntikan maka ada kemungkinan terjadi reaksi hipersensitif atau alergi seperti gatal pada kulit kemerah-merahan, bentol, atau yang lebih hebat si penderita bisa syok, contoh antibiotiknya Penicillin dan Kloramfenikol. Guna mencegah bahaya ini sebaiknya salep-salep yang menggunakan antibiotic tidak diberikan secara Sistemis (oral dan suntikan). 2. Resistensi Adalah jika obat yang pernah digunakan akan tetapi efek yang diinginkan sudah tidak mempan lagi bagi si penyakit (sudah kebal) atau si penyakit telah menjadi kuat. Penyebabnya adalah karena kita meminum obat tidak sampai habis terutama antibiotik, harus dihabiskan.  Kalau tidak atau kita meminumnya hanya besok iya besoknya lagi tidak, maka si bakteri yang ada didalam tubuh kita akan kebal jadinya terhadap antibiotik yang kita minum. Bila tidak ingin terjadi resistensi dalam tubuh anda, sebaiknya untuk obat antibiotik dihabiskan dan bila sudah terlanjur terjadi resistensi silahkan ke dokter untuk meminta dosis antibiotik anda dinaikkan, kalau tidak makan tidak akan sembuh benar. Ilustrasi: Pengertian Antibiotik, Fungsi, Golongan & Antibiotik Menurut Para Ahli Demikian informasi mengenai Pengertian Antibiotik, Fungsi, Golongan & Antibiotik Menurut Para Ahli. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya dalam mengenai sejumlah macam-macam antbiotik saat ini sebagai pengobatan melawan bakteri atau mikrooganisme. Sekian dan terima kasih. Salam Berbagi Teman-Teman.
Ilustrasi: Pengertian Antibiotik, Fungsi, Golongan & Antibiotik Menurut Para Ahli

Demikian informasi mengenai Pengertian Antibiotik, Fungsi, Golongan & Antibiotik Menurut Para Ahli. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya dalam mengenai sejumlah macam-macam antbiotik saat ini sebagai pengobatan melawan bakteri atau mikrooganisme. Sekian dan terima kasih. Salam Berbagi Teman-Teman. 
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Pengertian Antibiotik, Fungsi, Golongan & Antibiotik Menurut Para Ahli